Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Petani Indramayu Merugi Akibat Harga Gabah Rendah

Rabu 27 Mar 2019 18:13 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Nur Aini

Seorang petani di Desa Cempeh, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu sedang menjemur gabah yang baru dipanennya, Rabu (4/4). Panasnya cuaca memudahkan mereka menjemur gabah sehingga berani menjual dengan harga lebih tinggi.

Seorang petani di Desa Cempeh, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu sedang menjemur gabah yang baru dipanennya, Rabu (4/4). Panasnya cuaca memudahkan mereka menjemur gabah sehingga berani menjual dengan harga lebih tinggi.

Foto: Republika/Lilis Sri Handayani
Petani mengharapkan harga gabah Rp 5.000 per kg.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Para petani di Kabupaten Indramayu dan Cirebon saat ini mengaku rugi akibat rendahnya harga gabah pada awal musim panen rendeng 2018/2019. Mereka berharap harga gabah minimal bisa mencapai Rp 5.000 per kg agar mereka bisa memperoleh untung.

‘’Harga gabah saat ini memang rendah, bahkan ada juga yang di bawah HPP (harga pembelian pemerintah),’’ ujar Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, Rabu (27/3).

Sutatang menyebutkan, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani saat ini hanya di kisaran Rp 3.700 - Rp 3.800 per kg. Bahkan, di sejumlah wilayah barat Indramayu adapula yang harganya hanya Rp 3.500 per kg, atau di bawah HPP GKP yang mencapai Rp 3.700 per kg.

Menurut Sutatang, dengan harga sebesar itu, petani tidak bisa menikmati keuntungan. Apalagi bagi petani penggarap yang menyewa sawah dari orang lain.

Sutatang merinci, biaya produksi selama musim tanam rendeng 2018/2019 mencapai Rp 8 juta  - Rp 9 juta per hektare. Bagi petani penggarap, biaya produksi itu belum termasuk sewa lahan.

Sutatang menyebutkan, sewa lahan biasanya menggunakan hitungan gabah, yakni sebanyak 4,2 ton per hektare per tahun. Selama ini, nilai gabah itu dikonversikan dengan harga gabah yang berlaku pada September/Oktober. Biasanya, harga gabah pada September/Oktober mencapai Rp 5.000 per kg.

‘’Supaya bisa dapat untung, maka harga gabah saat panen semestinya Rp 5.000 per kg,’’ kata Sutatang.

Hal senada diungkapkan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon, Tasrip Abu Bakar. Dia pun mengatakan, dengan harga gabah yang hanya di kisaran Rp 3.700 – Rp 3.800 per kg, petani justru menanggung kerugian.

Tasrip menyebutkan, modal tanam di Kabupaten Cirebon mencapai sekitar Rp 8,5 juta per hektare. Modal itu belum termasuk sewa lahan bagi petani gurem yang tidak memiliki lahan sendiri. Dia menyebutkan, sewa lahan sawah di Kabupaten Cirebon mencapai sekitar Rp 15 juta per hektare per tahun.

‘’Harga gabah saat panen semestinya minimal mencapai Rp 5.000 per kg supaya petani dapat untung,’’ kata Tasrip.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA