Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Menperin: Tak Ada Serbuan Tenaga Asing Cina

Ahad 24 Feb 2019 17:40 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Teguh Firmansyah

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto

Foto: Republika TV/Surya Dinata
Di Morowali ada 27 ribu tenaga lokal dan 3.000 asal Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perindustrian Airlangga Hartato membantah ada serbuan tenaga kerja asing asal Cina dalam pengembangan pembangunan industri sektor manufaktur di wilayah luar Jawa, khususnya di Indonesia bagian Timur. Pengembangan dilakukan sebagai upaya hilirisasi industri.

“Tak benar ada banyak tenaga kerja asing asal Cina,” kata Menperin Airlangga dalam rilis pers yang diterima Republika.co.id, Ahad (24/2).

Menurutnya, sektor industri pengolahan nonmigas di luar Jawa sebesar 60 persen dibanding yang ada di Jawa. Oleh karena itu, pengembangan pembangunan industri baik secara infrastruktur maupun pengembangan sumber daya manusia (SDM) diambil dari kapasitas daerah dan nasional.

Baca Juga

Baca juga, Banyak TKA Cina yang Bukan Tenaga Ahli.

Di wilayah Indonesia Timur, pada periode 2015-2017, kawasan industri yang telah beroperasi di Provinsi Sulawesi Tengah di antaranya adalah kawasan industri Morowali dan Palu. Selanjutnya ada kawasan industri di Banteang, Sulawesi Selatan dan juga kawasan industri Konawe di sulawesi Tenggara.

“Untuk kawasan industri di Morowali, Bantaeng, dan Konawe kami fokuskan pada industri berbasis pengolahan nikel. Kalau di Palu kami jadikan klaster industri berbasis olahan rotan dan agro,” kata dia.

Dia memaparkan, seluruh kawasan industri tersebut masuk ke dalam proyek strategis nasional (PSN). Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kawasan industri yang sedang dalam tahapan konstruksi ada di Bitung, Sulawesi Utara yang ditargetkan rampung dan dapat beroperasi pada 2019.

Kawasan tersebut difokuskan untuk pengembangan industri pengolahan perikanan dan kelapa beserta produk turunannya yang diminati pasar domestik dan ekspor. Dia mencontohkan, wilayah percontohan hilirisasi ada di Morowali dengan produksi nickel ore diolah menjadi stainless steel.

“Kalau nickel ore dijual itu sekitar 40 sampai 60 dollar AS, tapi ketika menjadi stainless steel maka harganya bisa menjadi 2.000 dollar AS,” katanya.

Dia menyatakan, dengan pengembangan pembangunan di sektor-sektor tersebut, penyerapan tenaga kerja lokal dapat terserap dengan maksimal. Di Morowali, kata dia, terdapat 30 ribu tenaga kerja dengan komposisi 27 ribu tenaga lokal dan tiga ribu tenaga kerja asing asal Cina.

Menurutnya, jumlah tenaga kerja lokal masih mendominasi dalam cakupan penyerapan tenaga kerja di bidang pengembangan industri nasional.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA