Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Hotel di Malang Mulai Kurangi Penggunaan Plastik

Kamis 28 Feb 2019 21:49 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Esthi Maharani

 Savana Hotel & Convention Malang memiliki program pengurangan penggunaan  sedotan plastik sejak awal Februari 2019.

Savana Hotel & Convention Malang memiliki program pengurangan penggunaan sedotan plastik sejak awal Februari 2019.

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Telah ada 25 pihak yang mendukung gerakan mengurangi sedotan plastik ini.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Gerakan mengurangi sampah plastik terus digenjot oleh sejumlah aktivis di dunia maupun Indonesia. Tidak hanya masyarakat umum, pengelola hotel, kafe dan restoran pun didorong untuk terlibat di dalamnya.

Founder Climate Change Frontier, Eko Baskoro menjelaskan, komunitasnya telah meluncurkan kampanye mengurangi penggunaan sedotan plastik sejak 15 Februari 2019. "Tujuanya untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik, yang secara khusus ditunjukkan kepada hotel, cafe dan restoran," jelas Baskoro saat ditemui Republika di Savana Hotel & Convention Malang, belum lama ini.

Baskoro tak menampik, gerakan mengurangi penggunaan plastik telah dilakukan banyak pihak. Namun sayangnya gerakan ini lebih menitikberatkan kepada masyarakat umum. Sementara untuk tempat-tempat penghasil sampah terbanyak seperti hotel, cafe dan restoran belum terfokus.

"Kita mulai dari situ, kita ajak mereka untuk mengurangi sampah sedotan plastik," katanya.

Hingga saat ini, Baskoro mengungkapkan, telah ada 25 pihak yang mendukung gerakan mengurangi sedotan plastik ini. Enam di antaranya hotel-hotel yang berada di Malang, Batu, Surabaya dan Bondowoso. Salah satu hotel pertama yang telah berkomitmen dalam gerak ini, yakni Savana Hotel & Convention Malang.

Di dalam prosesnya, Baskoro mengaku, mengalami banyak tantangan ketika mengajak pengelola hotel dalam gerakan ini. Mereka khawatir akan mengecewakan konsumen apabila menerapkan aksi tersebut. "Alasannya kasihan kalau tidak dikasih. Lalu kita sampaikan, konsumen enggak akan meninggalkan kalau kita enggak sediakan sedotan plastik. Walau tanpa sedotan, mereka tetap bisa minum. Lagipula enggak ada syarat khusus minuman yang harus pakai sedotan," tegasnya.

Komunitas Baskoro sendiri lebih kepada menyarankan pihak hotel untuk terlibat dalam kampanye pengurangan sedotan plastik ini. Dengan kata lain, pihaknya tidak memaksa hotel mengganti sedotan plastik menjadi bambu atau berbahan stainless. Pasalnya, dia tahu betul bahwa harga bahan-bahan sedotan tersebut cukup mahal.

Dengan adanya gerakan ini, Baskoro berharap, akan lebih banyak lagi pihak yang terlibat. Tak hanya di Jawa Timur tapi juga seluruh Indonesia agar lebih mencintai lingkungan. Bahkan, ia berharap pemerintah bisa membuat aturan pelarangan penggunaan sedotan plastik di 2020.

Di kesempatan serupa, General Manager (GM), Savana Hotel & Convention Malang, Suprapto mengaku, awalnya sempat ragu untuk terlibat dalam kampanye sedotan plastik tersebut. Sebab, sedotan plastik bagian dari salah satu hal yang perlu disediakan hotel untuk konsumen. Namun setelah ditelusuri manfaat dari sisi lingkungan dan kesehatan, pihaknya akhirnya mau mendukung kampanye ini.

Untuk membuktikan dukungan gerakan, pengelola hotel sengaja memasang banner gerakan mengurangi penggunaan sedotan plastik di lantai pertama. Setiap konsumen yang datang tentu akan melihat tulisan kampanye tersebut. Ditambah lagi, hotel juga menyediakan lembaran gerakan serupa di setiap kamar.

Di dalam pelaksanaannya, Suprapto tak menampik, menemukan berbagai tanggapan dari konsumen. "Mereka pasti ada yang tanya, 'kok sedotannya tidak ada?' Di situ kami lakukan edukasi pada tamu kalau tentang kepedulian hotel terhadap lingkungan dengan mengurangi sedotan plastik," terang Suprapto.

Beberapa tamu ada yang mengikuti gerakan tersebut, tapi sebagian lainnya menolak. Tamu yang sebagian besar berusia muda lebih memilih tetap menggunakan sedotan plastik. Sementara untuk konsumen berusia di atas 40 lebih banyak mengikuti ajakan peduli lingkungan tersebut.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA