Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Bulan Spiritual

Ahad 28 Apr 2019 14:30 WIB

Red: Elba Damhuri

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir memberikan keynote speech saat acara Festival Dialog Generasi Muslim Milenial di Jakarta, Selasa (31/7).

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir memberikan keynote speech saat acara Festival Dialog Generasi Muslim Milenial di Jakarta, Selasa (31/7).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Kesemarakan Ramadhan harus berbanding lurus dengan aktualisasi spirit kebangsaan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Haedar Nashir

Umat Islam Indonesia pada 6 Mei 2019 memasuki satu Ramadhan 1440 Hijriyah untuk berpuasa sebulan lamanya. Daur ulang ibadah Ramadhan itu terus berlangsung dalam durasi yang rutin. Setelah tahun politik yang melelahkan dan menguras energi bangsa yang luar biasa, momentum Ramadhan dapat dijadikan bulan spiritual.

Bagaimana segenap Muslim menghiasi diri dengan nilai-nilai keutamaan yang diajarkan Islam pada bulan penuh berkah itu.

Ketegangan politik yang tinggi boleh jadi meluruhkan spiritualitas. Mungkin sebagian diri tumbuh menjadi insan pemarah serta berkonsumsi hoaks, benih curiga, rasa benci, seteru, saling merendahkan, serta aura permusuhan sesama kaum seiman dan sebangsa.

Kontestasi politik menjadikan sebagian diri kehilangan keseimbangan, akal sehat, serta sikap adil dan ihsan sehingga menjadi sosok serbagarang, keras, dan sederet perangai naif. Semua memerlukan waktu jeda dan recovery untuk mengisi ulang energi spiritual keruhanian yang sempat lowbatt hampir setahun.

Insan Muslim di manapun memiliki benteng spiritual yang kokoh, yakni takwa, yang di dalamnya mengandung jiwa iman dan ihsan. Takwa itulah yang niscaya dituju dalam ibadah shaum atau puasa Ramadhan yang dibentuk tidak sekali jadi. Ibarat pepatah, nila setitik jangan merusak susu sebelanga.

Peristiwa temporal seperti kontestasi politik lima tahunan jangan sampai merusak bangunan takwa yang dibentuk setiap setahun sekali dalam Ramadhan plus ibadah ritual lainnya yang memperkaya spiritualitas setiap insan Muslim dan warga bangsa!

Spiritualitas takwa
Ramadhan menjadi momentum menghadirkan nilai-nilai Islam yang menyuarakan keselamatan, kebahagiaan, kedamaian, keadilan, cinta kasih, keramahan, kelembutan, dan nilai-nilai ihsan dalam aura takwa nan autentik.

Takwa sebagai puncak kebajikan utama dapat dijadikan energi ruhaniah melahirkan pribadi-pribadi yang berakhlak mulia dalam menebar dan mewujudkan kehidupan kolektif yang berperadaban utama sebagaimana misi kerisalahan Muhammad li-utammima makaram al-akhlaq dan menyebar rahmatan lil ‘alamin.

Risalah nabi akhir zaman itu merupakan format “keadaban takwa” atau “spiritualitas takwa” yang menjadi fondasi dan bingkai kepribadian Muslim kapan pun dan di manapun.

Pesan Islam tentang “keadaban dan spiritualitas takwa” menjadi penting dan relevan dalam dunia yang kian mengeras pada era modern ini ketika pola hidup manusia lebih banyak bertumpu pada nalar instrumental. Insan modern hanya menuruti akal praktis atau akal verbal sehingga serbagarang laksana perangai robot.

Termasuk dalam memperjuangkan “kebenaran”, yang sering kebenaran yang diperjuangkan pun bersifat verbal, instrumental, atau hitam-putih menurut ukurannya sendiri.

Apalagi, pada era post truth, ketika kebenaran dikonstruksi secara sepihak atau subjektivitas buah dari opini, prasangka, dan induksi naif untuk dipaksakan menjadi kebenaran objektif dalam logikanya sendiri.

Bagaimana dakwah Islam hadir dengan pesan-pesan akhlak mulia (al-akhlaq al-karimah) sebagai basis nilai keadaban Islam untuk menjadi model perilaku Muslim dalam seluruh dimensi kehidupan.

Tidak kecuali dalam bermedia sosial dan memanfaatkan teknologi informasi digital agar dibingkai perangai yang berpatokan benar, baik, dan patut secara muktabarat (berlaku umum) serta tidak mengembangkan sesuatu yang salah, buruk, dan tidak patut, lebih-lebih bersifat subjektif. Karakter akhlak mulia itulah yang harus membedakan Muslim dengan lainnya sebagai identitas diri yang utama.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keadaban ialah ketinggian tingkat kecerdasan lahir batin; kebaikan budi pekerti (budi bahasa dan sebagainya). Keadaban dalam Islam merupakan perwujudan akhlak dalam bentuk perangai yang beradab, mulia, dan utama, termasuk di dalamnya sopan santun dan tutur kata yang baik.

Bersikap adil dan ihsan termasuk dalam keadaban seorang Muslim (QS an-Nahl: 90), di samping sikap utama lain yang menunjukkan keagungan akhlak sebagaimana akhlak Nabi (QS al-Qalam: 4) dan uswah hasanahnya (QS al-Ahzab: 21).

Sebutlah sikap adil dan ihsan sebagai bagian penting dari elemen keadaban substantif dalam diri setiap insan Muslim. Adil sebagai pola pikir dan sikap menempatkan sesuatu pada tempatnya secara benar, sedangkan ihsan ialah perangai baik yang luhur dan melampaui.

Sikap adil merupakan kekayaan akhlak Muslim berupa perangai objektif yang melampaui meskipun terhadap musuh, lawan, dan orang yang tidak disukai sebagai wujud berperilaku takwa.

Allah mengingatkan umat Muslim untuk berbuat adil sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah maha teliti apa yang kamu kerjakan. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh (bahwa) mereka akan mendapat ampunan dan pahala yang besar. Adapun orang-orang yang kafir mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka“ (QS al-Maidah: 8-10).

Adapun ihsan ialah kebaikan utama yang melintasi. Sebagaimana diilustrasikan Nabi Muhammad tentang dua sahabat yang berjual beli tanah yang di dalamnya terdapat kandungan emas. Keduanya tidak saling mengklaim memiliki emas itu, malah sebaliknya saling melepaskan hak sehingga diputuskan hakim untuk dibagi ke hamba sahaya.

Itulah ihsan sebagai kebajikan utama, sebagaimana firman Allah yang artinya: "Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri" (QS al-Israa: 7). Allah SWT juga berfirman yang artinya: "Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan" (QS al-Qhashas: 77).

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA