Monday, 21 Jumadil Akhir 1443 / 24 January 2022

Perusahaan Teknologi dan Coworking Dominasi Properti Asia

Jumat 08 Mar 2019 12:32 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Gita Amanda

Perusahaan Teknologi. Ilustrasi

Perusahaan Teknologi. Ilustrasi

Foto: The Verge
Perusahaan teknologi dan coworking space menggeser perusahaan sektor keuangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wilayah Central Business District (CBD) di Asia mengalami perubahan karakteristik dan latar belakang penyewa. Diketahui, CBD sudah lama didominasi oleh pengusaha sektor keuangan. Tapi, kini, kelompok Teknologi, Media dan Telekomunikasi (TMT) secara perlahan mampu menggeser posisi tersebut.

Asia Managing Director of Capital Markets and Investment Services di Colliers International, Terence Tang, menyebutkan, grup TPT dan operator working space mendominasi permintaan utama atas properti di CBD sepanjang 2017 hingga 2018. "Grup TMT sekarang mendominasi 18 persen ruang kantor utama di CBD Asia, sementara working space lima persen," tuturnya dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Jumat (8/3).

Pada 2018, Tang menjelaskan, kelompok TMT dan working space secara bersama-sama menyumbang 11 persen dan 75 persen pendapatan CBD secara keseluruhan. Pertumbuhan di sektor-sektor ini mungkin saja melambat, tapi tidak mungkin mengalami penurunan.

Tren di Asia tersebut menggambarkan pertumbuhan lebih cepat dibanding dengan pasar di perkotaan besar Eropa dan Amerika Serikat. Sektor TMT telah menjadi pendorong utama pertumbuhan di pasar perkantoran London sejak lama karena didorong ekspansi perusahaan besar seperti Google dan Facebook. Tapi, sampai akhir 2018, dominasinya hanya mencapai 10 persen dari total stok di London.

Kecepatan London bahkan terkesan menjenuhkan dibanding dengan kota lain seperti Bangalore atau Shenzhen. Di kedua kota tersebut, kelompok teknologi dan media sudah mendominasi hingga 48 persen dan 20 persen dari properti keseluruhan.

Sementara itu, untuk sektor working space, pertumbuhan di Amerika sudah berlangsung sejak sekitar dua tahun lalu. Dalam 18 bulan terakhir, ruang kerja fleksibel di Negeri Paman Sam telah menyumbang sepertiga dari sewa kantor di perkotaan. Seperti di Asia, operator working space mulai mengalihkan target dari perusahaan rintisan ke perusahaan besar.

Data yang dimiliki Colliers memperlihatkan, ruang kerja fleksibel lebih banyak terfokus di daerah yang tech-driven atau banyak digerakkan oleh teknololgi. Ruang kerja fleksibel juga berkerumun di kota berupah tinggi dan pasar yang memiliki konsentrasi tinggi dari perusahaan jasa profesional.

Direktur Eksekutif Asia Research di Colliers International Andrew Haskins mengatakan, perubahan sektor penyewa kantor di kawasan CBD turut memberikan pengaruh pada desain kantor. Perubahan ini disebabkan sektor TMT dan operator working space cenderung lebih menghargai fleksibilitas, efisiensi penggunaan ruang dan ambien pengalaman dibanding dengan sektor keuangan yang mendominasi CBD beberapa waktu lalu.

Setidaknya ada empat layout kantor yang harus dimiliki kantor di kawasan CBD untuk menarik dua sektor ini. Salah satunya, kemudahan akses dalam menciptakan pengalaman dan hiburan baru. Selain itu, mereka juga harus memiliki beberapa pintu masuk.

"Mengurangi kebutuhan ruang IT dengan pengatur suhu di dalam gedung dan adanya ruang relaksasi," kata Haskins.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA