Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

OJK: Pasar Keuangan Indonesia Menguat pada Kuartal I 2019

Rabu 24 Apr 2019 20:01 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya

Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Foto: dok. Republika
Kredit perbankan tumbuh sebesar 11,55 persen (yoy).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas dan likuiditas sektor jasa keuangan selama kuartal I 2019 dalam kondisi terjaga. Hal ini sejalan dengan penguatan kinerja intermediasi dan perbaikan profil risiko lembaga jasa keuangan.

Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan perekonomian global, terutama didorong oleh penurunan pertumbuhan di advanced economies (AE) atau negara ekonomi maju. Untuk mendorong pertumbuhan, kebijakan moneter global akan lebih akomodatif.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh The Fed maupun European Central Bank (ECB) yang mereafirmasi tidak akan menaikkan suku bunga kebijakannya pada 2019 ini. Pelonggaran kebijakan moneter di AE turut mendorong meningkatnya likuiditas ke emerging markets (EM).

Terlebih secara relatif pertumbuhan EM lebih kuat. Dalam siaran pers OJK, Rabu (24/4), IMF meningkatkan proyeksi pertumbuhan Indonesia tahun 2019 dari 5,12 persen menjadi 5,24 persen. Sejalan dengan sentimen tersebut, pasar keuangan di kuartal I 2019 terpantau menguat.

IHSG meningkat sebesar 4,43 persen (qtq) dengan investor nonresiden membukukan net buy sebesar Rp 12,1 triliun. Secara sektoral, kontributor terbesar kenaikan IHSG berasal dari sektor keuangan, infrastruktur, dan perdagangan.

Penguatan juga terjadi di pasar obligasi. Yield di pasar SBN turun di semua tenor secara rata-rata sebesar 38 bps, dengan investor nonresiden membukukan nett buy sebesar Rp 73,9 triliun. Kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan meneruskan tren pertumbuhan di kuartal I 2019.

Kredit perbankan tumbuh sebesar 11,55 persen (yoy). Sementara piutang pembiayaan tumbuh 5,17 persen (yoy), menguat dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan kredit sektor pertambangan dan konstruksi meningkat signifikan masing-masing tumbuh 31,5 persen (yoy) dan 27,1 persen (yoy).

Kredit kepada industri pengolahan, salah satu sektor dengan porsi kredit terbesar tumbuh sebesar 9,5 persen (yoy).


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA