Tuesday, 3 Jumadil Awwal 1443 / 07 December 2021

Tuesday, 3 Jumadil Awwal 1443 / 07 December 2021

BCA Syariah Proyeksikan Ekonomi 2019 Masih akan Sulit

Kamis 28 Feb 2019 17:24 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya

Paparan Kinerja 2018. Presiden Direktur BCA Syariah John Kosasih (kedua kiri), Direktur Rickyadi Widjaja, Direktur Houda Muljanti, dan Direktur Tantri Indrawati (dari kiri) berbincang sebelum Paparan Kinerja PT Bank BCA Syariah 2018, di Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Paparan Kinerja 2018. Presiden Direktur BCA Syariah John Kosasih (kedua kiri), Direktur Rickyadi Widjaja, Direktur Houda Muljanti, dan Direktur Tantri Indrawati (dari kiri) berbincang sebelum Paparan Kinerja PT Bank BCA Syariah 2018, di Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Foto: Republika/ Wihdan
Pertumbuhan ekonomi negara emerging market diperkirakan terus turun pada 2019

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Satuan Kerja Keuangan dan Perencanaan Perusahaan, BCA Syariah, Pranata Nazamuddin menyampaikan kondisi ekonomi 2019 masih akan sulit. Sejumlah proyeksi dari Bank Dunia dan IMF pesimis dalam menentukan pertumbuhan ekonomi.

"Ekonomi dunia pada 2019 diproyeksi 3,5 persen, turun dari realisasi 2018 yakni 3,7 persen," kata Pranata di Kantor Pusat BCA Syariah, Kamis (28/2).

Sebelumnya IMF dan Bank Dunia optimis pertumbuhan ekonomi 2018 bisa 3,9 persen. Akibat sejumlah tantangan seperti perang dagang, kondisi ekonomi merosot. Diprediksi tahun 2020 pun akan turun lagi.

"Ekonomi dunia itu akan semakin sulit, dunia pesimis," kata dia.

Negara maju seperti Eropa, Amerika Serikat, Jepang pun mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi. Pada 2018 tercatat 2,3 persen. Pada 2019 diproyeksi hanya 2 persen saja. Hanya AS yang mencatatkan pertumbuhan prima yakni 2,2 persen.

Untuk negara emerging market, pertumbuhan ekonomi diperkirakan terus turun. IMF memprediksi hanya India yang masih bisa bertahan. India mampu meningkatkan perekonomiannya menjadi 7,3 persen pada 2018 dari 6,7 persen pada 2017. Tahun 2019 diperkirakan bisa meningkat jadi 7,5 persen.

"Alasannya, karena sumber daya manusia mereka mumpuni," kata Pranata. Di saat negara-negara emerging market lain mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi.

Jika melihat Indonesia, proyeksi pada 2019 diperkirakan turun dari 5,1 persen pada 2018. Pranata mengatakan ini akan berimbas signifikan pada industri perbankan nasional. BOPO perbankan naik karena adanya kenaikan biaya dana.

Dana Pihak Ketiga (DPK) hanya tumbuh 6,4 persen per Desember 2018. Aset tumbuh 9,2 persen dan kredit 11,8 persen. Untuk perbankan syariah sendiri, pertumbuhan DPK merosot dari 19,9 persen pada 2017 menjadi 11,0 pada 2018.

Sementara itu, pembiayaan turun dari 15,2 persen pada 2017 menjadi 12,1 persen. Total aset meluncur dari 19,0 persen jadi 12,5 persen.

Secara umum, perbankan konvensional pun mengalami penurunan dari aset dan DPK. Aset turun dari 9,8 persen jadi 9,2 persen. Sementara DPK 9,4 persen jadi 6,4 persen. Pembiayaan tumbuh cukup signifikan dari 8,2 persen jadi 11,8 persen.

Maka dari itu, Direktur Utama BCA Syariah, John Kosasih menetapkan target pertumbuhan moderat pada 2019. Meski laba tahun 2018 naik 22 persen, pada 2019 pertumbuhan bisnis hanya ditarget 10-15 persen untuk keseluruhan komponen.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA