Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Ratu Adil, Kerumunan Masa, dan Ancaman Totalitarianisme

Kamis 28 Mar 2019 05:00 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Perlawanan rakyat Ternate. (Foto koleksi DR Muridan: Sampul buku tentang perjuangan Sultan Nuku)

Perlawanan rakyat Ternate. (Foto koleksi DR Muridan: Sampul buku tentang perjuangan Sultan Nuku)

Foto: istimewa
Kisah ratu adil dan emosi kerumunan masa bisa penyebab totaliterianisme

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika
 
Melihat tragedi masa lalu memang menarik sekaligus tragis. Ini misalnya bila melihat situasi di sebuah kota kecil yang ada di sebelah timur Gunung Lawu, Madiun pada tahun 1860-an. Kota kecil ini dari dahulu ternyata sudah menarik perhatian. Tanahnya cocok untuk ditanami berbagai macam komoditi pertanian seperti padi, tebu, tembakau dan lainnya. Pemerintah kolonial  Belanda pun menaruh perhatian khusus kepada wilayah ini sebagai lumbung hasil pertanian yang penting di Jawa.

Yang menarik adalah desertasi mendiang sejarawan Ong Hok Ham yang menyoroti perubahan sosial yang terjadi di daerah itu. Judulnya menarik: The Residency of Madiun: Priyayi and peasant in the Nineteeenth Century (Madiun: Priyayi dan  Petani di Karisidenan Madiun Abad XiX. Disertasi ini di tulis oleh Ong sewaktu kuliah di Jurusan Sejarah Universitas Yale, New Haven, Amerika Serikat awal tahun 1975.

Salah satu bagian yang menarik dan bisa menjadi renungan dalam disertasi itu adalah soal kisah Madiun di tahun-tahun yang disebut 'masa depresi ekonomi', yakni  masa antara tahun 1870-1890. Ong menyoroti berbagai sisi kehidupan rakyat khususnya yang terkait dengan munculnya era perubahan ekonomi, khususnya ketika kapitalisme Belanda mulai menancapkan kukunya di Jawa. Kala itu Madiun sudah menjadi daerah  yang mulai berubah, utamanya dengan  munculnya pembangunan jalur rel kereta api di sana.

Tak ayal lagi, adanya rel kereta api itu, masyarakat desa di Madiun pun ikut berubah. Uang yang kala itu belum menjadi alat utama kebutuhan hidup di desa, semenjak itu menjadi kebutuhan utama, atau setidaknya mulai menjadi ketergantungan yang lebih kepada uang.Rakyat misalnya mulai mengenal sebutan 'membeli uang'. Kerumitan makin bertambah, sebab dalam waktu bersamaan depresi semakin meningkat karena ada tekanan dari pertambahan populasi penduduk. Bahkan pada tahun 1880-an terjadi peningkatan populasi yang melebihi produksi pangan.

Untuk tahu lebih detil Ong menulis begini: Laporan resmi tahun 1880 dipenuhi keluhan bahwa transportasi yang lebih mudah membuat kejahatan semakin luas dan sulit di dideteksi. Akibat ekstensif dari pembangunan jalur kereta api perlu diteliti lebih jauh. Salah satu yang tampak adalah perubahan pola perdagangan di daerah pedalaman. Wiselus dalam laporannya tentang Kedu pada 1882 menunjukkan bahwa jalur perdagangan tradisional beras dari Kedu menuju daerah keraton telah menurun sejak pembangunan jalur kereta api Madiuan-Surakarta. Sejak itu daerah keraton menerima beras dari Madiun dan daerah timur lainnya ketimbang dari barat.

Tak hanya terjadi perubahan pola perdagangan dan despresi ekonomi, pada saat yang sama juga mulai muncul kerusuhan sosial berupa pembakaran perkebunan tebu.   Penyebabnya, juga karena rendahnya upah dan sewa lahan yang dibayarkan kepada penduduk oleh pabrik gula. Akibatnya, penduduk  banyak yang menyimpan dendam pada pegawai dan penjaga pabrik. Apalagi kerapkali mereka bertindak sewenang wenang kepada penduduk yang menyewakan lahannya kepada pihak pabrik gula yang ada di sana.

Bila ditelusuri lagi, maka rasa frustasi ini kemudian hadir dalam sosok kehadiran Ratu Adil menjadi impian rakyat yang tengah dihimpit depresi hidup yang luar biasa itu. Mereka berharap datangnya udara baru, udara perubahan. Sosok itu muncul pada tokoh sseorang pemberontak dari sekitar wilayah itu, yakni Ponorogo. Kisah ini terekam dalam Babad Patjitan.

Kisahnya begini: Di Ponorogo, Tumenggung Jayangrana mendengar kabar bahwa ada seorang gadis mau melahirkan. Setelah memeriksa perkara tersebut ia menemukan bahwa gadis tu tidak berzinah, tetapi masih suci dan tidak bersalah dan ia kemudian dibawa untuk menjadi selir bupati. Bayi  itu lalu lahir, kemudian menjadi seorang anak laki-laki yang tampan.  Dia diberi nama Raden Bawan. Saat itu semua ahli nujum meramalkan bahwa anak itu akan menjadi orang besar, ia akan menjadi pahlawan Ponorogo dan menaklukan musuh-musuhnya, serta kebal senjata.

Dan memang Raden Bawan sejak kecil banyak belajar dari berbagai guru yang hebat, di antaranya Kiai Sangki, seorang Guru Jayengrana di Ponorogo. Orang pun kala itu sudah percaya bila suati hari dia akan menjadi seorang pemimpin pemberontakan yang terkenal. Raden Demang Danureja, mantan Patih Sumoroto, juga memiliki pikiran yang sama dan Raden Bawan pun menjadi semakin yakin dengan masa depannya.

Sebagai mana lazimnya orang Jawa, ketika dewasa nama Raden Bawan pun  berganti. Ia diberi nama Raden Wanengsentika. Setelah berganti nama, ia bersama Danureja dan kiai Sangkil  lalu mencoba berontak (madeg kraman). Bersamaan dengan itu ia bertemu sorang guru terkenal lainnya, yakni Kiai Wajug. Di desa Ngile, Nglorog, Pacitan. Merekapun kemudian bersepakat memberontak untuk memerangi Belanda di tanah Jawa. Mereka kemudian bersumpah setia serta selanjutnya siap berbagai kekuasaan yakni nanti Radeng Wanengsentika akan menjadi raja, Danureja akan menjadi patih, dan dua orang kiai lainnya sebagai panembahan (penasihat perang dan spiritual).

Maka kemudian sekitar lima ratus orang berkumpul dan bergerak menuju ibu kota Pacitan untuk memulai pemberontakan. Namun, sebelum sampai di sana, seorang lurah di desa Turusan melaporkan pergerakan masa itu kepada pihak bupati setempat yang kemudian melaporkan kepada Residen Prisman.

Tak lama kemudian Prisman pun segera menyiapkan pasukan untuk mencegat gerakan para pemberontak. Namun usaha pencegatan itu berhasil diketahui pemberontak yang membuat mereka kemudian mengalihlan gerak pasukan dengan cara mundur ke Gunung Kajor.

Nah, mengetahui hal itu, pasukan Prisman bersama lasykar Kompeni lainnya segera mengepung tempat berkumpulnya para pemberontak itu. Namun sebelum pecah pertempuran Prisman sempat mengirimkan utusan untuk melakukan negosiasai. Seorang utusan Prismen, Bragajati,  meminta Raden Wanengsentika menyerah saja. Namun permintaan itu dibalas oleh Wanengsntika: "Sekarang saya telah menjadi raja. Saya tidak berniat untuk menyerahkan senjata kepada tuan. Namun, jika tuan masih ingin hidup sebaiknya tuan tidak bersekutu dengan kompeni.’’

Adanya jawaban yang malah menantang ini membuat Prisman naik pitam. Dia segera perintahkan pasukannya untuk menghabisi para pemberontak. Maka pertempuran pun segera pecah. Tentara kompeni menyerbu pasukan pemberontak. Gelegar dan asap peluru serta salak senapan memenuhi udara. Tak lama kemudian, para pemberontak menyerah. Raden Weningsentika, Danureja, Kiai Wajug, dan Kiai Sangkil  ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Yang lain dibuang ke luar Pulau Jawa. 

Dan tak hanya pemberontakan ini, kasus huru-hara akibat munculnya Ratu Adil juga banyak terjadi. Namun semua kasus bisa dipadamkan dengan mudah oleh pemerintah kolonial. Dalam soal ini di sini terbukti selain kuat dalam persenjataan, kolonial juga mengenal butuh komposisi batin penduduk dan seluk beluk-tanah jajahannya. Di sini jelas terlihat Belanda menjajah Indonesia dengan sangat sistematif, yakni tak hanya bermodal dengan pasukan bersenjata yang kuat, tapi juga dengan dibekali kajian ilmu pengetahuan yang dalam.

Di satu sisi lain, memang nasib malang telah menimpa para petualang kekuasaan yang mengidentikkan dirinya sebagai ‘Ratu Adil’. Namun di sisi lain dia tetap menjadi pahlawan di hati para penduduk pribumi yang tertindas di tanahnya sendiri.

Nah, di abad selanjutnya, di Eropa juga dikenal sosok Ratu Adil yang lain, yakni Hitler dan Mussolini. Cuma karena kalah keduanya dicap sebagai penjahat besar, namun di mata pemujanya  yang tetap eksis hingga sekarang, keduanya tetap menjadi pahlawan, khususnya pahlawan ras kulit putih dan mereka yang terjangkiti ideologi antisemit. Sebagian orang, semua keburukan dari rezimnya yang totaliter itu dianggap menjadi tak pentingg. Apalagi, rakyat dalam kekuasaan kadang oleh sebuah penguasa kadatang tak lebih dari angka saja. Masa hanya sekedar jumlah yang selalu bisa dimain-mainkan emosinya. Mao Ze Dong menggambarkan hidup rakyat itu tak penting, sebab bila hanya mati seorang itu hanya tragedi, dan bila mati banyak orang itu hanya merupakan jumlah.

Dalam hal ini saya jadi ingat pada sosok penulis asal usul totalitarianisme, yani Hannah Arendt. Dalam bukunya ‘The Origins of Totalitarianism’ dia mengatakan: Kerumunan massa pada hakikatnya merupakan sebuah kelompok yang mewakili ampas-ampas semua kelas masyarakat. Hal ini membuat kita begitu mudah menyamakan kerumunan massa dengan rakyat, sebab rakyat juga terdiri dari semua lapisan masyarakat.

Bukan hanya itu Hannah Arendt juga menyatakan: “Banyak orang terbukti berani melawan raja-raja yang amat berkuasa  --bahkan Paus --- dengan berani menolak untuk membungkuk di depan mereka, namun sedikit saja yang berani melawan kerumunan orang, berdiri sendirian melawan massa yang salah jalan, menghadapi hiruk pikuk mereka yang kepala batu, tanpa senjata dan dengan tangan terlipat berani mengatakan ‘tidak’ ketika yang dituntut adalah sebuah ‘ya’.

Jadi hati-hatilah dengan emosi yang berasal dari kerumunan. Sebab, bibit pertarungan dan totalitarianisme bisa berasal dari sana. Apalagi bila hidup rakyat susah karena kesejahteraan tak memihak hidup mereka.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA