Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Konsultasi Syariah: Zakat Tanah dan Bangunan

Kamis 04 Apr 2019 15:06 WIB

Red: Friska Yolanda

Ilustrasi ruko

Ilustrasi ruko

Foto: Antara/Mohamad Hamzah
Jika tanah/bangunan digunakan untuk tempat tinggal, tidak wajib dizakat.

REPUBLIKA.CO.ID, Diasuh Oleh: Dr Oni Sahroni, Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI

Baca Juga

Assalamualaikum wr wb.

Ustaz, gedung beserta tanahnya yang idle, tetapi nilai ekonomisnya berkembang apakah wajib dikeluarkan zakatnya atau tidak? Mohon penjelasan Ustaz!

Hanafi - Solo

---

Waalaikumussalam wr wb.

Jika menelaah referensi klasik dan kontemporer maka akan menemukan dua pendapat para ulama dan ahli fikih kontemporer terkait zakat gedung dan tanah idle ini.

Pendapat pertama, gedung dan tanah yang idle itu wajib dizakati jika memenuhi kriteria berikut.

(A) Nilai aset mencapai minimum (nishab) 85 gram emas dengan tarif zakat 2,5 persen. (B) Dikeluarkan setelah melewati 12 bulan (haul). (C) Tanah dan bangunan tersebut tidak digunakan untuk kebutuhan primer/kebutuhan asasinya, seperti sebagai tempat tinggal. (D) Aset tersebut bernilai, berkembang, dan berpotensi jadi modal.

Oleh karena itu, apabila tanah tersebut diperuntukkan sebagai tempat tinggal atau kebutuhan primer lainnya atau tidak berkembang, seperti tidak layak jual dan harga yang tidak berkembang maka tidak wajib dizakat.

Pendapat kedua, sebagian ahli fikih berpendapat bahwa aset tersebut tidak wajib zakat karena tidak ada pernyataan sahabat dan hadis Rasulullah yang menegaskan bahwa aset tersebut itu wajib dizakati.

Penulis berpendapat bahwa pendapat pertama lebih kuat dengan dengan maqashid syariah berdasarkan alasan dan dalil berikut. Pertama, dianalogikan dengan zakat emas dan perak karena keduanya (emas dan bangunan tanah) aset yang berkembang (memenuhi illat qabbiliyatu lin nama') karena berkembang dan naik harganya.

Seseorang yang memiliki emas batangan 90 gram, misalnya, jika telah melewati satu tahun, harus ditunaikan zakatnya sebesar 2,5 persen dari nilai emas tersebut walapun emas tersebut disimpan di rumah dan tidak jadi modal maka begitu pula dengan aset rumah (dengan tanahnya) yang dimiliki jika mencapai syarat tersebut.

Kedua, menurut tradisi masyarakat dan pasar saat ini, bangunan seperti properti telah dijadikan sebagai aset investasi yang bisa berkembang dan menghasilkan manfaat (benefit) karena bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi. Oleh karena itu, tidak sedikit yang berinvestasi dengan membeli rumah karena harga tanah terus naik dan melebihi kenaikan harga emas, terutama di daerah-daerah perkotaaan.

Ketiga, firman Allah, "Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu." (QS At-Taubah: 34-35).

Menimbun yang dilarang dalam ayat tersebut di atas itu termasuk juga membiarkan aset-aset yang seharusnya produktif, tetapi menjadi tidak produktif. Oleh karena itu, membiarkan aset-aset, seperti tanah, bangunan, dan emas, sehingga tidak berkembang itu dilarang dalam Islam karena menghambat investasi, termasuk menjadikan aset itu idle (menganggur) dan tidak dikembangkan (tidak dijadikan aset investasi). Termasuk juga memiliki aset-aset yang seharusnya berkembang tetapi tidak dikembangkan, seperti memiliki tanah dan bangunannya yang hanya digunakan untuk kebutuhan pelengkap.

Keempat, hadis Rasulullah sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi SAW bersabda, "Kembangkanlah (dagangkanlah) harta anak-anak yatim, sehingga tidak termakan oleh zakat." (HR Thabrani dalam kitab al-Ausath dengan sanadnya sahih).

Juga sebagaimana diriwayatkan dari Umar ra bahwa beliau berkata, "Kembangkanlah harta anak-anak yatim, sehingga tidak termakan oleh zakat." (HR Ad Daruquthni dan Baihaqi, beliau berkata sanadnya sahih).

Hadis tersebut menegaskan bahwa aset seperti emas yang tidak dijadikan modal investasi itu wajib zakat (jika mencapai nishab dan haulnya) karena menjadi aset yang berkembang.

Semoga Allah SWT memudahkan setiap ikhtiar kita dan memberkahinya. Wallahu a'lam.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA