Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

JK: Kerja Sama Indonesia-Australia Targetkan Pasar Global

Senin 04 Mar 2019 15:42 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Ratna Puspita

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla saat menghadiri acara Indonesia-Australia Comprehensive Economic Agreement (IA-CEPA) dan Business Forum di Hotel JS Luwansa, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (4/3).

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla saat menghadiri acara Indonesia-Australia Comprehensive Economic Agreement (IA-CEPA) dan Business Forum di Hotel JS Luwansa, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (4/3).

Foto: Dok Setwapres
Kerja sama dua negara dalam bidang industri bahan-bahan makanan maupun daging sapi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) menyebut kerja sama strategis sektor swasta dalam perjanjian Indonesia dan Australia Comprehensive Economic Agreement (IA-CEPA) bukan hanya menargetkan pasar di masing-masing negara. Menurut dia, kerja sama strategis kedua negara untuk menyasar pasar global.

"Sebagai lokomotif ekonomi, kolaborasi strategis antara sektor swasta Indonesia dan Australia bukan untuk menargetkan satu sama lain pasar, tetapi untuk bermitra untuk menargetkan pasar ketiga," kata JK saat memberi sambutan di acara IA-CEPA dan Business Forum di Hotel JS Luwansa, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (4/3).

Ia mencontohkan kerja sama dua negara dalam bidang industri bahan-bahan makanan maupun daging sapi. Hal itu karena kebutuhan bahan-bahan tersebut semakin meningkat.

"Misalnya membangun industri daging sapi untuk memenuhi wilayah Timur Tengah dan Indonesia atau membangun industri makanan menggunakan bahan-bahan bersumber dari Australia, diproduksi di Indonesia untuk pasar global," kata JK.

Kendati demikian, JK menekankan komitmen kedua negara untuk sepenuhnya mengimplementasikan perjanjian tersebut. Sebab, perjanjian IA-CEPA yang memberi keuntungan bagi kedua negara tidak akan terlaksana jika tidak diimplementasikan kedua negara.

"IA-CEPA tidak akan berarti banyak jika tidak sepenuhnya diimplementasikan, mendesak kedua belah pihak untuk mengadakan proses ratifikasi cepat," kata JK.

Ia juga meminta sosialisasi dan advokasi perjanjian tersebut kepada semua pemangku kepentingan. Dengan begitu, semua orang dapat memahami perjanjian dan dapat mengambil keuntungan dari manfaat perjanjian tersebut.

"Mengintensifkan forum bisnis dan kontak antara kedua belah pihak untuk menciptakan pemahaman yang lebih luas tentang negara kita masing-masing," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA