Saturday, 3 Jumadil Akhir 1442 / 16 January 2021

Saturday, 3 Jumadil Akhir 1442 / 16 January 2021

Super Comeback Liverpool

Kamis 09 May 2019 09:22 WIB

Red: Budi Raharjo

Ekspresi gelandang Liverpool Georginio Wijnaldum (kanan) seusai menjebol gawang Barcelona pada leg kedua semifinal Liga Champions.

Ekspresi gelandang Liverpool Georginio Wijnaldum (kanan) seusai menjebol gawang Barcelona pada leg kedua semifinal Liga Champions.

Foto: Peter Byrne/PA via AP
Liverpool lolos ke final untuk kesembilan kalinya.

REPUBLIKA.CO.ID, LIVERPOOL -- Super comeback. Ya, Liverpool menyajikan tontonan epik bagi para pencinta sepak bola dunia ketika berhadapan dengan Barcelona di Anfield, Rabu (8/5) dini hari WIB.

The Reds menang 4-0 pada leg kedua semifinal Liga Champions di tengah defisit tiga gol pada legpertama di kandang Barcelona. Kemenangan 4-0 tersebut otomatis membawa Liverpool ke final Liga Champions musim ini. The Reds lolos ke partai pamungkas dengan agregat gol 4-3.

Mental juara dipertunjukkan para pemain Liverpool di Anfield. Misi mustahil yang diemban klub Merseyside itu berhasil dituntaskan. Pujian pun mengalir buat tim asal Inggris ini setelah mendepak Barcelona dari Liga Champions.

Gol Divock Origi pada menit ketujuh membuka harapan publik Anfield. Dua gol Giorginio Wijnaldum dalam waktu dua menit kemudian membuat the Reds makin percaya diri bermain. Kedudukan menjadi sama kuat, yakni 3-3. Tensi permainan makin tinggi di Anfield.

Origi lagi-lagi membuat para pemain, pelatih, dan suporter the Reds bersorak-sorai setelah golnya pada menit ke-79 karena Liverpool berbalik unggul 4-3 atas Barcelona. Hingga peluit panjang berbunyi papan skor tak berubah, Liverpool berhak melaju ke final yang berlangsung di Wanda Metropolitano 1 Juni mendatang.

Liverpool memang bukan kali ini saja menghadirkan keajaiban di lapangan hijau. Pada final Liga Champions 2005 me la wan AC Milan justru lebih dramatis. Liverpool tertinggal 0-3 di babak pertama oleh Milan.

Namun, di babak kedua the Reds mampu bangkit untuk menyamakan ke dudukan menjadi 3-3. Liverpool kemudian keluar sebagai kampiun setelah menang drama adu penalti dengan skor 3-2.

Perjalanan Liverpool di Liga Champions musim ini memang patut mendapatkan acungan jempol. Langkah Liverpool sebenarnya diawali dengan tantangan berat. Mereka boleh dibilang menghuni grup `neraka' bersama Paris Saint- Germain (PSG), Napoli, dan Red Star Belgrade, walaupun nama terakhir tidak masuk dalam perhitungan lawan tangguh.

Bagaimana tidak, Liverpool lolos fase grup dengan berada di peringkat kedua Grup C. Itu pun mereka hanya unggul selisih gol dari Napoli, dengan sama-sama mengoleksi sembilan angka dengan PSG berada di puncak klasemen.

Ujian Liverpool di babak 16 besar juga tidak mudah. Sebab, Liverpool harus menghadapi raksasa Jerman, Bayern Muenchen. Apalagi, pada legpertama, Muenchen mampu menahan Liverpool di Anfield tanpa gol.

Namun, lagi-lagi mereka mampu bangkit pada leg kedua dengan kemenangan 3-1. Di perempat final Liverpool sedikit bernapas lega karena berhadapan dengan lawan yang sering mereka kalahkan, yaitu FC Porto. Pada fase ini, the Reds bahkan unggul agregat 6-1.

Lolos ke semifinal, justru tantangan yang lebih berat datang. Karena Barcelona menjalani semifinal dengan meyakinkan, dengan gelar juara La Liga musim ini sudah di tangan. Bahkan, laga akhir pekan lalu mereka dengan percaya diri mengistirahatkan delapan pemainnya lawan Celta Vigo.

Namun, ternyata itu semua tak cukup membuat Barca terhindar dari kekalahan memalukan, yang merupakan keenam kalinya dalam sejarah klub. Sebab, Barca sebelumnya hanya lima kali kalah dengan selisih empat gol atau lebih.

Pelatih Liverpool Juergen Klopp seolah tak percaya timnya mampu membalik kan keadaan melawan Barcelona sekaligus lolos ke final. Klopp bahkan sampai tak bisa berkata apa-apa untuk mengekspresikan kemenangan timnya tersebut. "Dalam hidup, saya telah banyak menyaksikan pertandingan sepak bola. Namun, saya tidak ingat (ada) pertandingan seperti ini," kata Klopp dikutip dari Sky Sports.

Klopp mengatakan, untuk menang saja sudah cukup sulit. Namun, menang dengan tanpa kebobolan itu sangat luar biasa. Apalagi, lawan yang dihadapi adalah Barcelona, yang menjadi salah satu tim terbaik di dunia. Bahkan, pelatih asal Jerman itu mengaku tak tahu bagaimana anak asuhnya bisa meredam kekuatan Barca yang dikawal Lionel Messi tersebut.

Pelatih Barca Ernesto Valverde mengakui kehebatan Liverpool dan tidak perlu mencari-cari alasan atas kegagalan timnya. Menurut dia, Liverpool bermain lebih baik dibandingkan Barcelona. "Gol kedua sangat melukai kami dan (gol) ketiga langsung terjadi setelahnya. Mereka bermain baik dan kami harus mengucapkan selamat untuk mereka karena mencapai final," kata Valverde dikutip dari Marca. (eko supriyadi ed:citra listya rini)

photo
Juergen Klopp (kanan) merayakan keberhasilan Liverpool ke final Liga Champions bersama para pemainnya.

Perjalan ke Final

- Lolos sebagai runner-updari Grup C atau Grup Neraka karena berisikan Paris Saint-Germain (PSG),
Napoli, dan Red Star Belgrade.
- Mengalahkan Bayern Muenchen dengan agregat gol 3-1 pada babak 16 besar.
- Mengalahkan FC Porto dengan agregat gol 6-1 pada perempat final.
- Mengalah kan Barcelona dengan agregat gol 4-3 pada semifinal.

Catatan
- Liverpool menjadi tim Inggris kedua yang lolos ke final Liga Champions dua musim beruntun setelah
Manchester United pada 2008 dan 2009.

- Liverpool lolos ke final untuk kesembilan kalinya. Mereka hanya kalah oleh Real Madrid (16), AC
Milan (11), dan Bayern Muenchen (10).

- Liverpool menjadi tim pertama yang lolos ke final setelah tertinggal dengan skor 3 atau lebih pada
legpertama.

- Divock Origi mencetak gol pertamanya di Liga Champions. Ia menjadi pemain ke-50 yang mampu
menjebol gawang lawan di kompetisi ini. Bila digabung dengan gol di Liga Europa, ia kini sudah
menyumbang empat gol buat Liverpool.

- Sebelumnya hanya ada tiga tim yang tersingkir dari babak gugur Liga Champions setelah unggul tiga
gol atau lebih pada legpertama. Barcelona mengalaminya untuk kedua kali secara beruntun. Musim
lalu mereka unggul 4-1 pada legpertama, tapi kemudian tersingkir karena kalah 3-0 dalam pertemuan
kedua melawan AS Roma.

- Barcelona mengalami salah satu kekalahan terbesar dalam sejarahnya di Liga Champions, yakni 0-4 vs
AC Milan (1994), 0-4 vs Dynamo Kiev (1997), 0-4 vs Bayern Muenchen (2013), 0-4 vs PSG (2017), 0-4
vs Liverpool (2019).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA