Selasa, 1 Rajab 1441 / 25 Februari 2020

Selasa, 1 Rajab 1441 / 25 Februari 2020

Perbedaan Rasial Sebabkan Kematian Terkait Kehamilan di AS

Rabu 08 Mei 2019 14:37 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Reiny Dwinanda

Ilustrasi ibu hamil.

Ilustrasi ibu hamil.

Foto: Photo by freestocks from Pexels
Kasus kematian terkait kehamilan meningkat di kalangan minoritas AS.

REPUBLIKA.CO.ID, BOSTON -- Angka kematian ibu hamil di Amerika Serikat dilaporkan meningkat di kalangan minoritas. Fakta itu terungkap dari laporan terbaru yang menyoroti perbedaan rasial dalam perawatan ibu selama dan setelah kelahiran anak.

Dilansir Associated Press, perempuan kulit hitam serta penduduk asli Amerika dan Alaska, tiga kali lebih mungkin meninggal sebelum, selama, atau setelah melahirkan. Laporan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menyimpulkan lebih dari setengah angka kematian itu sebetulnya dapat dicegah.

Meskipun kematian ini jarang terjadi, yaitu sekitar 700 kasus per tahun, angka itu telah meningkat selama beberapa dekade. "Seorang ibu Amerika masa kini 50 persen lebih mungkin meninggal saat melahirkan daripada masa ibunya dulu," kata seorang dokter kandungan Harvard Medical School, Neel Shah.

Secara terpisah, American College of Obstetricians and Gynecologists merilis pedoman baru yang mengatakan menjadi orang berkulit hitam adalah faktor risiko terbesar untuk kematian ini. Berdasarkan pedoman perawatan, ibu hamil harus menjalani evaluasi risiko jantung yang komprehensif 12 minggu setelah melahirkan, namun 40 persen di antaranya tidak datang dan salah satu kemungkinan alasannya ialah kemampuan membayar.

Dahulu, pendarahan dan infeksi menjadi penyebab utama kematian terkait kehamilan. Namun kini, masalah yang berhubungan dengan jantung menjadi pemicunya.

"Kehamilan benar-benar laksana uji stres karena darah ekstra yang dipompa jantung untuk ibu dan anak,” kata kepala panelis penyusun pedoman, Dr James Martin. Hal itu dapat mengungkapkan masalah yang sebelumnya tidak diketahui atau mengarah ke masalah kesehatan yang baru.

Laporan CDC juga menemukan, sekitar sepertiga dari kasus kematian ibu terjadi selama kehamilan. Lalu, sepertiga lainnya terjadi pada pekan pertama kelahiran. Sisanya terjadi dalam rentang satu tahun setelah melahirkan.

Meskipun demikian, secara global, angka kematian ibu turun sekitar 44 persen antara 1990 hingga 2015, menurut Organisasi Kesehatan Dunia. Tetapi, AS ketinggalan dari pencapaian ini.

Ibu meninggal dalam sekitar 17 dari 100 ribu kelahiran di AS setiap tahun. Padahal, angkanya hanya 12 per 100 ribu kelahiran pada seperempat abad yang lalu.

Faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebab adalah termasuk tingginya tingkat operasi sesar di AS. Tingkat obesitas yang meningkat--yang meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan komplikasi lainnya--juga turut berperan.

“Perempuan kulit hitam di AS sekitar tiga kali lebih mungkin meninggal karena penyebab terkait kehamilan seperti ibu lainnya, sebagian karena bias rasial yang mungkin mereka alami dalam mendapatkan perawatan dan dokter tidak mengenali faktor risiko seperti tekanan darah tinggi,”  kata presiden perhimpunan dokter kandungan, Dr Lisa Hollier.

Salah satu pasien perempuan kulit hitam, Stacy Ann Walker, yang berusia 29 tahun, sehat dan bersemangat saat mengandung anak pertamanya delapan tahun lalu.  Perempuan asal Hartford, Connecticut, itu mengatakan dokternya menepis keluhan sesak napas, kelelahan, dan bengkak di kakinya sebagai sakit dan nyeri kehamilan yang normal. 

Kenyataannya, kondisi itu mengantarkan bayinya menuju komplikasi yang mengancam jiwa. Walker kemudian menjalani operasi caesar darurat dan melahirkan bayi yang beratnya tak sampai 1,5 kg.

Cobaannya masih belum berakhir.  Setelah melahirkan, Walker mengalami masalah katup jantung dan gagal jantung, yang membuatnya harus dioperasi. “Saya tidak pernah berpikir kalau hidup saya akan berada dalam bahaya," kata Walker saat berbicara di sebuah konferensi pers yang diadakan perhimpunan ahli kandungan.

CDC mengamati sekitar 3.000 kematian terkait kehamilan dari tahun 2011 hingga 2015, menggunakan sertifikat kematian. Para peneliti juga mengamati hasil investigasi yang lebih intensif terhadap sekitar 250 kematian yang dilakukan di 13 negara bagian.

Ulasan terakhir menentukan bahwa 60 persen kematian dapat dicegah. Sering kali, tiga atau empat masalah berkontribusi pada kematian, mulai dari kesalahan dokter hingga sulitnya beberapa ibu mendapatkan hunian dan makanan sehat.

Laporan tersebut menunjukkan perlunya mendidik dokter dan pasien tentang risiko untuk ibu baru. Menurut seorang dokter dari Universitas North Carolina, Dr Alison Stuebe, berdasarkan laporan itu menunjukkan cakupan kesehatan Medicaid harus diperluas di semua negara sehingga perawatan pasca kehamilan tersedia untuk semua ibu hingga satu tahun setelah melahirkan.

“Sebagai masyarakat, kita tak memberikan perawatan yang layak dalam merawat ibu setelah bayinya lahir. Seolah bayi adalah permen dan mama adalah bungkus permen. Setelah bayi keluar dari bungkusnya, bungkusnya dibuang,” kata dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA