Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Butuh Waktu Mencari Penyebab

Ahad 31 Mar 2019 06:30 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Friska Yolanda

Penemuan CVR Lion Air JT610.  CVR Pesawat Lion Air JT610 tiba di JICT, Jakarta, Senin (14/1/2019).

Penemuan CVR Lion Air JT610. CVR Pesawat Lion Air JT610 tiba di JICT, Jakarta, Senin (14/1/2019).

Foto: Republika/ Wihdan
Flight data recoder ditemukan lebih dulu dibandingkan cockpit voice recorder.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mencari Penyebab kecelakaan Pesawat Lion Air nomor registrasi PK-LQP berjenis Boeing 737 Max 8 dengan nomor penerbangan JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang pada 29 Oktober 2018 nyatanya membutuhkan waktu. Meski Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sudah menemukan salah satu kotak hitam yakni flight data recorder (FDR) yang berisi rekaman data perjalanan pesawat namun hal itu belum cukup untuk mendapatkan kesimpulan. 

KNKT masih terus mencari kotak hitam kedua yakni cockpit voice recorder (CVR) yang berisi rekaman data percakapan pilot di dalam kokpit. Hal itu mendukung hasil dari data yang didapatkan dari kotak hitam FDR yang sudah ditemukan terlebih dahulu. 

Berbeda dengan FDR, kotak hitam CVR ditemukan lebih lama sejak kecelakaan terjadi. Tim gabungan bersama KNKT baru menemukan CVR pada 14 Januari 2019. CVR ditemukan dalam kondisi relatif baik di kedalaman 30 meter di perairan Karawang, Jawa Barat. 

Kepala Subkomite Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo mengatakan KNKT mmebutuhkan waktu selama empat hari untuk mengeringkan CVR. Selanjutnya, saat proses transkrip rekaman CVR perlu digabungkan dengan data dari FDR untuk dianalisa. 

photo
Black box flight data recorder (FDR) milik pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 sampai di Gedung Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Jakarta Pusat, Kamis (1/11) pukul 19.00 WIB. Black box yang berisi data penerbangan itu langsung dibawa masuk ke ruangan Wakil Ketua KNKT untuk diperiksa.

"Kalau kedengaran suaranya, akan ditranskrip. Untuk analisanya tidak bisa independen, dia harus digabungkan dengan data lain," tutur Nurcahyo, Senin (14/11). 

Untuk menganalisa data di FDR dan CVR, Nurcahyo memastikan hal tersebut tergantung kompleksitasnya. Terutama dari pembicaraan yang terekam di dalam CVR pesawat tersebut. 

Tak hanya itu, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan sebelum melakukan transkrip, KNKT juga akan membuat komparasi percakapan pilot dengan menara pengawas. Rekaman percakapan antara pilot dan kopilot juga akan dilakukan hal yang sama.

"Setelah diputar datanya, kalau semuanya oke, kita akan mentranskrip suara yang ada di CVR itu," ungkap Soerjanto. 

Di dalam rekaman yang dihasilkan tersebut bisa jadi muncul suara mesin berbunyi. KNKT kemudian akan mencatat kapan suara itu muncul termasuk peringatan yang mungkin terekam. Sebab, kata Soerjanto, bisa jadi pilot dan kopilot tidak menyadari muncul suara peringatan. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA