Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Menjemput Optimisme di Pilpres 2019

Selasa 12 Mar 2019 12:51 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Petugas dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) memperlihatkan surat suara Pilpres yang rusak ketika menyortir dan melipat surat suara di gudang penyimpanan logistik KPU Kota Bandar Lampung, Lampung, Jumat (8/3/2019).

Petugas dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) memperlihatkan surat suara Pilpres yang rusak ketika menyortir dan melipat surat suara di gudang penyimpanan logistik KPU Kota Bandar Lampung, Lampung, Jumat (8/3/2019).

Foto: Antara/Ardiansyah
Mengapa perlu menjemput optimisme? Karena optimisme telah tertanam di dalam diri kita

Penelitian yang dilakukan Parashar (2009) telah menunjukkan optimisme berkorelasi dengan banyak hasil kehidupan positif termasuk peningkatan harapan hidup, kesehatan umum, kesehatan mental yang lebih baik, peningkatan keberhasilan dalam olahraga dan pekerjaan, tingkat pemulihan yang lebih besar dari operasi jantung dan strategi koping (coping) yang lebih baik ketika dihadapkan dengan kesulitan. Sehingga tidak ada penelitian sampai saat ini yang menunjukkan pesimisme sebagai prediktor untuk hasil yang sehat terkait dengan kesehatan fisik. Menurut Haber dan Runyon (1984), coping adalah semua bentuk perilaku dan pikiran (negatif atau positif) yang dapat mengurangi kondisi yang membebani individu agar tidak menimbulkan stres.

Disadari bahwa tantangan Indonesia ke depan semakin kompleks, detail, dan dinamis. Namun peluang Indonesia untuk menjadi negara maju dan besar sangat terbuka lebar. Berbagai potensi yang dimiliki harus mampu digali, dikembangkan, dan dipertahankan secara berkelanjutan. Berbagai modal yang sudah digenggam harus mampu didayagunakan untuk menopang proses pembangunan yang akan terus berlangsung.

Lima modal sebagaimana disebutkan Ellis (2000) sebagai livelihood assets yaitu modal alam, modal fisik, modal manusia, modal finansial, dan modal sosial itu telah kita miliki. Termasuk juga modal-modal lainnya yang dimiliki negeri ini merupakan rahmat Tuhan yang harus dimanfaatkan secara benar, untuk wujudkan cita mulia, menjaga kebersamaan, memelihara kemajemukan, dan menggapai kemajuan. Lagi-lagi, “sebuah keyakinan” dan sikap mental yang dibutuhkan untuk mengiringi proses pembangunan itu bernama "optimisme". 

Menghadapi pilpres 2019, kita semua harus optimis dan selalu menjaga kebersamaan. Pilihan boleh beda, tetapi persatuan Indonesia adalah hal utama. Ketenangan jiwa, rasionalitas, dan sikap optimistis itu harus dimiliki para pendukung dan terlebih para kontestan yang didukung. Karena dukungan politik karena ketakutan amat berbahaya.

Teringat nasihat Dosen Ekologi Politik dan Sosiologi IPB, Dr. Arya Hadi Dharmawan yang mengatakan bahwa dukungan politik karena ketakutan, memunculkan perasaan depresif dan kepasrahan tanpa motivasi. The culture of fear (Glassner) adalah budaya ketakutan yang membayang di pikiran sebuah masyarakat.

Bias pikiran ke arah negatif tersebut, berpotensi untuk diinstrumentasi (oleh segolongan orang) sebagai alat untuk mencapai kekuasaan. Alhasil ia menghasilkan the politics of fear (Furedi, 2005). Politik ketakutan. Politik berbasis rasa takut dimainkan oleh segolongan orang untuk meraih dukungan politik dari orang-orang yang dilanda kecemasan dan ketakutan luar biasa. Dukungan yang didapat adalah dukungan karena dorongan oleh rasa ketakutan, kecemasan, ketidakpastian. Bukan, dukungan yang didapat dari keberanian menghadapi risiko, kekuatan hati, dan harapan serta optimisme.

Mengapa harus "menjemput optimisme"? Karena sesungguhnya optimisme itu telah tertanam sejak lama dalam diri kita. Ia sudah dilahirkan, tapi ia perlu dibathinkan, perlu dikuatkan dalam diri (internalisasi). Ia sudah berada di dalam jiwa, tetapi ia perlu dihadirkan di alam nyata. Pertanyaannya, maukah kita menjemputnya?

*) Wakil Rektor ITB Ahmad Dahlan Jakarta, Koordinator Nasional Jaringan Matahari

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA