Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Survei Voxpol Sebut Jokowi-Maruf Masih Unggul

Selasa 09 Apr 2019 19:37 WIB

Red: Ratna Puspita

Direktur Eksekutif Voxpol Pangi Syarwi Chaniago memberikan penjelasan kepada wartawan di salah satu restoran di daerah Cikini, Menteng Jakarta Pusat, Selasa (9/4).

Direktur Eksekutif Voxpol Pangi Syarwi Chaniago memberikan penjelasan kepada wartawan di salah satu restoran di daerah Cikini, Menteng Jakarta Pusat, Selasa (9/4).

Foto: Republika/Riza Wahyu Pratama
Dengan keunggulan sekitar 5,4 persen, peta politik pilpres 2019 masih kompetitif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hasil survei yang dilakukan oleh Voxpol Center Research & Consulting menyebutkan elektabilitas pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin masih unggul dibandingkan pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Kendati demikian, peta politik pilpres 2019 masih kompetitif.

Baca Juga

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research & Consulting Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, masing-masing paslon masih berpeluang menang karena ada sembilan hari lagi guna mempengaruhi pilihan pemilih. "Angkanya Jokowi-Maruf unggul 48,8 persen dan Prabowo-Sandi 43,4 persen. Unggulnya, sekitar 5,4 persen," kata Pangi saat menyampaikan hasil survei terbarunya, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (9/4).

Ia menyebut jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan atau "undecided voters" sebanyak 7,9 persen. Menurutnya, terbuka peluang undecided voters untuk direbut oleh kedua paslon.

Melihat kondisi itu, Pangi menilai elektabilitas Jokowi-Ma''ruf cenderung menurun dibanding survei yang dilakukan sebelumnya. Di sisi lain, tren pemilih Prabowo-Sandi saat ini sedikit meningkat.

"Pak Jokowi itu cenderung stagnan, kali ini kalau kita lihat trennya itu turun, tapi kalau kita bicara di atas kertas itu Pak Jokowi masih unggul. Kalau bicara tren memang trennya Pak Prabowo lebih baik," ucapnya.

Pangi juga merujuk adanya efek Bradley yang berpeluang terjadi pada pemilu kali ini. Istilah efek Bradley lahir di Amerika dalam menyikapi studi pemilihan umum.

Efek Bradley dapat didefinisikan sebagai kondisi saat hasil survei tidak akurat karena ada bias identitas sosial dan umumnya terjadi dalam pemilu yang berlangsung sengit. "Di atas kertas Jokowi menang, tapi pas pemilu ada undecided voters, golput, pengaruh tokoh, itu bisa ubah semuanya," ujarnya.

Pangi mengingatkan hasil survei lembaganya bisa kembali berbeda dengan situasi saat ini. Terlebih, kampanye akbar yang masih dilakukan masing-masing paslon kian menarik untuk pilihan pemilih.

"Kalau lembaga survei bisa beda karena pengambilan survei berubah. Karena hari ini bisa beda dengan data sekarang. Apalagi sekarang ada kampanye akbar (Prabowo)," ucapnya.

Survei Voxpol kali ini dilakukan pada 18 Maret sampai 1 April 2019. Jumlah respondennya sebanyak 1.600 orang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Metodenya menggunakan multistage random sampling dengan margin of error sekitar 2,45 persen.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA