Kamis, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 Januari 2020

Kamis, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 Januari 2020

Ancaman Terbesar Jokowi Bukan Datang dari Prabowo

Selasa 02 Apr 2019 23:12 WIB

Rep: Muhammad Riza Wahyu Pratama/ Red: Indira Rezkisari

Capres No 01 Joko Widodo bersama Capres No 02 Prabowo Subianto dan ketua KPU Arief Budiman saat debat keempat Capres 2019 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (30/3).

Capres No 01 Joko Widodo bersama Capres No 02 Prabowo Subianto dan ketua KPU Arief Budiman saat debat keempat Capres 2019 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (30/3).

Foto: Republika/Prayogi
Elektabilitas Jokowi di kisaran 50 persen dipandang masih berisiko.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Survei Indo Barometer terbaru menyebut calon presiden 01 Joko Widodo (Jokowi) unggul 18 persen atas calon presiden 02 Prabowo. Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, namun mengatakan ancaman terbesar Jokowi sebenarnya bukan Prabowo.

"Ancaman sebenarnya Jokowi bukanlah Prabowo, tapi golput. Ini baru pertama kalinya dalam pemilu, ancaman dari petahana bukanlah rivalnya, tapi golput," kata Adi Prayitno, Selasa (2/4).

Meskipun Jokowi dikatakan unggul, elektabilitasnya yaitu 50,8 persen dianggap masih terlalu berisiko. Belum lagi ditambah dengan adanya ancaman golput. "Pejawat baru dianggap aman ketika mencapai 60 persen," ucap Adi.

Dosen ilmu politik UIN Syarif Hidayatullah menuturkan, meskipun Jokowi dianggap unggul dalam beberapa survei perlu diperhatikan bahwa deklarasi kemenangan tidak boleh terburu-buru. Menurutnya, deklarasi tidak boleh mendahului kehendak Allah.

Dalam survei Indo Barometer disebutkan, salah satu indikator unggulnya Jokowi adalah ia dianggap mewakili aspirasi umat Islam. Menurut Adi, indikator tersebut bisa ditelusuri lebih jauh.

"Saat ini kedua pasangan calon didukung oleh umat Islam. Keduanya sama-sama didukung oleh kiai, ulama, santri, termasuk pula elemen ormas Islam lainnya," kata Adi.

Dalam survei Indo Barometer terbaru yang dilakukan 15-21 Maret 2019, disebutkan bahwa elektabilitas Jokowi 50,8 persen. Sedangkan Prabowo memiliki elektabilitas 32 persen. Di luar itu, terdapat 17,2 persen yang tidak memberikan pilihan.




Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA