Rabu, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 Januari 2020

Rabu, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 Januari 2020

Dolar AS Menguat Terimbas Kebijakan Suku Bunga Fed

Kamis 02 Mei 2019 07:47 WIB

Red: Nidia Zuraya

Karyawan menghitung mata uang dolar Amerika Serikat di gerai penukaran mata uang asing. ilustrasi

Karyawan menghitung mata uang dolar Amerika Serikat di gerai penukaran mata uang asing. ilustrasi

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Indeks yang mengukur dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia naik 0,21 persen

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Kurs dolar naik terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu (1/5) atau Kamis (2/5) pagi WIB. Penguatan dolar AS ini terjadi setelah Ketua Federal Reserve (Fed) AS Jerome Powell mengatakan sikap kebijakan bank sentral saat ini tepat, mengurangi harapan untuk penurunan suku bunga.

Greenback berbalik naik atau rebound dari kerugian awal terkait dengan laporan yang mengecewakan pada aktivitas manufaktur Amerika Serikat. "Dolar berbalik lebih tinggi setelah Powell menunjukkan bahwa kekuatan yang membebani inflasi mungkin terbukti sementara," kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington.

"Pernyataan Ketua The Fed itu cenderung membuat nada keseluruhan The Fed hari ini lebih hawkish daripada dovish."

Pada Maret bank sentral AS itu mengisyaratkan tidak akan menaikkan suku bunga pada tahun ini. Angka domestik dan luar negeri yang suram sekarang telah memicu spekulasi para pembuat kebijakan dapat mengurangi suku bunga utama AS untuk mencegah resesi.

"Kami pikir sikap kebijakan kami sudah tepat saat ini, kami tidak melihat alasan kuat untuk memindahkannya ke arah lain," kata Powell dalam konferensi pers setelah pertemuan kebijakan dua hari The Fed.

Pada akhir perdagangan AS, indeks yang melacak dolar AS terhadap euro, yen, sterling, dan tiga mata uang lainnya naik 0,21 persen menjadi 97,679.

Suku bunga berjangka menyiratkan para pedagang sekarang melihat peluang 55 persen penurunan suku bunga Fed pada akhir tahun, turun dari 66 persen pada Selasa (30/4) sore, menurut program FedWatch CME Group.

Sebelumnya, dolar AS merosot setelah Institute for Supply Management mengatakan barometernya tentang sektor pabrik AS memburuk pada April ke level terendah 2,5 tahun. Penurunan mengejutkan diimbangi oleh laporan dari ADP bahwa perusahaan-perusahaan AS menambah 275.000 pekerja pada bulan lalu, terbesar dalam sembilan bulan.

Beberapa keuntungan dolar AS pada April datang terhadap euro, di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi zona euro.

Namun, data ekonomi zona euro yang relatif kuat pada Selasa (30/4) mendorong beberapa dana lindung nilai untuk menutup posisi jangka pendek di euro, mengangkatnya di atas 1,12 dolar AS.

Euro memperpanjang kenaikan sebelum konferensi pers Powell. Mata uang tunggal Eropa Ini mencapai tertinggi satu minggu di 1,125 dolar AS sebelum jatuh 0,21 persen menjadi 1,11925 dolar AS.

Dolar berakhir sedikit berubah pada 111,415 yen, berbalik naik dari level terendah 111 yen.

Baca Juga

sumber : Antara/Xinhua
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA