Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

KA Makassar-Parepare Dikoneksikan dengan Industri

Rabu 20 Mar 2019 00:20 WIB

Rep: Rahayu Subekti / Red: Satria K Yudha

Pabrik Semen Bosowa, Maros, Makassar

Pabrik Semen Bosowa, Maros, Makassar

Foto: BOSOWA.CO.ID
Biaya logistik lebih murah dengan adanya moda transportasi berbasis rel.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi memastikan kereta api (KA) Trans Sulawesi jalur Makassar-Parepare akan terkoneksi dengan industri. Dia menjelaskan, pada April 2019 jalur KA sepanjang 44 kilometer akan selesai dan tahun ini segera dimulai kembali pembangunan jalur KA sepanjang 60 kilometer. 

Dengan begitu, Budi mengatakan pada akhir 2020 ditargetkan sudah dibangun sepanjang 104 kilometer dari total panjang jalur KA Makassar-Parepare sepanjang 145 kilometer. "Dengan 104 kilometer ini nanti bersamaan akan kita koneksikan beberapa pabrik semen yang ada di sini," kata Budi saat meninjau proyek jalur KA Makassar-Parepare, Rabu (20/3). 

Dia menambahkan keseluruhan proyek KA Makassar-Parepare sejauh 145 kilometer ditargetkan selesai pada 2023. Dia menilai, jalur KA tersebut sangat penting karena akan memberi dampak positif bagi arus logistik barang dari dan ke kota Makassar selain mobilisasi orang.

Budi mengatakan, dengan adanya moda transportasi berbasis rel, maka biaya logistik akan lebih ekonomis. "Untuk barang mengangkut batu bara dari Pulau Kalimantan masuk ke pelabuhan dan setelah itu dari pabrik mengangkut semen. Itu pasti lebih ekonomis dan memastikan jalan raya tetap awet," ujar Budi. Dia memperkirakan biaya angkutan logistik melalui jalan raya lebih tinggi 20 sampai 30 persen dibanding dengan menggunakan kereta api. 

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri mengatakan jalur kereta yang menyambungkan daerah Barru-Palanro sepanjang 44 kilometer akan selesai pada April 2019.Terkait penyelesaian lintasan sepanjang 44 kilometer pada April tahun ini, Zulfikri menjelaskan bahwa terdapat tiga titik kritis yang terus dikebut pengerjaannya. 

"Tiga titik kritis ini yaitu jembatan dengan bentangan 400 meter, pemindahan makam di daerah Kiru-Kiru, dan titik longsor yang terjadi beberapa waktu lalu," tutur Zulfikri. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA