Minggu, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 Januari 2020

Minggu, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 Januari 2020

BI NTB: Pertumbuhan Ekonomi NTB Kontraksi Akibat Bencana

Kamis 09 Mei 2019 06:53 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Budi Raharjo

Seorang perempuan korban gempa berada dekat tenda yang dibangun diatas bekas rumahnya yang roboh akibat gempa di Desa Dopang, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Selasa (26/3/2019).

Seorang perempuan korban gempa berada dekat tenda yang dibangun diatas bekas rumahnya yang roboh akibat gempa di Desa Dopang, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Selasa (26/3/2019).

Foto: Antara/Ahmad Subaidi
Penurunan kinerja ekspor konsentrat tembaga juga mempengaruhi perekonomian pascagempa

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Barat (NTB) Achris Sarwani mengatakan perbaikan ekonomi global lebih rendah dari perkiraan awal. Kata Achris, World Economic Outlook (WEO) memperkirakan PDB dunia pada 2019 sebesar 3,5 persen, namun pada April 2019 perkiraan diturunkan menjadi 3,3 persen.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi nasional masih di kisaran 5 persen. Achris memaparkan pada triwulan I 2019, Provinsi NTB jika dibandingkan dengan daerah lainnya di regional Bali Nusra, mencatat pertumbuhan paling rendah yaitu 2,12 persen (yoy). Sedangkan Bali dan NTT masing-masing sebesar 5,94 persen (yoy) dan 5,09 persen (yoy).

Jika dibandingkan dengan Sulawesi Tengah yang tumbuh 6,77 persen (yoy), yang juga merupakan provinsi terdampak gempa, perekonomian NTB masih tumbuh lebih rendah pada awal tahun ini.

"Memang gempa yang melanda Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa membawa pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi sejak triwulan III 2018 sehingga pada triwulan tersebut ekonomi Provinsi NTB mengalami kontraksi (menurun)," ujar Achris dalam forum bertajuk "Ngaji Bareng Pak Gubernur" di Kantor Perwakilan BI Provinsi NTB, Selasa (7/5).

Kemudian, lanjut Achris, penurunan kinerja ekspor konsentrat tembaga juga sangat mempengaruhi perekonomian pascagempa. Achris mengungkapkan, Provinsi Sulteng, meski menjadi provinsi yang juga terdampak gempa memiliki pertumbuhan ekonomi yang masih cukup kuat pada triwulan I 2019 sebesar 6,77 persen (yoy).

"Hal ini karena kinerja ekonomi Sulteng ditopang oleh daerah di luar wilayah terdampak gempa. Seperti ekspor LNG dan Gas di Luwuk, industri pengolahan nikel di Kabupaten Banggai dan perusahaan nikel serta baja di Kabupaten Morowali," ucap Achris.

Achris menyampaikan rekomendasi jangka pandek dengan meningkatkan koordinasi dan peran TPID dalam mengantisipasi periode perayaan HBKN, menjaga ketersediaan bahan bangunan dan tenaga kerja, akselerasi pembangunan hunian tetap, integrasi paket wisata dengan Bali, dan melanjutkan akselerasi belanja derah.   

"Rekomendasi jangka panjang melalui penguatan SDM untuk meningkatkan produktivitas, peningkatan daya saing ekspor non tambang, hilirisasi industri pengolahan sumber daya alam, dan industrialisasi pariwisata," kata Achris.

Gubernur NTB Zulkiflimansyah mengatakan salah satu solusi untuk meningkatkan perekonomian NTB dengan industrialisasi. "Industrialisasi harus segera hadir di Provinsi NTB. Industrialisasi memastikan penciptaan nilai tambah ekonomi sehingga mengurangi impor produk-produk yang tidak dapat dihasilkan sendiri, yang didapatkan dari luar NTB," kata Zulkieflimansyah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA