Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Langkah Sinergi Kementan dan Pemprov Jatim Dongkrak Ekspor

Kamis 21 Mar 2019 22:04 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Dwi Murdaningsih

Ekspor krisan ke Jepang.

Ekspor krisan ke Jepang.

Foto: Humas Kementan.
Jatim berpeluang besar meningkatkan ekspor.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kementerian Pertanian melalui Barantan melakukan sinergi dengan Pemprov Jawa Timur dalam percepatan layanan ekspor produk pertanian. Pelepasan kali ini berupa komoditas tumbuhan yaitu 60,231 meter kubik plywood ke Singapura, 19,1 ton kopi ke Belgia, 22,5 ton kg gagang cengkeh ke Kanada dan 81 ton margarin ke Ghana.

Baca Juga

Ekspor juga dilakukan pada komoditas hewan dan produk hewan yakni 25,5 ton susu ke Malaysia, 140 ton premix ke Spanyol, 19 ton Sterilized Kenaf Core Dry ke Jepang, 34 ton bulu bebek ke Taiwan, 130 ton garam kalsium ke Barcelona, dan 300 kg Sarang Burung Walet (SBW) ke Hong Kong.

"Sebagai komoditas wajib lapor karantina pertanian, dengan potensi yang strategis ini kami lakukan percepatan layanan agar produk unggulan ini dapat diterima oleh negara mitra dagang," kata Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan, Badan Karantina Pertanian (Barantan) saat melepas ekspor komoditas pertanian senilai Rp 28,174 miliar di kawasan Terminal Petikemas Surabaya, Kamis (21/3).

Menurut Sujarwanto, diperlukan sinergi yang baik dari seluruh pemangku kepentingan untuk mendongkrak ekspor. Potensi dan peluang yang besar dari Provinsi Jatim yang besar harus dioptimalkan agar bermuara pada kesejateraan petani.

Berdasarkan data dari sistem otomasi  Badan Karantina Pertanian, sepanjang  2018 telah diterbitkan lebih dari 40 ribu sertifikat kesehatan karantina. Masing-masing terdiri dari 34.279 sertifikat karantina tumbuhan (Phytosanitarry Certificate, PC) dan 5.757 sertifikat karantina hewan (Health Certificate, HC). Sertifikat ini dikeluarkan setelah dilakukan serangkaian tindakan oleh petugas karantina guna memenuhi persyaratan mitra dagang. 

Adapun total nilai ekspor komoditas pertanian pada 2018  sebesar Rp 44 ribu triliun, yang terdiri komoditas tumbuhan Rp 32,9 triliun dan komoditas hewan serta produk hewan Rp 11,136 triliun.

Komoditas ekspor asal tumbuhan didominasi oleh CPO, kopi, lada, tembakau, cengkeh dan kakao. Sedangkan komoditas hewan dan produk hewan didominasi oleh SBW, susu dan produk olahannya, bulu dan produk olahannya, dried specimens, domba potong, ular jali, pakan hewan ternak, kulit kadi, premix dan serangga hidup.

Sementara itu, Kepala Karantina Pertanian Surabaya Mussayafak Fauzi menjelaskan, di wilayah kerjanya sepanjang trimester pertama tahun ini telah menerbitkan 9.468 sertifikat kesehatan karantina yang terdiri dari 8.339 PC ke 93 negara dan 1.129 HC ke 39 negara. Masing-masing dengan total nilai ekspor Rp 10,8 triliun yang terdiri dari asal komoditas tumbuhan menyumbang Rp 8,95 triliun sedangkan hewan dan produk hewan Rp 1,88 triliun.

Berbeda dengan 2018, ekspor tertinggi dari komoditas tumbuhan adalah tembakau, sedangkan di 2019 ini  berdasarkan nilai ekonomi yang tertinggi adalah kayu.

"Walaupun berdasarkan volumenya tembakau tetap menduduki peringkat teratas," ujar Mussafak.

Ia menambahkan, satu komoditas unggulan yang sangat baik adalah SBW. Produk ini menempati urutan pertama dari sisi jumlah dan nilai ekonomi baik pada 2018 maupun 2019. Tercatat di triwulan pertama 2019, SBW ekspor asal Jatim berjumlah 4.923, 5 ton dengan nilai Rp 1,8 triliun.

SBW Jatimpun diterima di 12 negara tujuan ekspor, antara lain Amerika Serikat, Australia, Cina, Denmark, Hong Kong, Jepang, Kanada, Malaysia, Singapura, Taiwan, Thailand dan Vietnam.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA