Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Napak Tilas Andalusia (3)

Kamis 11 Apr 2019 06:03 WIB

Red: Elba Damhuri

Azyumardi Azra

Azyumardi Azra

Foto: Republika
Perjalanan napak tilas Islam di Andalusia berakhir di Granada.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Azyumardi Azra

Napak tilas Andalusia berlanjut. Setelah mengunjungi Malaga dan Sevilla, perjalanan jasmani dan rohani belum lengkap tanpa mendatangi Kordoba dan Granada. Kedua kota ini menyimpan banyak cerita dan warisan (heritage) mengenai kebangkitan dan kejayaan Islam yang kemudian mengalami kenestapaan karena perpecahan dan perkelahian sesama Muslim.

Kordoba (bahasa Arab, Qurtubah) merupakan kota tua sejak masa Romawi, yang kemudian di bawah kekuasaan Muslim berkembang pesat sampai memiliki keistimewaan tersendiri. Kini kota yang berpenduduk sekitar 350 ribu jiwa adalah ibu kota Provinsi Kordoba, yang menjadi bagian dari Komunitas Otonom Andalusia. Kordoba adalah kota ke-11 dalam hal jumlah penduduk di Spanyol dewasa ini.

Kordoba, seperti juga banyak wilayah Andalusia lain, ditaklukkan kekuasaan Islam sejak 711. Namun, berbeda dengan wilayah-wilayah lain yang dikuasai secara lokal, Kordoba sejak 716 menjadi ibu kota provinsi yang diperintah secara langsung oleh Dinasti Umayyah dari Damaskus. Namun, pada 766 Kordoba menjadi pusat kekuasaan Dinasti Umayyah Andalusia yang terpisah dari kekuasaan Umayyah di Damaskus.

Puncak kejayaan Kordoba terjadi sepanjang abad 9-10. Kota ini menjadi pusat penduduk yang datang dari banyak tempat di Semenanjung Iberia dan wilayah Eropa lainnya dan juga dari kawasan Maghrib. Hal ini terkait dengan ekonominya yang bertumbuh pesat berkat hasil pertanian dan produksi industri rumah tangga.

Didukung kekuatan ekonomi, Kordoba juga tumbuh menjadi pusat ilmu pengetahuan. Selain mendirikan banyak perpustakaan umum, penguasa Dinasti Umayyah juga mendirikan Universitas Kordoba. Banyak penuntut ilmu datang ke kota ini di mana banyak ilmuwan sumber ilmu bermukim. Kordoba menjadi kota kosmopolitan.

Menjadi saksi hidup perjalanan Islam sepanjang sejarah, Kordoba pertama-tama terkenal dengan Mezquita-Catedral de Cordoba. Ini adalah monumen unik yang mencerminkan eksistensi dan kontestasi dua agama (Islam dan Katolik) di Andalusia atau di Eropa secara keseluruhan.

Masjid Kordoba dibangun sejak 784 dalam masa kekuasaan Abdurrahman I. Dengan arsitekturnya yang grandeur, masjid ini menjadi salah satu dari empat keajaiban di Dunia Muslim. Riwayat Masjid Kordoba dengan tempat ibadah Muslim berakhir dengan tamatnya kekuasaan Muslim di Kordoba berikut reconquista balatentara koalisi Katolik pada 1236.

Meski bangunan masjid umumnya tetap dipertahankan penguasa Katolik, dia kemudian dikembangkan menjadi katedral. Bagian tertentu katedral itu sampai sekarang juga masih terus digunakan untuk kebaktian, sedangkan ibadah Islam tidak diizinkan.

Karena itulah, sejak awal 2000 pemimpin Muslim Spanyol berjuang ke pihak pemerintah dan otoritas gereja Katolik untuk mengizinkan Muslim melakukan shalat di Mezquita Kordoba. Namun, permintaan ini belum dipenuhi. Pada April 2010, dua Muslim ditahan polisi karena berusaha melaksanakan shalat di dalam masjid ini. Keduanya adalah bagian dari rombongan sekitar 114 turis Muslim Austria.

Perjalanan napak tilas Islam di Andalusia berakhir di Granada (bahasa Arab, Gharnathah), yang mungkin berarti ‘bukit orang-orang asing’. Granada disebut banyak sejarawan sebagai tempat perlindungan terakhir kaum Muslimin. Ketika satu persatu wilayah dan kota di Andalusia mengalami reconquista Katolik, banyak Muslimin mengungsi ke Granada. Akhirnya Granada pada 1492 juga jatuh ke tangan kekuasaan Katolik.

Kekuasaan Islam juga silih berganti di Keamiran Granada, mulai dari bagian wilayah Dinasti Umayyah Damaskus kemudian sejak awal abad 11 menjadi Kesultanan Berber yang merdeka dari Damaskus. Selanjutnya, Granada dikuasai Dinasti al-Murawid sejak 1090, al-Muwahid sejak 1166, dan Dinasti Nasiriyah sejak 1228.

Berada di bawah kekuasaan Muslim berbeda dari satu waktu ke waktu lain, Ibn Battutah—pengembara Muslim terkenal—sampai di Granada pada 1350. Menurut Ibn Battutah, Granada adalah negeri yang kuat dan berdikari secara ekonomi. “Granada adalah metropolis dan pengantin kota-kota Andalusia,” tulisnya.

Kini Granada (penduduk sekitar 236 ribu jiwa) adalah ibu kota Provinsi Granada di dalam Komunitas Otonom Andalusia. Tidak diketahui pasti jumlah Muslim Granada. Namun, mereka beruntung karena sejak 2003 memiliki Mezquita Mayor de Granada, setelah berjuang untuk mendapatkan izin selama 22 tahun.

Alhambra (bahasa Arab, Qalat al-Hamra, biasa diterjemahkan sebagai ‘benteng merah’) adalah salah satu warisan terbesar peradaban Islam Andalusia di Granada. Merupakan benteng dan istana, Alhambra yang terletak di atas perbukitan dibangun secara bertahap sejak 1238 sehingga akhirnya menjadi salah satu ‘keajaiban dunia’.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA