Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Surat Kepedihan Senior Alumni ITB: Rommy Sahabatku

Ahad 17 Mar 2019 05:13 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Rommy Romahurmuzy

Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Rommy Romahurmuzy

Foto: Republika/Yasin Habibi
Seorang senior sahabat Rommy di ITB berkirim surat kepedihan atas nasib Rommy.

Oleh: DR Syahganda Nainggolan, Pendiri Sabang Merauke Circle

Hari ini aku melihat kamu menggunakan baju tahanan. Saya sedih karena politik biaya tinggi membuat kamu terjebak oleh uang dan uang. Dalam beberapa kali perjumpaan kita di rumahmu dan seminar, setiap kita diskusi, kamu sebenarnya anak muda yang cerdas, anak ITB yang cerdas. Ada hampir 50 anak-anak muda ITB bergantung nasib pada karirmu. Kini hampa.

Politik kita demokrasi liberal, uang dan uang dan uang. Kita sudah jauh mengkhianati azas musyawarah dan mufakat Pancasila. Tapi kita tidak punya jalan kembali. Kita telah tersesat.

Sehabis aku diperiksa Polda karena saksi tuduhan 'makar' beberapa tahun lalu, kamu menjamuku dengan kopi yang nikmat. Aku menyimak ketika kau menceritakan pengalamanmu pertama sekali bergabung dengan Jokowi 2014, setelah kita kalah dukung Prabowo. Aku juga menyimak penjelasanmu tentang kekalahan Ahok, yang kau dukung. Aku juga menyimak ketika kamu menjelaskan kenapa mendukung Jokowi padaku, demi menguasai satu kementerian untuk menopang Partai PPP-mu. Saat itu, aku berdoa agar kamu hati-hati.

Namun, sayang saat ini 260 juta rakyat mencap kamu koruptor. Entah bagaimana perasaan anak gadismu yang kala itu sempat aku lihat berenang di kolam Club Persada Halim, yang dulu kita ketemu, tumbuh sebagai anak koruptor?
 Semoga Allah melindungi anakmu itu.

Mungkin ambisimu melampaui kapasitasmu. Namun, demokrasi liberal ini menghancurkan bukan hanya kamu. Temanku lain seperti Idrus Marham, Anas Urbaningrum, dan lainnya. Mereka juga korban. Semua hancur.

Ya, memang hanya di jaman kita mahasiswa dulu kesempatan masuk penjara sebagai pahlawan, melawan Soeharto. Aku mendapatkan itu. Sekarang bebanmu lebih berat, penjara dan cap koruptor.

Saya berharap kamu mempunyai jalan hidup yang lebih baik nantinya, setelah kamu mempunyai kesedihan dan refleksi diri di penjara.

Allah tetap Maha Pengasih dan Pengampun. Mudah-mudahan dia memberimu kehormatan setelah mengampunimu.

Selamat jalan sahabatku.

Salam,


Syahganda Nainggolan


Seniormu di ITB

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA