Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Jumlah Wisatawan Asing di Sri Lanka Turun Pascabom

Selasa 07 May 2019 16:49 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Ani Nursalikah

Seorang Muslim Sri Lanka dan putranya berjalan setelah dari pasar di Kolombo, Sri Lanka, Senin (29/4). Sri Lanka resmi melarang penggunaan cadar.

Seorang Muslim Sri Lanka dan putranya berjalan setelah dari pasar di Kolombo, Sri Lanka, Senin (29/4). Sri Lanka resmi melarang penggunaan cadar.

Foto: AP Photo/Eranga Jayawardena
Wisatawan asing banyak yang membatalkan penerbangan ke Sri Lanka.

REPUBLIKA.CO.ID, KOLOMBO -- Kedatangan wisatawan asing di Sri Lanka turun 7,5 persen pascaserangan bom pada 21 April lalu. Kepala Otoritas Pengembangan Pariwisata Sri Lanka Kishu Gomes mengatakan, para wisatawan asing banyak yang membatalkan penerbangan mereka ke Sri Lanka.

"Ini adalah dampak langsung dari serangan bom. Ada banyak pembatalan," ujar Gomes, Selasa (7/5).

Pengunjung asing pada April turun menjadi 166.975 dibandingkan dengan 180.429 pada bulan yang sama tahun lalu. Hal ini menandai kemerosotan bulanan terbesar sejak berakhirnya perang saudara satu dekade lalu.

Lebih dari 250 orang, termasuk 42 warga asing tewas, ketika terjadi serangan bom bunuh diri di tiga gereja dan tiga hotel mewah pada 21 April lalu. Pihak berwenang Sri Lanka mengatakan, pengeboman itu diyakini dilakukan oleh dua kelompok radikal domestik yakni Jamaah Tauhid Nasional (NTJ) dan Jamathei Millathu Ibrahim (JMI). ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Baca Juga

photo
Tentara Angkatan Laut Sri Lanka melakukan pemeriksaan keamanan terhadap pengendara motor di Kolombo, Sri Lanka.

Penyelidik dari delapan negara, termasuk Biro Investigasi dan Interpol Amerika Serikat (AS) membantu Sri Lanka dalam penyelidikan. Hal yang menjadi fokus adalah apakah komplotan tersebut memiliki bantuan asing, sumber pendanaan dan apakah para pembom memiliki hubungan yang kredibel dengan ISIS. Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena mengatakan kepada Reuters pada akhir pekan lalu semua indikasi menunjukkan keterlibatan ISIS.

Pemerintah Sri Lanka telah membongkar sebagian besar jaringan yang terkait serangan bom pada Ahad Paskah. Pemerintah telah menyita dan membekukan aset bernilai 40 juta dolar AS yang terkait dengan komplotan jaringan tersebut.

Plt Kepala Kepolisian Chandana Wickramaratne mengatakan, hampir seluruh tersangka dan komplotan yang terlibat dalam serangan bom pada 21 April lalu telah ditangkap. Sedangkan sebagian lainnya tewas karena merupakan pelaku bom bunuh diri.

"Ada juga dua orang di antara kelompok komplotan itu yang ahli dalam bom dan mereka berdua sudah mati sekarang. Mereka telah menyimpan bagian dari bahan peledak untuk serangan di masa depan dan kami telah menyita semua ini," kata Wickramarate.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA