Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Peluku dan Belekok

Selasa 09 Apr 2019 06:03 WIB

Red: Elba Damhuri

Ahmad Syafii Maarif

Ahmad Syafii Maarif

Foto: Republika/Daan
Nasib peluku dan belekok akan binasa ditelan keganasan roda pembangunan kapitalis.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad syafii maarif

Desa Nogotirto, Sleman, Yogyakarta, 1 April 2019. Pada pagi itu sambil bersepeda, saya menjelajahi sebagian kawasan desa yang sudah kami tinggali sejak 1985. Area persawahan semakin menciut dari waktu ke waktu, digantikan oleh perumahan, hotel, toko, warung, dan bangunan lainnya.

Kita tidak tahu lagi, jika sawah sudah beralih fungsi, ke mana lagi para petani akan menggantungkan nasibnya? Tidak sedikit pemilik sawah di sekitar Nogotirto yang telah menjual harta pusakanya ini kepada pengembang atau kepada penawar lainnya dengan harga yang semakin menggila.

Ujungnya nanti bisa jadi anak cucu mereka sudah tidak kenal sawah lagi, sawah yang menyatu dengan kehidupan desa sejak ratusan tahun yang silam.

Di sekitar Desa Nogotirto, tidak jauh dari kantor kepala desa, masih tersisa sedikit persawahan yang subur mungkin karena pengaruh abu Gunung Merapi yang masih aktif. Pada pagi itu, tatapan saya terpanah ke sosok peluku (tukang bajak) yang sedang mengerjakan sawah untuk segera ditanami padi.

Di sekitarnya itu tampak sekitar 15 ekor belekok (burung bangau kecil warna putih, sekalipun ada warna campuran hitam atau kuning). Burung ini selalu mengikuti sang peluku untuk mengais cacing, anak katak, dan makhluk alit lainnya untuk jadi makanannya.

Suasana persahabatan antara peluku dan belekok bagi saya di usia senja ini adalah panorama yang indah mengesankan. Peluku tidak merasa terganggu oleh belekok yang berkeliaran di sekitar bajak bermersinnya, belekok pun tidak merasa terancam hidupnya kalau-kalau peluku suatu ketika menyiapkan bedil angin untuk membidiknya.

Puluhan tahun yang lalu, di sekitar persawahan Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), saya pernah pula berburu dan menangkap belekok ini dengan bidikan senapan angin untuk kemudian dimasak. Kala itu saya masih bersikap 'ganas' berburu burung sebagaimana kebiasaan saya pada usia belasan tahun di Sumpur Kudus, Sumatra Barat.

Kemudian secara berangsur muncul perasaan menyesal untuk tidak lagi berburu burung-burung ini, sekalipun halal dimakan. Hanya daging belekok jika tidak mahir membumbuinya, akan terasa agak amis. Itulah sebabnya saya sangat terkesan melihat hubungan peluku dengan belekok yang demikian damai, mesra, dan saling memahami.

Pertanyaannya: apakah belekok ini masih akan terlihat bersama peluku pada tahun-tahun yang akan datang, saat persawahan telah semakin dikorbankan untuk kepentingan bangunan? Ke mana mereka akan cari makan, sekiranya pada suatu saat lahan sawah semakin dialihfungsikan?

Untuk DIY saja dan di Jawa pada umumnya, dengan semakin menggelembungnya jumlah penduduk, luas kawasan persawahan secara berangsur, tetapi pasti bukan lagi untuk ditanami padi dan pelawija. Di lahan pertanian itu, bangunan-bangunan beton, baik berupa perumahan, hotel, perkantoran, maupun yang sejenis itu akan semakin masif.

Jangankan belekok yang tak berdaya itu, para pemilik lahan dan buruh-tani sudah banyak yang kehilangan sumber pencariannya. Saya tidak tahu ke mana mereka berimigrasi. Untuk sementara, belekok masih mungkin pindah ke sisa kawasan persawahan yang lain karena punya sayap untuk terbang ke sumber penghidupan baru itu, tetapi untuk berapa lama lagi, ketika pulau Jawa mungkin saja berubah jadi padang pasir?

Saya hanya mau mengingatkan agar bangsa ini lebih hati-hati dan arif dalam perencanaan pembangunan di bawah maraknya slogan gemerlapan bonus demografi dan tahun emas Indonesia pada 2045. Kota Yogyakarta sekarang ini saja bukan lagi merupakan daerah permukiman yang ideal.

Beberapa ruas jalan pada jam-jam tertentu sudah macet, puluhan hotel berbintang saling berlomba karena godaan: DIY telah menjadi tujuan wisata yang menawan sesudah Bali! Sejumlah rakyat kecil yang hanya punya sebidang tanah sempit berhasil dibujuk oleh pemilik modal agar cepat dijual.

Sebagian mereka memang tergoda, mungkin dengan harga jual yang menggiurkan atau karena tidak punya pilihan lain, kecuali menyerah-pasrah. Tujuan kemerdekaan jelas bukan hanya untuk semakin menggendutkan pemilik modal dengan membiarkan rakyat kecil semakin tergusur dan telantar di tanah airnya sendiri!

Jika pola pembangunan kapitalis tik ini tidak diawasi oleh negara yang secara konstitusional bertanggung jawab untuk kesejahteraan seluruh rakyatnya, tidak saja nasib peluku dan belekok yang akan binasa ditelan keganasan roda pembangunan. Jauh lebih brutal dari itu. Nasib bangsa ini secara keseluruhan sedang dipertaruhkan: untuk apa kita merdeka!

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA