Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Terobosan Kementan untuk Mendongkrak Produksi Bawang Putih

Senin 15 Apr 2019 13:33 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nidia Zuraya

Bawang putih impor yang dijual di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Ahad (14/4).

Bawang putih impor yang dijual di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Ahad (14/4).

Foto: Republika/Imas Damayanti
Impor bawang putih terus meningkat dari tahun ke tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, pihaknya berupaya menggenjot produksi bawang putih dengan memanfaatkan lahan tanam sebesar 20 ribu hektare tahun ini. Saat ini menurutnya sudah ada 11 ribu haktare lahan tanam dari sebelumnya berkisar 1.000 hektare pada 2014.

“Jadi kita fokus di bibit dulu di penanaman yang kita targetkan. Kalau dihitung dari jumlah lahan yang tersedia sekarang dibanding 2014, naiknya bisa 2.000 persen,” kata Amran di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (15/4).

Dia menjelaskan,  saat ini telah tersedia 600 ribu hektare lahan potensial yang telah diverifikasi dapat ditanami bawang putih. Jika mengacu pada target swasembada bawang putih, kata dia, Indonesia hanya memerlukan 50 ribu lahan tanam saja. Artinya, dengan potensi lahan tanam yang tersedia, pihaknya optimistis produksi bawang putih dalam negeri dapat memenuhi kebutuhan sendiri pada 2021.

Untuk itu dia menambahkan, saat ini Kementan tengah fokus melakukan penanaman benih sehingga penanaman dapat terus meluas di lahan yang telah disediakan. Menurutnya, berdasarkan Undang Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang produsi, perkarantinaan sarana produksi, pengembangan inovasi baru, dan pengawasan pertanian, pihaknya mengaku produksi bawang putih saat ini sudah cukup baik dan mampu menekan impor.

Dia menjabarkan, pada kurun tahun 90-an, impor bawang putih terus meningkat dari tahun ke tahun. Terakhir, pada 2014, Amran menyebut kebutuhan bawang putih impor Indonesia mencapai 96 persen. Menurutnya, angka tersebut saat ini sudah menurun secara perlahan. “Berapa persennya (penurunan impor itu) pasti ada, tapi kita akan fokus ke benih saja dulu,” kata dia.

Amran menjelaskan, yang terpenting adalah peningkatan produksi secara berkelanjutan. Untuk itu pihaknya menekankan pengembangan pembibitan yang sedang dilakukan agar produksi terus dapat meningkat dan menghilangkan impor. Dia mencontohkan, beberapa komoditas pertanian yang telah berhasil melakukan ekspor dari sebelumnya selalu impor adalah jagung dan bawang merah.

“Ekspor produk pertanian kita 2013 itu ada 33 juta ton, 2018 ada 42 juta ton, naik 9 juta ton. Ini berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik),” kata dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA