Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

 

Menyambut Ramadhan

Senin 29 Apr 2019 14:41 WIB

Rep: Irwan Kelana/ Red: Agung Sasongko

Ramadhan

Ramadhan

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Pentingnya persiapan memasuki Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) Menteng, Jakarta, menggelar Kajian Dhuha setiap Ahad pagi. Kajian Dhuha Ahad (21/4) diisi oleh dua penceramah, yakni Dr KH Tengku Zulkarnain MBA, dan Maulana Syarif Sidi Syekh Dr Yusri Rusydi Sayid Jabr Alhasani (ulama Al Azhar University, Mesir). Kajian Dhuha itu juga dihadiri oleh Ketua Dewan Pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), H M Aksa Mahmud dan para imam rawatib MASK.

Baca Juga

Dalam kesempatan tersebut, KH Tengku Zulkarnain mengupas bulan Sya'ban dan persiapan memasuki bulan ramadhan . Menurutnya, ada lima hal yang harus dilaksanakan oleh seorang Muslim setiap hari, yaitu : yang wajib, diperindah; yang sunah, diperbanyak; yang mubah, disedikitkan; yang makruh, dihentikan; dan yang haram, dijauhkan.

"Pelajaran yang dapat kita ambil setelah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh adalah diri kita tidak rakus lagi terhadap yang halal dan jijik dengan perbuatan yang haram," kata Tengku Zul karnain lewat keterangan tertulis kepada Republika, Ahad (21/4).

Pada kajian Dhuha yang kedua, Dr Yusri Rusydi Sayid Jabr Alhasani menjelaskan, makna seorang hamba. Ia mengemukakan, apabila seorang hamba sudah menyerahkan hatinya dan pasrah untuk menyerahkan segala urusannya kepada Sang Pencipta alam raya, Allah SWT akan menjawab semua doa hamba- Nya tersebut.

"Di antara pelajaran hidup yang dapat kita ambil adalah bagaimana kita pasrah dan hati kita selalu ridha terhadap ketetapan yang Allah SWT berikan kepada kita. Rezeki yang kita dapatkan, rumah yang kita miliki, keluarga yang ada, dan lain-lain," ujarnya.

Sebagaimana kisah Nabi Ibrahim AS yang dilemparkan ke dalam api oleh Raja Namruz. Ia tidak berdoa kepada Allah SWT, melainkan ia menyandarkan dirinya pasrah kepada Allah SWT yang lebih mengetahui apa yang ia tidak ketahui.

Menurut Yusri, kisah Nabi Ibrahim tersebut merupakan adab orang yang bijaksana. Dia tidak meminta kepada Allah SWT. Dia meyakini bahwa Allah SWT mengetahui apa yang ada di dalam hati karena itu tidak mampu untuk mengucapkan permohonan kepada Allah SWT.

"Apabila Allah SWT menempatkan kita pada suatu pekerjaan maka kita ha rus memaksimalkannya atas pekerjaan yang diberikan kepada kita," tuturnya.

Ia menambahkan, "apabila Allah menjadikan kita sebagai orang tua, kita harus menjadi orang tua yang baik. Apabila kita menjadi pedagang, kita sempurnakan de ngan menjadi pedagang yang jujur dan tidak mengurangi timbangan. Apabila kita selalu bersyukur terhadap nikmat yang Allah SWT berikan, Ia akan menambah nikmat-Nya kepada kita."

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA