Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Kim Jong-un Ingin Rusia Bantu Perbaiki Isu Semenanjung Korea

Kamis 25 Apr 2019 20:16 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bertemu di Vladivostok

Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bertemu di Vladivostok

Foto: Alexei Nikolsky, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP
Kim Jong-un bertemu Putin untuk membahas masalah semenanjung Korea.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Pemimpin tertinggi Korea Utara (Korut) Kim Jong-un melalukan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok. Selain mempererat hubungan bilateral, Kim berharap pertemuan tersebut dapat membantu memperbaiki situasi di Semenanjung Korea. 

Baca Juga

"Saya berharap pertemuan kami, Pak Presiden (Putin), akan berguna untuk memperdalam serta mengembangkan hubungan yang bersahabat dan mengakar secara tradisional antara Korut dan Rusia," kata Kim pada Kamis (25/4), dikutip laman kantor berita Rusia TASS.

Dia mengatakan situasi di Semenanjung Korea memang telah menarik perhatian dunia internasional. "Saya berharap pembicaraan kita akan menjadi peristiwa penting untuk menilai situasi bersama dan bertukar pendapat," ujarnya. 

Putin pun optimistis dapat menemukan solusi untuk menangani situasi di Semenanjung Korea. "Kita akan melakukannya," katanya merespons harapan Kim tentang akan adanya pertukaran pendapat yang substansial tentang isu tersebut. 

Pada kesempatan itu, Kim mengucapkan terima kasih kepada Putin karena telah meluangkan waktunya untuk mengagendakan pertemuan dengannya. Dia juga menyampaikan selamat atas terpilihnya kembali Putin sebagai presiden Rusia pada pemilu 2018. 

Rusia merupakan salah satu negara yang kerap menyuarakan agar sanksi internasional terhadap Korut terkait aktivitas rudal dan nuklirnya dicabut. Ia menilai, denuklirisasi Semenanjung Korea hanya mungkin dilakukan melalui diplomasi serta negosiasi. 

Pembahasan tentang sanksi pula yang menjadi ganjalan dalam pertemuan antaran Kim dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Hanoi, Vietnam, bulan lalu. Pertemuan tersebut berakhir tanpa kesepakatan apa pun. 

Hal itu disebabkan karena kedua belah pihak mempertahankan posisinya tentang penerapan sanksi. Korut, yang telah menutup beberapa situs uji coba rudal dan nuklirnya, meminta AS mencabut sebagian sanksi ekonominya. 

Namun AS tetap berkukuh tak akan mencabut sanksi apa pun kecuali Korut telah melakukan denuklirisasi menyeluruh dan terverifikasi. 

Belum ada indikasi kapan Trump dan Kim akan bertemu lagi. Namun, Gedung Putih telah menyatakan kedua negara masih berharap dapat melakukannya di masa mendatang. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA