Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Bawaslu Usut Tulisan 'Prabowo-Sandi' di SDN Kota Tasikmalaya

Senin 11 Mar 2019 16:58 WIB

Rep: Bayu Adji/ Red: Muhammad Hafil

Seorang warga melintas di depan SDN Galunggung, Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Senin (11/3).

Seorang warga melintas di depan SDN Galunggung, Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Senin (11/3).

Foto: Republika/Bayu Adji P
Bawaslu sudah melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian.

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Temuan running text bertuliskan Prabowo-Sandi di SDN Galunggung, Kota Tasikmalaya, terus didalami Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Tasikmalaya. Ketua Bawaslu Kota Tasik Ijang Jamaludin mengatakan, saat ini pihaknya masih dalam tahap kajian awal atas temuan itu.

Ia belum mau menyebutkan temuan itu termasuk pelanggaran kampanye atau bukan. Penyebutkan pelanggaran kampanye harus melalui proses kajian terlebih dahulu.
 
"Sekarang prosesnya baru kajian. Soalnya kalau pelanggaran kampanye itu, subyek hukumnya jelas, pelaksana atau tim kampanye. Mangkanya kita harus lihat ini siapa pelakunya," kata Ijang saat dihubungi Republika.co.id, Senin (11/3).
 
Ijang  mengatakan, latar belakang pemasangan running text itu. Unsur pemasangan, kata dia, harus dilihat kesengajaannya.
 
Ia menjelaskan, jika mengacu pada Undang-Undang (UU) Pemilu, yang bisa dijerat dalam pelanggaran pemilu hanya peserta pemilu, pelaksana, dan tim kampanye. "Kalau ada unsur lain di dalam pidana umum, ranahnya kepolisian," kata dia.
 
Ijang menegaskan, Bawaslu juga telah berkoodinasi dengan aparat penegak hukum untuk mencari pelaku terkait running text di SDN Galunggung. Jika yang memasang bukan bagian dari subyek pelanggaran pemilu, akan ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum.
 
Menurut dia, kejadian ini baru kali pertama terjadi di Kota Tasik. Setelah melakukan kajian awal, Bawaslu akan segera menggelar rapat pleno dan menentukan kejadian itu termasuk pelanggaran kampanye atau bukan. Jika termasuk dalam pelanggaran kampanye, pihaknya akan memanggil saksi-saksi terkait kejadian itu.
 
Berdasarkan pantauan Republika.co.id pada Senin (11/3), running text itu tak lagi menyala. Hari itu, sekolah sedang tidak aada aktivitas.
 
Beberapa warga yang ditemui menyatakan, sekolah itu memang terpasang running text yang bertuliskan Prabowo-Sandi. Namun, mereka mengetahuinya dari berita yang beredar.
 
"Kalau saya gak melihat langsung, tapi memang dengar ada tulisan itu," jata Yanti (43 tahun), salah seorang warga yang ditemui di lokasi. 
 
Ia menjelaskan, papan dengan tulisan berjalan itu sebetulnya tertulis "Selamat Datang di SDN Galunggung". Namun, saat kejadian tulisan itu berubah, Yanti mengaku sedang tak ada di lokasi.
 
Sementara itu, salah saorang warga lainnya, Raka (29) mengatakan, tulisan di papan digital itu berubah sebelum calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno datang ke Kota Tasik. Menurut dia, tulisan itu seolah dibuat untuk menyambut kedatangan pasangan nomor urut 02 ke Kota Tasik.
 
"Itu sudah berubah sebelum Prabowo-Sandiaga ke sini. Jadi sekitar jumat malam," kata dia.
 
Ia mengatakan, tulisan itu mengganggu ketentraman warga. Apalagi, terpasang di sekolah yang notabene tak boleh dilakukan kampanye. Namun, ia mengakui, sulit untuk membendung antusias warga dalam mendukung masing-masing pilihan calon presidennya. Pasalnya, saat ini memang telah memasuki masa kampanye.
 
Kepala Sekolah SDN Galunggung Nana Hermawan mengatakan, pihaknya sama sekali tak tahu-menahu ihwal berubahnya tulisan di papan digital itu. Namun, adanya aktivitas yang bisa disebut kampanye itu dinilai merugikan pihak sekolah.
 
Ia mengatakan, pihak sekolah langsung melaporkan kejadian itu saat mengetahui tulisan telah berubah. "Saya merasa sekolah ini dibegitukan (dilecehkan). Saya sebagai korban, termasuk institusi sekolah, dimanfaatkan oleh orang-orang yang seperti itu," kata dia.
 
Menurut Nana, papan digital itu bukan dibeli oleh pihak sekolah. Papan itu merupakan cenderamata dari salah satu orang tua siswa yang lulus pada 2016.
 
Ia mengaku, sekolah tidak dikasih akses untuk mengubah tulisan itu. Pasalnya, sejak awal papan itu hanya bertuliskan "Selamat Datang di SDN Galunggung". 
 
Nana mengatakan, hingga Jumat (8/3) papan digital itu masih bertuliskan "Selamat Datang di SDN Galunggung". "Kejadiannya itu malam Minggu, saya datang langsung saya potong kabelnya agar tidak lagi tayang. Itu disaksikan oleh kepolisian, Bawaslu, dan tokoh masyarakat," kata dia.
 
Ia berharap, aparat bisa cepat menangkap pelakunya. Menurut dia, kejadian itu merupakan pelecahan terhadap sekolah dan mengandung unsur fitnah kepada warga SDN Galunggung.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA