Rabu, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Rabu, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Pedagang Sebut Mei Jadi Puncak Kenaikan Harga Pangan

Sabtu 04 Mei 2019 15:07 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Dwi Murdaningsih

 Harga pangan di Pasar Klojen, Kota Malang relatif stabil, Jumat (26/4).  Kenaikan harga hanya terjadi pada cabai merah.

Harga pangan di Pasar Klojen, Kota Malang relatif stabil, Jumat (26/4). Kenaikan harga hanya terjadi pada cabai merah.

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Harga pangan sudah naik sejak awal April.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menyatakan, kenaikan harga bahan makanan pada bulan April terlalu dini. Kenaikan harga yang tercermin dari lonjakan inflasi April dinilai tidak wajar sehingga pemerintah harus mengantisipasi puncak kenaikan harga pangan pada bulan Mei.

“Sejak awal April harga di pasar sudah naik, itu belum waktunya karena kenaikan permintaan tinggi itu baru dimulai hari kemarin (Jumat),” kata Mansuri kepada Republika.co.id, Sabtu (4/3).

Beberapa komoditas yang disorot Ikappi yakni bawang putih, bawang merah, daging dan telur ayam ras, serta cabai. Kelima komoditas tersebut, kata Mansuri, mengalami kenaikan harga yang tidak wajar disaat permintaan konsumen terhadap pasar tradisional masih stabil.

Sebagaimana diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laju inflasi sepanjang April 2019 naik signifikan menjadi 0,44 persen dari bulan sebelumnya yang hanya 0,11 persen. Kelompok bahan makanan menjadi mengalami inflasi hingga 1,45 persen dengan dan menyumbang terhadap inflasi nasional sebesar 0,31 persen.

Lebih rinci, komoditas yang paling menyumbang inflasi yakni bawang merah 0,13 persen dan bawang putih 0,09 persen. BPS pun meminta perhatian pemerintah untuk lebih mengawasi ketersediaan bahan makanan pada bulan ini yang bertepatan dengan Ramadhan.

Mansuri mengatakan, komoditas bawang putih saat ini yang paling menjadi perhatian publik. Ia mengatakan, harga riil bawang putih di pasar tradisional bahkan sudah mencapai Rp 65 ribu per kg. Namun, Ikappi tidak dapat menelusuri lebih lanjut terkait komoditas tersebut lantaran mayoritas stok di suplai dari pasokan impor.

Di sisi lain, Ikappi menilai, baik importir swasta bawang putih maupun pemerintah tidak dapat secara transparan menunjukkan jumlah stok bawang putih. “Saya ingat betul bulan lalu Kementerian Perdagangan menyatakan stok bawang putih masih aman untuk tiga bulan ke depan. Tapi kan tidak jelas barangnya,” ujar dia.

Selain itu, komunikasi yang tidak baik antar kementerian dan lembaga dinilai Ikappi membuat psikologi harga bahan makanan di pasar jadi tidak terkontrol.

“Koordinasi antara Bulog dan Kemendag yang tidak baik ini meragukan pasar. Padahal bulan Mei ini kebutuhan besar dimana konsumsi naik. Akan berbahaya kalau pasokan kurang,” ucapnya.

Pihaknya pun meminta agar pemerintah lebih terbuka, termasuk untuk komoditas pangan yang bersumber dari pasokan impor.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA