Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Pentingnya Rinjani bagi Masyarakat Lombok

Selasa 12 Mar 2019 07:10 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Friska Yolanda

Petugas Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) melakukan survei jalur pendakian pada Oktober 2018.

Petugas Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) melakukan survei jalur pendakian pada Oktober 2018.

Foto: Dok Balai TNGR
Banyak yang menggantungkan hidupnya dari Rinjani sebagai destinasi wisata.

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Pulau Lombok di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dikenal sebagai destinasi wisata unggulan Indonesia. Selain keindahan bawah laut seperti kawasan tiga gili, Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno di Kabupaten Lombok Utara, Pantai Senggigi di Lombok Barat, kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika di Lombok Tengah, Lombok juga dikenal sebagai tujuan utama para pendaki mengingat adanya Gunung Rinjani. 

Gunung Rinjani yang memiliki ketinggian 3,726 meter di atas permukaan laut (mdpl), merupakan gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia. Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR)  seluas 41.330 hektare secara administrasi masuk ke dalam tiga kabupaten yaitu Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur dan ditetapkan sebagai taman nasional pada 23 Mei 1997 dengan visi 'Taman Nasional Gunung Rinjani sebagai Pusat Konservasi Flora Fauna khas Nusa Tenggara dan Destinasi Ekowisata Dunia.'

Kepala Balai TNGR Sudiyono mengatakan, Gunung Rinjani yang mempunyai segara anak di kawahnya ini jika dilihat dari Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Kawasan Pengembangan  Pariwisata Nasional (KPPN) di Provinsi NTB. Sudiyono menyampaikan, Gunung Rinjani telah ditetapkan sebagai Unesco Global Geopark pada April 2018. Pada tahun yang sama juga ditetapkan sebagai zona inti dari  area Cagar Biosfer Lombok. 

"Hal ini menunjukan TNGR adalah kawasan yang strategis bagi masyarakat lokal maupun internasional," ujar Sudiyono kepada Republika.co.id di Mataram, NTB, Senin (11/3).

Sudiyono memaparkan, kompleks hutan Gunung Rinjani memiliki luas 125.000 hektare yang terdiri atas beberapa fungsi hutan. Di mana 41.330 hektare atau 32,86 persen merupakan hutan konservasi yang dikelola Balai TNGR.

Secara geografis, kata Sudiyono, Gunung Rinjani merupakan puncak tertinggi di Pulau Lombok dengan sepuluh daerah aliran sungai (DAS) dengan lima sub lokasi. Gunung Rinjani juga menjadi satu-satunya sumber air untuk 54 sungai atau sekitar 90 persen sungai di Lombok berhulu di Gunung Rinjani. 

"Secara otomatis kebutuhan air di pulau ini sangat tergantung kepada keutuhan dan kelestarian ekosistem Gunung Rinjani. Kawasan TNGR juga bersinggungan langsung dengan 38 desa yang secara langsung atau tidak langsung akan memengaruhi kehidupan mereka," kata Sudiyono. 

Sudiyono menyampaikan banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari keberadaan Gunung Rinjani sebagai destinasi wisata. Dia mencatat terdapat 90 pemegang ijin track organizer (TO), baik badan usaha maupun perorangan; 449 pemandu wisata; dan 1.157 porter. Sudiyono menyebutkan, minimal terdapat 1.696 sumber daya manusia (SDM) yang terlibat secara langsung dalam objek destinasi wisata Gunung Rinjani. 

Jumlah ini belum termasuk sarana penginapan yang berada di sekitar TNGR, di mana saat sebelum gempa tercatat penginapan yang ada di sekitar TNGR sebanyak 90 penginapan, dengan rincian 31 penginapan di Senaru, 29 penginapan di Sembalun, dan 30 penginapan di Tetebatu. Sudiyono berpandangan jumlah penginapan juga diperkirakan lebih banyak karena belum termasuk penginapan yang berada di desa-desa yang agak jauh dari kawasan TNGR seperti Sapit dan Bebidas yang belum terdata. 

Sudiyono melanjutkan, pelaku usaha wisata juga banyak berkecimpung dalam bidang jasa sewa alat pendakian, jasa transportasi, jasa penjualan makanan minuman di dalam dan sekitar kawasan, serta sektor pertanian dan peternakan maupun restoran atau agen-agen wisata di luar lingkar Rinjani. 

"Para pelaku usaha yang terkait dengan wisata pendakian tersebut umumnya melibatkan masyarakat lokal," ungkap Sudiyono.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA