Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Kali ini Terorisnya Orang Bule!

Selasa 19 Mar 2019 05:41 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto:
Pelaku penembakan di Christchurch tak pernah bergabung dengan organisasi teroris

Sebagai info, di Masjid al-Noor dan Masjid Linwood di Kota Christchurch ini, empat hari lalu (15/03) telah terjadi aksi penembakan terhadap para jamaah ketika sedang shalat Jumat. Akibat dari aksi brutal itu 50 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya cedera.

Toleransi dan saling menghormati ini juga sangat tampak dalam kunjungan kedua saya ke Selandia Baru beberapa tahun lalu, dalam rangka Bilateral Interfaith Dialogue antara Indonesia dan Negara Kiwi ini. Kedua negara memang sangat aktif mempromosikan perdamaian dunia, toleransi dan saling menghormati antaranggota masyarakat di level internasional, lewat dialog antarumat beragama dan keyakinan yang berbeda. Interfaith Dialogue ini melibatkan tokoh-tokoh agama yang berbeda, akademisi, tokoh masyarakat, dan jurnalis.

Dengan latar belakang pengalaman dan pengetahuan saya tentang Selandia Baru seperti itu, pada Jumat malam lalu saya pun sangat kaget bin terkejut ketika mendengar berita telah terjadi aksi penembakan brutal terhadap jamaah shalat Jumat di Masjid al-Noor dan masjid lain di Kota Christchurch. Selandia Baru diserang teroris? Salah satu negara yang paling aman dan damai itu?

Ketika berita itu belum jelas benar, saya pun menduga pelakunya terkait ISIS atau kelompok teroris yang sering mengatasnamakan Islam dan umat Islam. Misalnya dilakukan oleh warga Selandia Baru yang pernah bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah, dan kini telah kembali ke negaranya.

Toh, sasaran serangan ISIS selama ini tidak mengenal masjid atau bukan. Di sejumlah negara Arab, beberapa masjid telah jadi sasaran serangan ISIS. Ternyata saya telah terpengaruh stereotip yang dilancarkan Barat bahwa setiap aksiterorisme pelakunya selalu terkait dengan Islam dan umat Islam.

 

Beberapa waktu setelahnya, berita pun makin jelas. Pelaku teroris kali ini ternyata seorang bule! Ia tidak pernah bergabung dengan organisasi teroris yang selama ini sering mengatasnamakan Islam atau umat Islam.

Ia adalah Brenton Harrison Tarrant, berkulit putih, berkewarganegaraan Australia, berusia 28 tahun. Ia meyakini superioritas kulit putih, pengikut kelompok ekstrem kanan Eropa, antiimigran, antimulikulturalisme, anti-Islam dan umat Islam alias Islamofobia. Terakhir, ia pendukung kuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Lalu, apa yang bisa kita jelaskan dengan fakta seperti ini?

Ya, pelaku penembakan di Selandia Baru adalah seorang teroris bengis. Bayangkan, si pelaku memasuki masjid dengan berjalan gagah, berpakaian militer, sambil mendengarkan musik, lalu melepaskan rentetan tembakan dengan darah dingin ke arah jamaah yang sedang menunaikan ibadah shalat Jumat. Ia seolah sedang menjalankan tugas suci, karena itu ia merekam tindakannya dan menyiarkan langsung melalui media sosial. Ia menyebutnya sedang 'berpesta'.

Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern mengecam keras aksi kejam itu. Ia menegaskan, peristiwa berdarah itu sebagai salah satu hari terkelam di negaranya. Sedangkan PM Pakistan Imran Khan mengatakan, penembakan brutal di Selandia Baru makin menunjukkan bahwa teroris tidak mengenal agama. Atau dengan kata lain, pihak-pihak tertentu, terutama di Barat, yang terkena demam Islamofobia, tidak bisa lagi mengaitkan terorisme dengan Islam dan umat Islam. Kali ini pelakunya adalah seorang bule.

Bila paham ekstrem kanan itu hanya diikuti oleh Brenton Tarrant sendiri, mungkin akibat negatif dari peristiwa berdarah itu bisa segera dilokalisasi atau diminimalisasi. Namun, yang menjadi kekhawatiran banyak pihak, ideologi seperti yang dianut Tarrant sudah melembaga, sudah berubah menjadi kebijakan politik yang terorganisasi.

Munculnya gelombang fasis dan rasis di daratan Eropa, tempat partai-partai yang menolak pluralisme dan multikulturalisme memulai berkuasa, adalah sebagai tanda ke arah sana. Maka, negeri yang paling aman dan damai seperti Selandia Baru pun bisa kena akibatnya, meskipun jumlah umat Islam di sana kurang dari 50 ribu dari total 4 juta penduduk.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA