Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Bayi Malaikat

Jumat 05 Apr 2019 13:43 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Bayi Malaikat

Foto:
Malaikat memang tidak berjenis kelamin

Perempuan itu bekerja begitu keras. Ia menggarap sepetak lahannya dengan sigap dan cepat sehingga pekerjaannya selalu selesai lebih awal ketimbang orang lain. Dan, karena tersisa masih banyak waktu, ia menerima permintaan tetangga untuk membantu menggarap sawah mereka.

Ketika tidak ada yang bisa dikerjakan di sawah, ia pergi ke hutan untuk memulung apa pun yang bisa dijual. Awalnya, ia selalu membawa anaknya bekerja dengan menggendongnya di punggung menggunakan kain yang dililitkan karena tidak ada yang menjaga bayi tersebut.

Namun, lantaran bayi itu selalu tidur sepanjang ia bekerja dan baru terbangun setelah ia selesai seolah tahu kesibukannya, ia mulai meninggalkan bayi itu di rumah dan pergi bekerja dengan tenang. “Benar-benar seorang malaikat,” gumamnya.

Selera makan si bayi benar-benar luar biasa. Pada umur dua pekan, ia sudah tidak lagi terpuaskan oleh ASI. Ibunya berharap dengan porsi makan yang jauh lebih besar ketimbang porsi makannya, tangan, kaki, dan kepala si bayi Nul akan segera tumbuh dan bayi itu terlihat wajar sebagaimana bayi pada umumnya.

Namun, perempuan itu keliru. Yang bertambah besar dari bayi itu hanya badannya. Badannya terus mekar. Hingga ketika menginjak usia tiga bulan, ukuran badannya hampir sebesar kambing dewasa bunting tua dengan kepala dan tangan dan kaki yang meski sedikit lebih besar, tapi tetap terlihat sangat kecil.

“Apakah akan segera keluar sayap dari badanmu itu, Nak?” gumam si ibu ketika meninabobokan Nul suatu malam.

Keesokan paginya, ketika perempuan itu pergi ke hutan, sekelompok remaja gendeng menyelinap ke dalam rumah dan mengambil Nul. Sekelompok pemuda itu sepertinya telah merencanakan kebiadaban tersebut sejak lama. Mereka hanya tak menyangka bahwa badan Nul telah membengkak sebesar itu sehingga tak mungkin menyembunyikannya. Mereka harus menggotongnya. Kepada orang-orang yang bertemu, mereka bilang dititipi si bayi oleh ibunya agar diajak jalan-jalan dan akan berada di rumah kembali sebelum ibunya pulang dari hutan.

Di lapangan besar itu, para remaja gendeng tersebut membuka lapak yang lebih menyita perhatian ketimbang lapak apa pun di sana, bahkan ketimbang turnamen sepak bola itu sendiri. Orang-orang dari banyak dusun berkumpul untuk melihat bayi ajaib yang terkutuk dan hanya dilahirkan seribu tahun sekali, begitu menurut para remaja tersebut. Dan, untuk melihat bayi tersebut yang mereka sembunyikan di balik tirai, orang-orang harus membayar sejumlah uang.

Para remaja itu tak bakal menduga bahwa menjelang siang, terpanggang panas matahari yang tidak menutupi bagian atas selubung tirainya, bayi itu mengembang semakin besar, semakin besar, dan semakin ringan, lantas terangkat ke udara. Dalam beberapa menit kemudian, orang-orang tak perlu membayar untuk melihat bayi itu terbang ke atas, seperti balon udara. Dan semakin tinggi si bayi terbang, semakin besar ukuran tubuhnya. Bayi itu terus terbang tinggi hingga akhirnya ia menjelma titik di langit untuk kemudian tak ada mata yang bisa melihatnya lagi.

Para remaja mendadak panik. Mereka pulang dengan cemas dan gemetar. Sementara itu, si ibu sudah menunggu dengan air mata berurai. Dari para tetangga, ia tahu sekelompok remaja membawa anaknya. Siapa pun tahu reputasi para remaja itu sebagai perusuh dan pemabuk. “Kenapa tidak kau cegah mereka?” tanya ibu yang berduka dan menderita itu sambil tersengal.

“Aku tidak tahu kenapa aku tidak mencegah mereka. Kumohon maafkan aku. Maafkan aku.”

Meski terkenal perusuh dan pemabuk, nyatalah bahwa para remaja itu memiliki sifat jantan. Mereka datang ke ibu yang menangis itu, bersiap atas segala risiko, dan memulai permintaan maaf serta cerita mereka dengan kalimat: ia terbang ke langit. Seluruh orang di lapangan menjadi saksinya.

Alih-alih marah, ibu itu takjub dan terpukau. “Ia kembali ke surga, malaikatku…”

 

TENTANG PENULIS
DADANG ARI MURTONO. Lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA