Monday, 12 Jumadil Akhir 1442 / 25 January 2021

Monday, 12 Jumadil Akhir 1442 / 25 January 2021

Penderita Alzheimer Terus Meningkat

Sabtu 09 Mar 2019 19:18 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah

Penyakit alzheimer menyerang mereka yang di atas usia 55 tahun.

Penyakit alzheimer menyerang mereka yang di atas usia 55 tahun.

Foto: AP
Alzheimer menjadi penyebab utama kematian keenam di AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyakit alzheimer adalah masalah yang berkembang di banyak kalangan. Laporan Alzheimer's Association 2019 mengatakan, hanya 16 persen manula yang melaporkan secara rutin melakukan pemeriksaan untuk masalah kognitif.

"Ada kurang pemanfaatan penilaian kognitif dalam pengaturan klinis, dan pemutusan antara pasien dan penyedia atas siapa yang harus memulai itu. (Di) dunia yang ideal, 100 persen dokter yang memprakarsainya, dan 100 persen manula mengemukakannya," kata kepala program di Asosiasi Alzheimer Joanne Pike, dikutip dari Time, Sabtu (9/3).

Laporan baru menemukan, sementara sebagian besar dokter dan manula menganggap skrining kognitif itu penting, masalah di kedua sisi kadang-kadang mencegah penilaian terjadi. Dokter sering kali sulit ditemui, dan pasien sering tidak memiliki gejala atau keluhan dan manula kadang-kadang tidak tahu kalau perlu pemeriksaan.

Kurang dari 30 persen manula mengatakan, mereka pernah memiliki penilaian kognitif. Hanya sekitar sepertiga yang tahu jenis skrining ini harus tersedia melalui kunjungan kesehatan tahunan yang disediakan oleh Medicare.

Kalau lebih banyak orang dewasa lanjut usia tahu tentang manfaat mengecek kognitif, menurut Pike, itu dapat meningkatkan tingkat skrining dan mengarahkan manula ke terapi terhadap penurunan kognitif. Cara tersbeut pun membantu mempersiapkan korban dari kondisi yang saat ini tidak dapat diobati, seperti alzheimer.

"Jika Anda didiagnosis menderita demensia atau alzheimer, ada manfaat medis, sosial, dan keluarga untuk mengetahui diagnosis itu. Anda dapat melakukan perencanaan keuangan dan perencanaan hukum. Anda dapat menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman, atau melakukan hal-hal yang membuat Anda bahagia," kata Pike.

Apabila lebih banyak orang didiagnosis lebih awal, lebih banyak pasien juga dapat berpartisipasi dalam uji klinis. Direktur program ilmiah dan penjangkauan di Alzheimer's Association Keith Fargo mengatakan, meskipun itu bukan solusi jangka pendek, membuat uji klinis lebih kuat adalah cara terbaik untuk akhirnya memotong tingkat Alzheimer yang terus tumbuh.

Hampir enam juta orang Amerika Serikat saat ini hidup dengan demensia alzheimer. Jumlah itu diproyeksikan melebihi tujuh juta pada 2025. "Jika Anda tidak tahu Anda menderita penyakit ini, Anda tidak berpartisipasi dalam uji klinis," kata Fargo.

photo
Tanpa peserta yang berpartisipasi pada uji klinis skala besar, dokter tidak dapat mengembangkan obat yang dapat mengobati alzheimer. Menemukan terapi yang efektif adalah prioritas.

Alzheimer dan demensia saat ini menelan biaya negara sekitar 290 miliar dolar AS setiap tahun di AS. Angka itu tidak termasuk biaya keuangan dan emosional yang ditanggung oleh 16 juta orang AS yang melayani sebagai pengasuh alzheimer yang tidak dibayar.

Fargo mengatakan, seiring bertambahnya usia penduduk Amerika, lebih banyak orang meninggal karena alzheimer daripada sebelumnya. Sekarang, masalah penyakit tersebut menjadi penyebab utama kematian keenam di AS.

Antara tahun 2000 hingga 2017, tingkat kematian penyakit ini meningkat sebesar 31 persen di antara orang berusia 65 hingga 74 tahun, 57 persen di antara orang berusia 75 hingga 84  tahun dan 86 persem di antara di atas usia 85 tahun. "Lebih banyak dari kita yang meninggal akibat Alzheimer daripada penyakit jantung dan stroke, karena kita menjadi lebih baik dalam mengobati penyakit jantung dan stroke," kata Fargo.

Para peneliti belum menemukan cara konklusif untuk mencegah atau membalikkan Alzheimer. Namun, beberapa penelitian terbaru telah menghasilkan temuan yang menjanjikan di bidang kesehatan otak.

Sebuah studi yang diterbitkan pada Desember tahun lalu menemukan, diet dan olahraga dapat membalikkan beberapa perubahan otak yang berkaitan dengan usia. Sementara satu studi yang diterbitkan pada Februari menemukan, melakukan latihan fisik dan mental di awal kehidupan dapat mencegah beberapa perubahan tersebut di kondisi awal.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA