Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Dua Capres Sudah Jadi Korban Fitnah, Setop Kampanye Hitam

Ahad 31 Mar 2019 17:03 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Muhammad Hafil

Hoaks (ilustrasi)

Hoaks (ilustrasi)

Foto: Dok Republika.co.id
Untuk menjadi capres, kedua calon sudah melalui tahapan seleksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengajak masyarakat untuk tidak lagi menggunakan kampanye hitam dalam mendukung pilihannya di setiap perhelatan kampanye. Ia pun memahami kekecewaan yang dirasakan oleh kedua kandidat calon presiden (Capres), Joko Widodo dan Prabowo Subianto, yang kecewa akibat fitnah dan ujaran kebencian yang selama ini dialamatkan kepada keduanya.

"Ungkapan atau refleksi kekecewaan dua sosok Capres itu hendaknya mendorong semua pihak mengakhiri kampanye hitam," kata Bamsoet, Ahad (31/3).

Dalam debat capres keempat semalam, Prabowo mengaku tidak nyaman karena dituduh pro-khilafah. Sedangkan Jokowi mengaku selama ini memendam perasaan karena kerap dituduh PKI.

Bamsoet mengatakan, kendati pengakuan kedua capres tampak semata-mata sebagai adu argumentasi dalam debat, pengakuan itu jelas-jelas memperlihatkan kekecewaan kedua sosok capres itu. Bahkan Prabowo sampai harus mengungkap sekilas latar belakang ibu yang melahirkannya.

"Fakta dari debat Capres sesi empat itu hendaknya menyadarkan semua elemen masyarakat bahwa dua sosok capres Indonesia yang terpilih untuk berkompetisi dalam pemilihan presiden (Pilpres) pada 17 April 2019 mendatang sudah menjadi korban kampanye hitam bermuatan fitnah dan ujaran kebencian," ucapnya.

Padahal, lanjut politikus Partai Golkar itu, untuk menyandang status capres, baik Joko Widodo maupun Prabowo Subianto sudah melalui berbagai tahapan proses seleksi. Sehingga, fitnah yang dialamatkan kepada kedua sosok capres itu dinilai sama sekali tidak masuk akal.

Bahkan menurutnya, fitnah terhadap kedua Sosok capres berpotensi merusak akal sehat. Sebab, masyarakat dicekoki pemahaman bahwa institusi negara penyelenggara Pemilu bisa meloloskan pribadi bermasalah untuk mengisi jabatan presiden. 

"Karena itu, kampanye hitam terhadap dua kandidat presiden RI ini harus dihentikan. Sebab, fitnah dan ujaran kebencian yang ditujukan ke pribadi capres Joko Widodo maupun capres Prabowo Subianto sama artinya dengan merendahkan martabat bangsa Indonesia. Harap diingat bahwa kedua sosok ini tampil sebagai capres berdasarkan aspirasi masyarakat Indonesia," jelasnya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA