Saturday, 5 Rajab 1441 / 29 February 2020

Saturday, 5 Rajab 1441 / 29 February 2020

Potensi Bencana Hidrometereologi Diprediksi Masih Terjadi

Kamis 07 Mar 2019 16:30 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Muhammad Hafil

Bencana alam (ilustrasi)

Bencana alam (ilustrasi)

Foto: Dok Republika.co.id
Masyarakat diminta waspadai potensi bencana hidrometereologi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi curah hujan tinggi yang bisa memicu bencana hidrometeorologi. Ini bisa terjadi di beberapa wilayah Indonesia hingga pertengahan Maret 2019.

Kepala Bagian Humas BMKG Akhmad Taufan Maulana mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada pada periode awal Maret. Khususnya dampak dari potensi curah hujan tinggi yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin di beberapa daerah Tanah Air.

Baca Juga

"Kondisi ini dapat meningkat hingga pertengahan Maret 2019," ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (7/3).

Ia menyebut wilayah-wilayah yang berpotensi hujan lebat antara lain Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung. Kemudian di Jawa yaitu di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Kemudian di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kemudian di Kalimantan yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan. Di Pulau Sulawesi yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Selain curah hujan yang diperkirakan meningkat di wilayah-wilayah itu, ia mengingatkan potensi gelombang tinggi 2,5 hingga 4 meter yang diperkirakan terjadi di perairan-perairan seperti Perairan Selatan Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Selat Bali bagian Selatan, Samudera Hindia Barat Kepulauan Mentawai hingga Lampung, Samudera Hindia Selatan Pulau Jawa hingga Bali.

Taufan menjelaskan, memasuki awal Maret 2019 beberapa fenomena atmosfer terpantau muncul secara bersamaan. Fenomena-fenomena tersebut dapat membawa konsekuensi meningkatnya potensi curah hujan tinggi di kawasan Indonesia.

"Saat ini teridentifikasi adanya aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) di Samudra Hindia. MJO merupakan fenomena gelombang atmosfer yang bergerak merambat dari barat (Samudera Hindia) ke timur dan dapat meningkatkan potensi curah hujan di daerah yang dilaluinya," katanya.

Taufan menambahkan, MJO diprakirakan akan bergerak melintas wilayah Indonesia yang dapat bertahan hingga satu pekan ke depan. Kondisi ini menyebabkan masuknya aliran massa udara basah dari Samudera Hindia ke wilayah Indonesia, khususnya di Indonesia bagian Barat dan Tengah, yang membawa dampak meningkatnya potensi curah hujan di wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, hingga Sulawesi.

Selain MJO, dia menyebut dari analisis pola pergerakan angin, BMKG mendeteksi adanya sirkulasi siklonik di Samudera Hindia Barat Sumatra yang membentuk daerah pertemuan angin cukup konsisten di wilayah Sumatra, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jawa. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA