Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Aksi Protes di Venezuela Berlanjut, Satu Tewas

Kamis 02 May 2019 22:51 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Israr Itah

Kembang api dilempar demonstran antipemerintah Venezuela. (ilustrasi)

Kembang api dilempar demonstran antipemerintah Venezuela. (ilustrasi)

Foto: AP Photo/Ariana Cubillos
Belasan lainnya cedera akibat gas air mata serta semburan meriam air.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Aksi demonstrasi di Venezuela berlanjut pada Rabu (1/5). Seperti hari sebelumnya, aksi yang menuntut Presiden Nicolas Maduro mundur dari jabatannya berlangsung ricuh.

Dilaporkan laman BBC, Kamis (2/5), bentrokan terjadi antara massa pendukung oposisi dengan pasukan pro-pemerintah di Ibu Kota Caracas. Seorang wanita dilaporkan tewas tertembak dan belasan lainnya cedera akibat gas air mata serta semburan meriam air.

Menurut Observatory Venezuela of Social Conflict, wanita yang tewas tertembak itu berusia 27 tahun. Dia tertembak di Altamira saat berdemonstrasi bersama massa oposisi.

Baca Juga

Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido meminta agar mereka yang bertanggung jawab atas tewasnya wanita dalam aksi tersebut ditemukan. Pada Selasa (30/4), ribuan warga Venezuela turun ke jalan dan melakukan aksi demonstrasi menuntut Maduro mundur dari jabatannya. Aksi itu berlangsung setelah adanya seruan dari Guaido yang dipublikasikan melalui sebuah video di akun Twitter pribadinya.

Dalam video itu, Guaido mengklaim telah memperoleh dukungan dari militer Venezuela. Aksi demonstrasi pun berlangsung ricuh. Massa oposisi terlibat bentrok dengan pasukan keamanan. Namun hal tersebut tak mampu melengserkan Maduro dari jabatannya.

Pada Rabu lalu, Guaido mengakui bahwa aksi demonstrasi pada Selasa tak mendapat dukungan penuh dari militer. Hal itu sekaligus membantah klaim yang dia utarakan sebelumnya.

Meskipun tak mendapat banyak dukungan dari militer, Guaido mengatakan bahwa aksi demonstrasi terhadap pemerintahan Maduro tidak akan berhenti. “Kami akan terus maju dengan kekuatan lebih dari sebelumnya,” kata dia.

Guaido diketahui telah mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai presiden sementara Venezuela pada Januari lalu. Hal itu dia lakukan setelah rakyat Venezuela menggelar demonstrasi dan menuntut Maduro mundur dari jabatannya.

Dukungan dunia internasional pun terpecah kepada dua tokoh tersebut. AS, Israel, Australia, dan mayoritas negara anggota Uni Eropa membela kepemimpinan Guaido di Venezuela. Sedangkan Maduro memperoleh dukungan dari beberapa negara, antara lain Rusia, Cina, Turki, dan Kuba.

AS telah menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Caracas guna menekan pemerintahan Maduro. Sanksi AS menyebabkan Venezuela kehilangan pendapatannya, terutama dalam bidang penjualan minyak. Hal tersebut berdampak pula atas kian memburuknya situasi kemanusiaan di Venezuela.

Dalam menghadapi krisis kemanusiaan, Venezuela memperoleh bantuan dari sekutunya, terutama Rusia dan Kuba. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA