Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Harga Minyak Jatuh karena Kekhawatiran Permintaan Global

Sabtu 02 Mar 2019 12:22 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Harga minyak dunia (ilustrasi).

Harga minyak dunia (ilustrasi).

Foto: REUTERS/Max Rossi
Analis makin pesimis terhadap prospek kenaikan harga yang signifikan tahun ini.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak jatuh sekitar dua persen pada akhir perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (2/3) pagi WIB. Harga minyak turun sekitar tiga persen pada pekan ini. Hal ini dipicu kekhawatiran atas pertumbuhan permintaan global setelah data manufaktur AS lemah membayangi pengurangan pasokan yang dipimpin OPEC serta sanksi-sanksi terhadap Venezuela dan Iran.

Setelah menguat di awal sesi ke level tertinggi tiga bulan, minyak mentah berjangka AS berubah turun tajam. Indeks aktivitas manufaktur ISM (Institute for Supply Management) Februari merosot ke level terendah sejak November 2016, dan berada di bawah ekspektasi.

Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April turun 1,42 dolar AS atau 2,5 persen menjadi menetap pada 55,80 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, setelah menyentuh 57,88 dolar AS, tingkat tertinggi sejak pertengahan November tahun lalu.

Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei ditutup 1,24 dolar AS atau 1,9 persen lebih rendah menjadi 65,07 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Meskipun mencapai level tertinggi mereka sejak pertengahan November pekan ini, minyak mentah berjangka Brent mengakhiri pekan ini 3,3 persen lebih rendah dan WTI turun 2,7 persen.

"Secara global, jika perlambatan ekonomi menghadang kami, itu adalah berita buruk bagi harga minyak," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York.

Data menambah kekhawatiran bahwa permintaan sedang menurun secara global. Sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan para analis telah semakin pesimis terhadap prospek kenaikan harga yang signifikan tahun ini. Konsumsi bahan bakar global diperkirakan akan turun tahun ini dalam menghadapi perlambatan ekonomi yang luas.

Aktivitas pabrik Cina pada Februari turun untuk bulan ketiga berturut-turut, karena ekonomi terbesar kedua dunia itu terus berjuang dengan lemahnya pesanan ekspor, sebuah survei swasta menunjukkan pada Jumat (1/3).

Pelemahan juga dirasakan di seluruh wilayah yang lebih luas. Ekspor Korea Selatan mengalami kontraksi paling cepat dalam hampir tiga tahun pada Februari, karena permintaan dari Cina semakin melemah.

Meskipun demikian, konsumsi bahan bakar, terutama di negara-negara berkembang Asia yang merupakan pendorong utama permintaan minyak global, sejauh ini masih bertahan. Konsumsi diesel India, misalnya, diperkirakan akan naik ke rekor tahun ini di tengah pertumbuhan ekonomi sekitar tujuh persen.

Penurunan permintaan potensial dapat mengimbangi upaya produsen-produsen untuk mengekang kelebihan pasokan global. Ke-14 anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memproduksi 30,68 juta barel per hari (bph) pada Februari, sebuah survei Reuters menunjukkan, turun 300.000 barel per hari dari Januari dan total OPEC terendah sejak 2015.

Di Venezuela, ekspor minyak telah anjlok 40 persen menjadi sekitar 920 ribu barel per hari sejak pemerintah AS menjatuhkan sanksi-sanksi pada industri perminyakan pada 28 Januari. OPEC, di mana Venezuela adalah anggota pendiri, sedang memimpin upaya-upaya untuk menahan sekitar 1,2 juta barel per hari pasokan dari pasar untuk menopang harga. Venezuela dibebaskan dari pemotongan.

Penurunan produksi OPEC terjadi pada saat Amerika Serikat memompa minyak pada tingkat tertinggi, dengan data terbaru menunjukkan produksi mencapai rekor tertinggi sepanjang masa untuk minggu kedua berturut-turut.

Namun, perusahaan-perusahaan energi AS pekan ini memangkas jumlah rig minyak yang beroperasi ke level terendah dalam hampir sembilan bulan. Hal ini disebabkan karena beberapa produsen menindaklanjuti rencana untuk memotong pengeluaran meskipun terjadi kenaikan lebih dari 20 persen minyak mentah berjangka sejauh tahun ini.

Berdasarkan laporan perusahaan jasa energi General Electric Co Baker Hughes dalam laporan yang dipantau pada Jumat (1/3), pengebor mengurangi 10 rig minyak dalam pekan yang berakhir 1 Maret, sehingga jumlah totalnya turun menjadi 843 rig, terendah sejak Mei 2018.

Provinsi penghasil minyak utama Kanada, Alberta, pada Kamis (28/2) meningkatkan jumlah minyak mentah yang perusahaan-perusahaan dapat produksi pada April menjadi 3,66 juta barel per hari, meningkat 100 ribu barel per hari dari batas yang diberlakukan pada Januari.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA