Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

 

Sambut Ramadhan, Dwiki Dharmawan Kian Giat Berdoa untuk Ibu

Kamis 02 May 2019 10:38 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Hasanul Rizqa

Musisi Dwiki Dharmawan ketika di wawancarai Republika, Jakarta, Selasa (23/4).

Musisi Dwiki Dharmawan ketika di wawancarai Republika, Jakarta, Selasa (23/4).

Foto: Republika/Prayogi
Ibunda Dwiki Dharmawan wafat kala Ramadhan beberapa tahun lalu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan merupakan saat yang dinanti-nantikan segenap Muslimin. Tak terkecuali bagi seorang pemusik Indonesia, Dwiki Dharmawan. Dia menganggap, momen jelang Ramadhan mesti dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk memperbaiki hubungan, baik itu sesama manusia maupun personal-vertikal dengan Allah SWT.

Baca Juga

Selain itu, lanjut dia, ada kebiasaan yang selalu dilakukannya dalam menyambut Ramadhan. Di antaranya, dia semakin rutin mengirimkan doa untuk almarhumah ibundanya.

Dwiki menceritakan, pada Ramadhan 2011 lalu, dia kehilangan sosok yang telah melahirkannya itu. Sang ibu berpulang ke rahmatullah di usia ke-70 tahun.  “Saat itu pada hari ke-13 bulan Ramadhan, tanggal 11 Agustus. Sampai sekarang itu masih menjadi kebiasaan (mendoakan ibu)," kata Dwiki Dharmawan saat ditemui di studionya di wilayah Bintaro, Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu.

Dia mengenang, tak lama setelah ibundanya wafat, Dwiki mengaku kesehatannya sempat menurun. Dia sangat sedih kehilangan sosok ibundanya yang sangat dicintai.

Sebagai informasi, ibunda Dwiki bertahun-tahun menjadi single parent. Sebab, suaminya atau ayahanda dari musikus jazz itu telah lebih dulu wafat 1982 silam.

Dwiki menyebut ibundanya adalah sosok yang tangguh. Meskipun ditinggal oleh sang suami, perempuan tersebut tak memilih untuk menikah lagi. “Ibunda saya tidak menikah lagi dan berjuang membesarkan anak-anaknya. Anaknya empat dan kita begitu takjub kepada beliau. Tapi Allah berkehendak lain memanggil ibunda karena sakit kanker darah,” kata Dwiki.

Sang ibunda berpulang pada saat bulan Ramadhan. Karena itu, Dwiki mengaku, sempat merasa sedih tiap kali bertemu dengan bulan suci ini. Namun, memasuki tahun ketiga pascawafatnya sang ibu, Dwiki mencoba melihat dari sudut pandang lain.

Setiap Ramadhan tiba, dia berupaya mengambil hikmah. Di antaranya dengan selalu menggiatkan diri berdoa, mengharapkan kebaikan sang ibunda di alam sana. Hal itu dia coba terapkan pula kepada keluarganya.

“Tahun pertama dan kedua memang sedih. Tapi, yang berikutnya justru saya buat untuk lebih lanjut. Ayo, kita berkirim doa untuk ibunda. Kepada anak saya, saya bilang, doakan nenek. Dari situ, jadi membuat diri bahagia setelah mengirim doa,” ujar Dwiki.

“Selain berdoa untuk diri saya sendiri, saya selalu di setiap bulan Ramadhan itu doa untuk ibunda saya itu kencang sekali. Setiap bulan Ramadhan itu saya jadi teringat beliau. Tidak habis-habisnya saya berkirim doa untuk beliau,” papar dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES