Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Danone Dukung Pemberdayaan Perempuan di Lingkungan Kerja

Kamis 14 Mar 2019 19:53 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Plt Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kementerian Koordinator PMK, Ghafur Dharmaputra memberikan sertifikat kepada Connie Ang selaku CEO Danone Specialized Nutrition Indonesia, Kamis (14/3).

Plt Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kementerian Koordinator PMK, Ghafur Dharmaputra memberikan sertifikat kepada Connie Ang selaku CEO Danone Specialized Nutrition Indonesia, Kamis (14/3).

Foto: Istimewa
Danone memberikan cuti melahirkan selama enam bulan dan 10 hari untuk karyawan lelaki

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Keterlibatan aktif perempuan pada posisi strategis di lingkungan kerja terus didorong sebagai isu prioritas baik secara global maupun nasional. Kesempatan bagi perempuan berkembang dan berkarya dengan kemampuan terbaik mereka harus terus di dukunh.

Danone di Indonesia memberikan dukungan kepada perempuan antara lain melalui program mentoring karir, kebijakan cuti melahirkan yang lebih panjang hingga fasilitas yang ramah bagi ibu dan anak.

Berbagai inisiatif ini telah mendorong lebih banyak karyawan perempuan mendapatkan kesempatan bertumbuh secara profesional hingga mencapai posisi direksi dan eksekutif di Danone, baik di Indonesia maupun berbagai negara.

Connie Ang, CEO Danone Specialized Nutrition Indonesia dihadapan peserta seminar International Women Leadership Conference di Kantor Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menjelaskan, pihaknya ingin meneruskan semangat Keberagaman Inklusif, Danone di Indonesia telah dan akan terus berkomitmen untuk menerapkan berbagai kebijakan yang mendukung kesetaraan gender.

"Mulai dari kesetaraan angka pekerja perempuan dan laki-laki hingga fasilitas yang mendukung keluarga khususnya pada masa melahirkan dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Salah satu capaian kami di bidang ini adalah 40 persen posisi direksi di perusahaan kami telah diisi oleh perempuan," kata Connie dalam rilisnya, Kamis (14/3).

Sebagai wujud komitmen terhadap kesetaraan gender, Danone secara global ingin memastikan bahwa keterwalikan perempuan di level eksekutif sebesar 30 persen dan 42 persen di level direksi dapat tercapai di tahun 2020. Untuk itu, berbagai inisiatif lain juga telah dilakukan Danone di Indonesia dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perempuan untuk bekerja, antara lain melalui kesetaraan program kesempatan karir dan mentoring bagi karyawan laki-laki dan perempuan, kebijakan cuti melahirkan, serta fasilitas ramah keluarga.

Selama tiga tahun Danone bekerja sama dengan UN Women untuk menerapkan kampanye HeforSHe, sebuah gerakan solidaritas global dimana laki-laki berkomitmen untuk membantu penerapan kesetaraan gender. Di dalam perusahaan, Danone memberikan program mentoring karir kepada pekerja perempuan dalam program EVE.

Danone menerapkan Parental Policy karena memahami kebutuhan orang tua bekerja, termasuk 2000 karyawan perempuan yang bekerja di Danone Indonesia. Danone juga merupakan salah satu perusahaan pertama yang memberikan kebijakan cuti melahirkan selama enam bulan bagi karyawan perempuan dan 10 hari untuk karyawan laki-laki.

Selain itu, dalam mendukung tumbuh kembang anak, pihaknya menyediakan fasilitas ruang ibu menyusui dan memberikan pilihan kerja dengan jam yang flexible. "Berbagai inisiatif ini kami hadirkan karena kami sangat mendukung pemberian ASI eksklusif bagi anak, serta untuk memastikan bahwa orang tua tetap dapat menghabiskan waktu dan memantau tumbuh kembang anak walau berkarir di perusahaan”, jelas Connie yang merupakan Presiden Direktur perempuan pertama untuk kategori bisnis Specialized Nutrition di Indonesia.

Komitmen Danone untuk mendukung pemberdayaan perempuan tidak hanya diterapkan kepada karyawan namun juga melalui insiatif sosialnya kepada masyarakat. Bersama dengan kategori bisnis Danone di Indonesia lainnya, program insiatif pemberdayaan Danone di Indonesia yang melibatkan perempuan antara lain Aqua Ladies yang menyediakan hidrasi sehat bagi 1,3 juta warga serta meningkatkan kesejahteraan Ibu pengelola Warung Anak Sehat (WAS).

Berbagai inisiatif tersebut melibatkan lebih dari 10.000 perempuan sebagai penerima manfaat yang telah memberikan dampak kesehatan dan ekonomi bagi lingkungan sekitar mereka. Hampir di setiap negara, tenaga kerja didominasi oleh pekerja laki-laki.

Menurut data Badan Pusat Statistik terkait Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2016, Indonesia memiliki 45,8 juta pekerja yang terdiri dari 29,3 juta laki-laki dan 16,4 juta perempuan. Terlebih, dari 17 sektor pekerjaan, 14 sektor dikuasai laki-laki, dan perempuan hanya mendominasi 3 sektor, yaitu sektor jasa pendidikan, jasa kesehatan dan kegiatan sosial, dan jasa lainnya.

Hal serupa juga tercermin dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) perempuan di Indonesia yang masih terus berada di bawah IPM laki-laki. Perempuan masih kerap terbebani dengan peran ganda yang dipercaya masyarakat Indonesia, yaitu peran tradisi sebagai istri, ibu, dan pengelola rumah tangga; dan peran transisi sebagai tenaga kerja, anggota masyarakat dan manusia pembangunan.

Terlepas dari hal tersebut, Indonesia terus berusaha meningkatkan kesetaraan gender di bidang ketenagakerjaan. hal ini terlihat dari data World Economic Forum yang mencatat bahwa Indonesia berada pada peringkat peringkat ke 88 dari 144 negara di dunia dalam kesetaraan gender.

Sedangkan untuk jumlah perempuan di posisi manajemen perusahaan, Indonesia menempati posisi 6 dari 10 negara di dunia. Kemajuan ini perlu terus didorong melalui adanya ekosistem kerja yang mendukung kesetaraan gender di berbagai lini dan industri.

Plt Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kementerian Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Ghafur Dharmaputra, dalam sambutannya di acara Women Leadership & Empowerment Conference 2019 mengatakan, dibutuhkan dukungan yang besar agar perempuan mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki untuk terus berkarir di berbagai bidang, termasuk politik, pendidikan, wirausaha hingga perusahaan. Pemahaman tentang pengarusutamaan gender perlu ditingkatkan agar perempuan Indonesia dapat berkontribusi secara nyata.

"Bentuk dukungan yang dibutuhkan termasuk implementasi perspektif gender melalui kebijakan dan inisiatif di lingkungan kerja,' kata Ghafur.

Pihaknya mengapresiasi perusahaan yang telah menerapkan komitmennya terhadap kesetaraan gender secara nyata. "Harapan kami, ke depan, akan semakin banyak pihak yang memberikan dukungan kepada perempuan di lingkungan kerja termasuk terus melakukan edukasi tentang pengarusutamaan gender secara luas," ujar dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA