Sabtu, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 Januari 2020

Sabtu, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 Januari 2020

Ranieri Lagi, dan Kini Bersama AS Roma

Senin 11 Mar 2019 08:35 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Gilang Akbar Prambadi

Claudio Ranieri

Claudio Ranieri

Foto: REUTERS/Darren Staples
Pertandingan ini menjadi panggung pertama bagi Ranieri.

REPUBLIKA.CO.ID, ROMA -- Kekalahan menyakitkan dari Porto pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions, tengah pekan lalu, menjadi penanda berakhirnya kiprah Eusebio di Francesco sebagai pelatih AS Roma. Kekalahan yang berujung pada tersingkirnya Il Lupi dari ajang Liga Champions itu seolah melengkapi derita Roma setelah dipermalukan rival sekota mereka, Lazio, dengan skor 0-3 dalam laga Derby della Capitale di pentas Seri A, dua pekan lalu.

Selain itu, ada juga kekalahan 1-7 dari Fiorentina pada babak perempat final Coppa Italia, akhir Januari silam. Semua catatan minor tersebut ditambah inkonsistensi penampilan Il Lupi sepanjang musim ini sudah cukup menjadi alasan bagi manajemen Roma untuk mengakhiri kerja sama dengan Di Francesco.

Kurang lebih 24 jam setelah kekalahan dari Porto, mantan pelatih Sassuolo itu harus meletakkan jabatan sebagai pelatih AS Roma, tim yang telah ditanganinya sejak tahun 2017 tersebut. Pemecatan Di Francesco pun diikuti dengan mundurnya Ramon Rodríguez Verdejo, atau biasa disapa Monchi, dari kursi direktur olahraga AS Roma.

Terlepas dari mundurnya Monchi, manajemen AS Roma agaknya memang sudah terlebih dahulu mempersiapkan langkah strategis mencari pelatih anyar sebelum akhirnya memecat Di Francesco. Beberapa jam setelah pemecatan Di Francesco, manajemen AS Roma langsung memperkenalkan pelatih anyar Il Lupi, yaitu Claudio Ranieri.

 

photo
Claudio Ranieri saat menjadi pemain AS Roma. DOK. WIKIPEDIA



Pelatih yang dijuluki the Tinkerman oleh media-media Inggris itu dikontrak hingga akhir musim ini dengan opsi perpanjangan kontrak pada pengujung musim ini. Ranieri memang bukan orang baru untuk AS Roma. Lahir di pinggirang Kota Roma, Ranieri merupakan penggemar berat Il Lupi. Bahkan, karier profesional pertamanya sebagai pesepak bola juga diawali dari AS Roma.

Sebagai pelatih, Ranieri juga pernah menjadi juru taktik Il Lupi, tepatnya pada Juni 2009 hingga Februari 2011. Prestasi terbaiknya adalah membawa I Giallorosi finis di peringkat kedua Seri A pada musim 2009/2010, dengan hanya mengantongi selisih dua angka dari Inter Milan, yang saat itu dibesut Jose Mourinho dan berhasil menjadi treble winner.

Ranieri sadar dengan tantangan yang saat ini dihadapinya di AS Roma. Harapan untuk bisa kembali bersaing di empat besar, sekaligus memastikan satu tempat di kancah Liga Champions musim depan, digantungkan kepada Ranieri. Eks pelatih Chelsea itu diberi kesempatan dalam 12 laga sisa Seri A untuk bisa mengembalikan AS Roma ke perburuan posisi empat besar.

Sayangnya, catatan kinerja terakhir Ranieri cukup mengecewakan. Pelatih yang mengantarkan Leicester City ke tangga juara Liga Primer Inggris 2015/2016 itu dianggap gagal total saat dipercaya membesut Fulham. Diharapkan bisa mengangkat the Cottagers keluar dari zona degradasi, Ranieri justru dipecat manajemen Fulham setelah hanya bisa mempersembahkan tiga kemenangan dari 17 laga.

Masa kerja Ranieri bersama Fulham pun tergolong sesingkat, hanya sekitar 106 hari. Kendati begitu, Ranieri mengaku telah belajar banyak dari kegagalan tersebut. "Saya juga sudah berubah. Saya bukanlah pelatih yang sama seperti dua tahun lalu. Saya tidak pernah kehilangan semangat untuk terus mengembangkan kemampuan diri. Kini saya dipercaya untuk melatih tim ini. Artinya, saya masih dianggap sebagai pelatih yang tidak ketinggalan zaman," ujar Ranieri kepada Roma TV, seperti dikutip Football Italia.

Ranieri menyebut, langkah pertama yang akan dilakukannya di Roma adalah mengembalikan kepercayaan diri dan motivasi penggawa Il Lupi, terlebih setelah dua kekalahan memalukan yang mereka terima, yakni saat dibekap Lazio di pentas Seri A dan disingkirkan Porto di arena Liga Champions. Akhirnya, tidak perlu waktu lama bagi Ranieri untuk membuktikan kemampuannya.

Laga kontra Empoli di Stadion Olimpico pada partai terakhir giornata ke-27, Selasa (12/3) dini hari WIB, menjadi laga debut Ranieri dalam kesempatan kedua melatih AS Roma. Berada di peringkat kelima, Roma membutuhkan torehan poin sebanyak-banyaknya demi bisa menjaga peluang untuk finis di empat besar.

Tidak hanya itu, torehan tiga angka pada laga kontra Empoli setidaknya bisa membuat Roma sedikit menjauh dari kejaran Lazio, yang berada di peringkat keenam dengan selisih tiga poin. Ranieri pun bertekad mempersembahkan kemenangan pada laga itu untuk fan setia Roma di Stadion Olimpico.

"Para fan begitu antusias dengan tim ini. Jadi, wajar jika mereka begitu kecewa dengan dua kekalahan beruntun. Saya ingin menegaskan kepada para fan. Ini adalah saat-saat krusial karena perjalanan tim ini bisa berubah di titik ini. Kami harus tetap berada dalam persaingan di zona Liga Champions," tutur Ranieri.

Dari kubu Empoli, pelatih Giuseppe Iachini mengakui kehadiran Ranieri sebagai pelatih anyar Roma akan memberikan dampak positif pada penampilan Il Lupi. Iachini pun memuji Ranieri sebagai pelatih yang memiliki segudang pengalaman dan fleksibilitas taktik yang begitu hebat. Kemampuan itu, kata Iachini, didasarkan Ranieri pada materi-materi pemain yang dimilikinya.

Namun, Iachini tidak mau menyerah begitu saja saat melawat ke markas Roma tersebut. Sama halnya dengan AS Roma, yang membutuhkan torehan poin untuk bisa bersaing di empat besar, Empoli juga bertekad mencuri poin di kandang Roma guna menjauhi zona degradasi. Berada di peringkat ke-17, Empoli memang hanya mengantongi selisih empat poin dari zona merah.

"Dia adalah pelatih yang memiliki pengalaman. Saya tidak tahu apa yang akan kami hadapi. Dia memiliki waktu tiga hari untuk mengenal pemain-pemainnya. Namun, terlepas dari itu, kami harus bisa tampil dengan sempurna karena bagaimanapun Roma memiliki pemain-pemain berkualitas. Kami akan mencoba setidaknya untuk mencuri poin dari sana," ujar Iachini seperti dikutip Gazzeta Dello Sports.

Data dan Fakta:

9 -- AS Roma tidak terkalahkan dalam sembilan pertemuan terakhir dengan Empoli di ajang Seri A (enam kemenangan dan tiga kali imbang). Bahkan, dalam tiga laga terakhir, gawang AS Roma tidak pernah kebobolan oleh Empoli.

7 -- Dalam tujuh laga kandang terakhir, AS Roma tidak terkalahkan dengan catatan lima kemenangan dan dua hasil imbang.

15 -- Sejak 15 Desember silam, Empoli menjadi tim yang paling banyak kebobolan di kancah Seri A, mencapai 25 gol.

25 -- Pada paruh pertama musim ini, AS Roma menjadi tim tersubur dengan torehan 25 gol.

57 -- Pada kesempatan pertama menukangi AS Roma, Ranieri menorehkan persentase kemenangan mencapai 57 persen di kancah Seri A, dengan memetik 36 kemenangan dari 61 laga.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA