Tradisi Unik Ramadhan di Mesir yang Masih Lestari Saat ini

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Nashih Nashrullah

 Senin 06 May 2019 18:38 WIB

Suasana berbuka puasa di salah satu sudut kota Mesir Foto: AP/Nasser Shiyoukhi Suasana berbuka puasa di salah satu sudut kota Mesir

Tradisi Ramadhan di Mesir berusia ratusan tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bulan Ramadhan memiliki nilai sakralitas yang sama di kalangan umat Muslim di berbagai negara. Namun, masyarakat di masing-masing wilayah yang berbeda menunjukkan semangat mereka sendiri yang unik. Ada tradisi dan kebiasaan yang tetap dilestarikan dari generasi ke generasi. 

Di negara-negara Timur Tengah dengan mayoritas Muslim, ada berbagai tradisi yang kini masih dilakukan begitu memasuki Ramadhan. Di Mesir, kegiatan menyambut Ramadhan begitu ramai. 

Anak-anak berlarian di sekitar lingkungan rumah mereka sembari mengayunkan fanoos (lentera) kecil dan menyanyikan "wahawi ya wahawi", sebuah lagu yang melegenda yang dinyanyikan saat merayakan awal Ramadhan. Orang-orang Mesir juga menghiasai rumah mereka, jalan-jalan dan lorong jalan dengan 'fawanees' (jamak dari fanoos).

Baca Juga

Mesir dikenal karena masakan mereka yang lezat. Namun sudah menjadi kebiasaan di sana, jika makanan berat disantap untuk berbuka puasa, sedangkan sahur dengan makanan ringan. 

photo
Muhammad al-Tunsi (45 tahun), seorang mesaharati (orang yang membangunkan sahur) membangunkan warga Mesir dengan drumnya untuk santap sahur di El-Moez Street, Kairo, Rabu, 15 Juni 2016.
Umumnya, keluarga dan teman berkumpul di masjid-masjid dan beribadah bersama. Seteah selesai shalat, mereka berkumpul di rumah-rumah atau di kafe-kafe di bawah cahaya dan lampu gantung sembari menikmati 'shisha' dan teh. Shisha merupakan gaya merokok tembakau ala Timteng dengan menggunakan tabung berisi air. Dalam tabung itu, tembakau dipanaskan dengan ditambahkan rasa buah-buahan.

Kebiasaan Ramadhan yang mengakar kuat di Mesir dan di sepanjang wilayah Mediterania Timur adalah 'mesaharati', yakni seorang pria yang berkeliaran di lingkungan dengan membawa drum kecil. 

Dilansir dari Arab News, Senin (6/4), mesaharati kerap membangunkan orang-orang pada satu atau dua jam sebelum sahur. Dia biasanya meneriakkan kata-kata semacam ini "Bangun yang mengantuk, nyatakan kesatuan keabadian." Mesaharati biasanya merupakan tetua lingkungan. Ia memanggil setiap tetangga dengan nama sebelum menuju lingkungan berikutnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X