Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Arti Menang dan Kalah pada 17 April 2019

Senin 01 Apr 2019 14:18 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Abdullah Sammy

Abdullah Sammy

Foto: Republika/Daan Yahya
Selain menang atau kalah, ada banyak hal di balik sebuah proses; kejujuran.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdullah Sammy

Anak yang besar di angkatan 1990-an pasti tahu betul serial kartun Jepang berjudul Kickers. Serial sepanjang 26 episode itu mengisahkan tentang tim sepak bola SD Kitahara bernama Kickers.

Serial Kickers menggambarkan usaha keras tim sepak bola untuk mengubah statusnya dari tim pecundang menjadi tim yang dihormati. Dari tim yang frustrasi menjadi tim yang penuh semangat. Dari kumpulan individu menjadi sebuah kesebelasan yang satu.

Namun kisah ini berakhir tidak seperti cerita dongeng anak pada umumnya. Sebab Kickers nyatanya tak pernah menjadi juara.

Di final kejuaraan nasional, Kickers kalah 1-2 dari seteru abadinya Nanyo. Mungkin masih banyak anak yang besar di 1990-an terkenang betul akan serial kartun itu.

Ada nilai moral yang membuat kisah Kickers begitu spesial. Film ini mengajarkan kepada anak untuk mendahulukan proses ketimbang hasil. Prinsip yang dipegang betul di Jepang.

Dari film Kickers, anak diajarkan untuk tidak berpatokan pada menang kalah, melainkan usaha tak kenal lelah. Sebab menang dan kalah sejatinya hanya bagian kecil dari sebuah proses.

Selain hasil, masih ada banyak hal di balik sebuah proses yakni kerja keras, kejujuran, kepercayaan, kekompakan, serta semangat tak kenal lelah dan menyerah.

Secara prinsip, hal yang terkandung dalam serial Kickers berkebalikan dengan konsep yang diwariskan seorang tokoh pemikir di awal abad renaissance, Nicolo Machiavelli. Tokoh asal Florence mengenalkan kepada dunia tentang apa yang disebut the ends justifies the means. Konsep yang berarti hasil akhir lebih penting ketimbang proses.

Bagi Machiavelli, apa pun caranya sah demi meraih tujuan. Karena yang dicari memang bukanlah proses melainkan hasil. Prinsip ini kemudian jadi landasan yang dipegang oleh para pegikut Machiavelli yang dikenal sebutan Machiavellis.

Akibat prinsip ini Machiavelli kemudian dikenal dengan julukan teacher of evil alias gurunya kejahatan. Apa pun caranya sah demi tujuan. Begitulah prinsip Machiavellis yang begitu cepat menyebar sejak pertama kali buku Il Principle diluncurkan.

Celakanya, prinsip Machiavellis masih laku hingga kini dan diminati segala macam kalangan. Dari yang tua hingga bocah. Salah satu contoh prinsip Machiavellis di keseharian kita adalah bagaimana pelajar rela menggunakan cara apa pun demi meraih nilai memuaskan. Menyontek atau membeli soal bocoran jadi salah satu contoh tindakan seorang Machiavellis.

Berbicara soal politik, prinsip Machiavelli ini semakin menunjukkan jati dirinya dalam wujud yang terbaik. Ini terutama jika kita berkaca pada kondisi pilpres 2019 yang kini sedang hangat-hangatnya.

Kita bisa melihat, prinsip Machiavellis digunakan kelompok tertentu demi meraih tujuannya. Ini seperti kecurangan dan politik uang. Atau menyebar hoax dan propaganda yang memecah belah dilakukan demi meraih elektabilitas.

Gampang-gampang sulit untuk memisahkan mana kalangan yang memegang prinsip Machiavellis dan mana yang tidak. Terkadang Machiavellis ada di setiap kubu.

Ya, Machiavellis memilih kubu politik bukan atas dasar kesamaan ide, tapi karena mengintip mana yang paling memberi peluang. Sebab salah satu ciri Machiavellis adalah oportunis bukan idealis.

Kita juga bisa melihat tolok ukur Machiavellis dengan mencermati ide yang disampaikan para kandidat. Calon yang anti-Machiavellis banyak menuangkan gagasan dan ide. Sebaliknya calon Machiavellis tergambar dari retorika yang hanya berorientasi pada hasil, tanpa jelas apa gagasannya untuk menuju tujuan itu.

Calon yang Machiavellis hanya akan berkata, "negara harus kuat dan ditakuti". Tapi tak mampu menjelaskan bagaimana cara yang logis untuk mencapai tujuan tersebut.

Dalam konteks bernegara, Machiavelli memang menggariskan idenya pada negara kuat dan ditakuti. Bagi Machiavellis hanya dengan ketakutan akan muncul kepatuhan yang berarti pula keteraturan.

Sebaliknya, yang anti-Machiavellis lebih kepada negara yang efektif dan mengayomi. Yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana warga negara punya peran aktif untuk jadi bagian dari kemajuan.

Inilah perbedaan nyatanya Machiavellis menganggap warga adalah objek dari pemerintah. Sebaliknya yang anti-Machiavellis menganggap warga adalah subjek yang tak terpisahkan dari pemerintah. Karena itu, warga berhak tahu ide dan gagasan demi tujuan bersama. Sebaliknya Machiavellis menuntut warga patuh demi tujuan.

Pada akhirnya, bagi seorang Machiavellis, hasil pemilu pada 17 April adalah segalanya. Bahkan 17 April sudah dianggap sebagai sebuah perang besar.

Sebaliknya, yang anti-Machiavellis 17 April malah merupakan awal dari sebuah usaha. Mau menang atau kalah, yang terpenting sudah berusaha yang terbaik. Sebab orang yang percaya pada proses tak akan berhenti pada apa yang namanya menang, kalah, apalagi lelah.

Ini layaknya kata pamungkas sang kapten Kickers Masaru Hongo kepada sang penyerang, Kekeru, yang menangis usai kalah di final. "Jangan menangis untuk sebuah usaha." Sebab, seperti kata Utha Likumahua, "hari esok kan masih ada."

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA