Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Menyoal Wacana Golput

Kamis 04 Apr 2019 10:47 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Forum Warga Anti Korupsi Kota Solo mengajak warga agar tak golput di Pilgub Jateng

Forum Warga Anti Korupsi Kota Solo mengajak warga agar tak golput di Pilgub Jateng

Foto: Republika/Andrian Saputra
Wacana Golput sebenarnya reaksi dari sikap kritis masyarakat

Harus lebih berhati-hati. Pasalnya, saat ini pemerintah telah mewacanakan hukuman pidana bagi pihak-pihak yang mengajak untuk tidak memilih dalam pemilu (golput). Menurutnya, mengajak seseorang untuk golput merupakan tindakan untuk mengacaukan pemilu. Bagi pengacau pemilu, akan diberikan sanksi karena sudah membuat kekacauan dan ketidaktertiban. Benarkah demikian?

Baca Juga

Memang tidak bisa dipungkiri, tren golput selalu mewarnai jelang pemilu. Mengapa kelompok ini selalu ada? Selain tidak memilih (golput) merupakan hak, masyarakat juga mulai jenuh terhadap ajang pemilu yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali ini. Pemilu yang sedari dulu dilakukan untuk memilih pemimpin, nyatanya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tak kunjung ada perubahan yang pasti.

Bahkan, tidak sedikit pemimpin yang dipilih pun tidak menepati janjinya saat kampanye. Akhirnya, masyarakat mempunyai anggapan bahwa, memilih ataupun golput sama saja.

Golput merupakan salah satu reaksi dari sikap kritis masyarakat. Kini masyarakat mulai cerdas, karena mereka kerap menjadi korban ketidakadilan penguasa, rakyat menderita akibat kebijakan-kebijakan penguasa yang tidak berpihak kepada rakyat.

Tentu hal ini tidak akan terjadi jika penguasa mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Penguasa yang senantiasa berpihak kepada rakyat. Memberikan pelayanan terbaik untuk kesejahteraan rakyat. Serta membuat kebijakan yang tidak menyengsarakan.

Namun, pada faktanya justru tidak. Pemimpin adil dan amanah tidak akan pernah didapatkan. Karena pemimpin yang menjadi harapan rakyat adalah pemimpin yang menerapkan sistem yang benar. Pemimpin yang mampu menjadikan Islam sebagai landasan dalam setiap menjalankan roda pemerintahan. Dengan begitu, kesejahteraan rakyat terjamin dan tidak akan ada kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

Pengirim: Novia Listiani, Metro, Lampung

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA