Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

 

PMI: Donor Darah Saat Berpuasa tidak Berbahaya

Kamis 09 May 2019 17:15 WIB

Rep: Zuli Istiqomah/ Red: Reiny Dwinanda

Petugas Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung mengambil darah dari pendonor di kantor PMI Kota Bandung, Senin (6/5).

Petugas Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung mengambil darah dari pendonor di kantor PMI Kota Bandung, Senin (6/5).

Foto: Abdan Syakura
PMI mengungkapkan waktu terbaik untuk donor darah ialah setelah Tarawih.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kebanyakan orang yang berpuasa enggan mendonorkan darahnya karena khawatir berdampak buruk pada tubuhnya. Padahal, donor darah saat berpuasa nyatanya tidak berbahaya bagi kesehatan.

"Sebetulnya donor darah pada saat puasa enggak apa-apa," kata Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kota Bandung Uke Muktimanah, di Balai Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/5).

Menurut Uke, masyarakat kebanyakan khawatir karena setelah donor darah kerap pusing. Apalagi, saat puasa tubuh cenderung kekurangan cairan. Mereka pun takut donor darah akan membuat mereka sampai harus membatalkan puasanya.

Meski demikian, Uke mengatakan, pendonor harus memastikan kondisinya dalam keadaan sehat. Dengan begitu, kondisi fisik mereka tetap optimal dan bugar meski tengah berpuasa.

"Dari segi kualitas darah, kondisi darahnya sama saja. Yang penting pendonornya sehat," tuturnya.

Uke mengungkapkan, waktu ideal untuk mendonorkan darah saat puasa adalah ketika sudah berbuka. Dengan begitu, kalaupun terasa pusing setelah menyumbangkan darah, pendonor dapat langsung mengonsumsi makanan dan minuman.

"Waktu idealnya kalau mau donor sesudah buka puasa, setelah Tarawih," ujarnya.

Uke pun mengajak masyarakat untuk tetap mendonorkan darah meskipun bulan Ramadhan. Apalagi, biasanya saat Ramadhan stok darah menurun akibat jumlah pendonor berkurang.

Menurut Uke, ada banyak manfaat positif dari donor darah. Pertama adalah sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan. Kedua, pendonor mendapatkan kepuasan psikologis karena menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

"Dari sisi kesehatan, tubuhnya bisa mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan laboratorium secara berkala, kemudian juga menjaga kesehatan jantung," ujarnya.

Uke menjelaskan, ada syarat-syarat bagi masyarakat yang ingin mendonorkan darahnya. Selain harus dalam keadaan sehat, usia yang diperbolehkan adalah antara 17 sampai 60 tahun.

Calon pendonor harus memiliki berat badan minimal 45 kilogram. Nantinya, calon pendonor akan mendapatkan pemeriksaan kesehatan oleh tim medis, mulai dari tekanan darah, denyut nadi, juga hemoglobin.

"Bagi yang berminat dapat mendatangi kantor PMI atau unit berkeliling," kata Uke.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES