Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

MUI Dorong Umat Islam Pilih Pemimpin Cerdas

Selasa 09 Apr 2019 23:02 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Andri Saubani

Pasangan Capres-Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri)-Maaruf Amin (kiri) dan nomor urut 02 Prabowo Subianto (ketiga kiri)- Sandiaga Uno (kanan) berbincang saat menghadiri Deklarasi Kampanye Damai dan Berintegritas di kawasan Monas, Jakarta, Ahad (23/9).

Pasangan Capres-Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri)-Maaruf Amin (kiri) dan nomor urut 02 Prabowo Subianto (ketiga kiri)- Sandiaga Uno (kanan) berbincang saat menghadiri Deklarasi Kampanye Damai dan Berintegritas di kawasan Monas, Jakarta, Ahad (23/9).

Foto: Antara/Muhammad Adimadja
MUI meminta umat Islam menggunakan hak pilih dengan penuh tanggung jawab.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong umat Islam Indonesia menggunakan hak pilihnya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab untuk memilih pemimpin (nashbul imam) sesuai hati nurani. Karenanya, MUI mendorong umat Islam untuk memilih pemimpin yang cerdas.

Wakil Ketua Umum MUI, KH Zainut Tauhid Sa'adi menyampaikan, MUI mendorong umat Islam memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (shiddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh). Serta mempunyai kemampuan (fathonah) dan memperjuangkan kepentingan umat Islam.

"Terkait (pemimpin yang akan menjadi) penyelenggara negara khususnya pemerintah harus memenuhi syarat, antara lain, memiliki kemampuan nalar atau kecerdasan untuk menetapkan kebijakan yang menyangkut rakyat dan kemaslahatan mereka," kata Zainut saat menyampaikan Taushiyah MUI tentang Pemilu Serentak 2019 di kantor MUI, Selasa (9/4).

Ia menambahkan, pemimpin juga harus memiliki kemampuan, ketahanan fisik dan mental dengan landasan iman dan taqwa. Sehingga bisa membuatnya mampu untuk menyelesaikan berbagai krisis dan menetapkan hukum serta kebijakan secara benar.

Wakil Ketua Umum MUI, Prof Yunahar Ilyas juga menyampaikan, MUI ingin yang terbaik karenanya MUI sudah menjelaskan bagaimana cara memilih pemimpin yang baik. Kalau menurut masyarakat kedua calon pemimpin baik, maka pilih yang paling baik. Kalau kedua calon pemimpin dianggap buruk, pilih yang lebih sedikit buruknya.

Begitu juga untuk memilih calon legislatif, MUI mempersilahkan masyarakat memilih mereka sesuai kriteria. "Seperti pemimpin yang amanah, cakap, fathonah dan aktif, tentu dalam konteks MUI memperjuangkan kepentingan Islam dan umat Islam," ujarnya.



BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA