Sunday, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Sunday, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Kasus AY, Tidak Hanya Persoalan Bullying Semata

Selasa 16 Apr 2019 14:04 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ilustrasi Bullying

Ilustrasi Bullying

Foto: MGIT3
Kasus AY merupakan satu dari sekian banyak kasus bullying yang menimpa anak Indonesia

Ramai kasus AY, remaja SMP 14 tahun asal Pontianak yang dikeroyok 12 orang siswi SMA membuat geger jagat medsos dan menjadi viral seketika. Munculah #JusticeforAudrey dan tanda tangan petisi yang angkanya mencapai hampir 4 juta orang.

Kasus Audrey yang kemudian menaikkan ajakan untuk stop bullying tentu bukan yang pertama terjadi di Indonesia. Kabar yang sama dalam dunia pendidikan alias yang pelakunya masih pelajar juga kerap terjadi.

Baca Juga

Entah antar sesama teman, kemudian yang lain malah menonton dan memvideokan tindakan asusila semacam itu. Atau juga antar sekolah atas nama solidaritas. Juga antara murid dan guru, atau sebaliknya.

Ada apa sebenarnya?

Melihat kasus-kasus semacam ini berulang dan disebabkan hal sepele, seperti perkataan yang tidak mengenakkan, permasalahan cinta, dan sebagainya, tentu harus dilihat akar masalahnya. Tak lain tak bukan adalah persoalan sistem yang makin memisahkan antara kehidupan agama (Islam) dengan kehidupan sehari-hari (duniawi). 

Islam hanya dianggap saat seseorang menghadap Tuhannya semata. Lewat ibadah ritual bernama shalat, puasa, zakat, dan yang lainnya dimana itu merupakan wilayah privat seseorang untuk habluminnallah (hubungan dengan Allah).

Sistem itulah yang sering kita sebut dengan nama sekuler. Dengan tidak dipakainya Islam dalam sistem pendidikan dan pengajaran ilmu pengetahuan, praktis yang dihasilkan adalah generasi yang pendek akal. Alih-alih berpikir sebelum bertindak. Bahkan esensi atau makna dari tindakannya sendiri saja mungkin tak paham. 

Tak heran, yang terjadi adalah aksi brutal yang sudah tidak melihat Allah sebagai saksi dari seluruh perbuatan yang kelak akan dipertanggung jawabkan. 

Sistem sekuler jugalah yang kemudian menambah daftar panjang salah gaul di kalangan remaja dewasa ini. 

Pacaran, free sex, LGBT, kumpul kebo menjadi hal yang wajar. Implikasi dari itu sudah jelas, ada rasa cemburu, iri, dsb yang juga menjadi penyebab awal kasus Audrey. Menyoal hubungan pacaran yang kemudian putus dan menjadi persoalan mantan. 

Berikutnya adalah soal pengawasan sekolah dan juga peran keluarga. Sekuat apapun sekolah dan keluarga berusaha memproteksi anak-anaknya, gelombang informasi yang multi tafsir makin kencang. Dan semuanya menganut sistem bebas. Tak boleh disangkut pautkan dengan agama, apalagi Islam.

Wahai para generasi muda, calon pemimpin masa depan, kembalilah ke jalan Islam. Jalan yang dibawa Rasulullah SAW untuk menyelamatkan umat-Nya dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang. Hanya dengan Islamlah, rahmat akan sampai ke seluruh alam. Hidup akan menjadi tenang dan mulia. 

Masih ada waktu untuk berpikir dan merenung bahwa kita butuh sistem yang lebih baik yang menerapkan Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan. Tidak saja habluminnallah (hubungan kita dengan Allah menyangkut aqidah dan ibadah ritual) dan habluminnafsi (hubungan kita dengan diri sendiri menyangkut makanan, pakaian, akhlak), tapi juga habluminannas (hubungan kita dengan sesama manusia dalam berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, dsb). 

Dengan menerapkan syariat Islam dalam kehidupan, persoalan pergaulan, pendidikan, dan juga benteng keluarga akan menjadi kokoh dan tak terulang kasus serupa Audrey terjadi lagi dan lagi. Wallahu a’lam.

Pengirim: Prita HW, fulltime mom, penulis lepas di blog pritahw.com, praktisi pendidikan di The Jannah Institute

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA