Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Golkar: Pemilu tak Boleh Dicemari oleh Politik Uang

Senin 01 Apr 2019 13:51 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Ketua Fraksi Partai Golkar di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Agun Gunandjar Sudarsa.

Ketua Fraksi Partai Golkar di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Agun Gunandjar Sudarsa.

Foto: MPR
Golkar meminta tak ada serangan fajar dalam pemilu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Agun Gunandjar Sudarsa menilai pelaksanaan Pemilu bukan sekedar harus damai, melainkan berintegritas. Pemilu tak boleh dicemari oleh politik uang serta berjalan dengan jujur dan adil.

Baca Juga

"Fraksi Golkar MPR RI melalui buku ini mengajak masyarakat untuk memilih dan memilah kontestan mana yang menempatkan Pemilu ini bukan sekedar damai namun berintegritas," kata Agun dalam peluncuran bukunya bertajuk "Pemilu Damai, Berintegritas, dan Menyejahterakan" di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (4/1).

Dia mengatakan, Pemilu berintegritas diartikan adanya sikap saling menghargai, adil, jujur, tidak ada politik uang, dan tak ada serangan fajar. Menurut dia, Golkar mengajak publik memilih kontestan yang benar-benar menjamin untuk mewujudkan gagasan menyejahterakan rakyat.

"Bagaimana ke depan anak-anak milenial disodorkan gambaran pemikiran tentang harapan lima tahun ke depan," ujarnya.

Dalam acara tersebut, Sekjen Partai Golkar Lodewijk mengatakan Pemilu 2019 adalah paling rumit di dunia dan juga menjadi eksperimen demokrasi Indonesia. Menurut dia, ada tiga hal yang disoroti Golkar yaitu kondisi internal parpol, terkait pemilu dan penyelenggara Pemilu.

"Peran caleg sebagai ujung tombak di lapangan berperan untuk menyosialisasikan. Karena di Pemilu 2019 ada lima lembar kertas suara," katanya.

Dia menilai caleg harus memastikan masyarakat datang ke tempat pemungutan suara (TPS) dan dipastikan dapat memilih Partai Golkar.

Sebelumnya Partai Golkar mendapat sorotan setelah seorang kadernya Bowo Sidik Pangarso ditangkap KPK. Bowo ditetapkan sebagai tersangka suap terkait kerja sama pengangkutan pelayaran. Ironisnya, KPK juga menemukan uang di dalam 400 ribu amplop berisi uang pecahan Rp 50 ribu dan Rp 20 ribu. Uang itu diduga akan dipakai untuk 'serangan fajar.'

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA