Minggu, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Minggu, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

MRT Diyakini tak Pengaruhi Penjualan Mobil

Jumat 22 Feb 2019 16:43 WIB

Red: Indira Rezkisari

Rencana Beroperasi Maret 2019. Moda Raya Terpadu (MRT) saat ujicoba dari Stasiun Bundaran HI ke Stasiun Lebak Bulus, Jakarta, Rabu (20/2/2019).

Rencana Beroperasi Maret 2019. Moda Raya Terpadu (MRT) saat ujicoba dari Stasiun Bundaran HI ke Stasiun Lebak Bulus, Jakarta, Rabu (20/2/2019).

Foto: Republika/ Wihdan
MRT sebatas akan mengubah pola penggunaan kendaraan di masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasar otomotif di wilayah Jakarta dan sekitarnya dinilai tidak akan terpengaruh dengan kehadiran Moda Raya Terpadu atau Mass Rapid Transit (MRT). MRT menurut rencana beroperasi secara komersial pada Maret 2019.

Baca Juga

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie D Sugiarto mengatakan kehadiran sistem transportasi umum tidak akan mempengaruhi penjualan produk otomotif. Namun bisa jadi mengubah pola masyarakat dalam menggunakan kendaraannya.

"Tentunya penjualan otomotif akan bergantung pada pertumbuhan ekonomi, juga pendapatan per kapita. Bukan tergantung pada sistem transportasi. Saya melihat di negara dengan sistem transportasi mapan, dengan angkutan massal yang sudah baik misalnya Singapura sampai Hong Kong melalui jaringan bus, LRT, MRT, hingga monorail, penjualan mobil mereka tidak berkurang," kata Jongkie.

Menurut Jongkie, pendapatan masyarakat merupakan faktor utama yang mempengaruhi penjualan produk otomotif. Sedangkan kehadiran transportasi umum yang baik layaknya negara maju, justru memudahkan mobilitas masyarakat saat hari kerja, dan mereka bisa menggunakan kendaraan pribadi saat akhir pekan.

"Jika pendapatannya meningkat, mereka akan tetap membeli mobil. Kalau pendapatannya termasuk golongan mampu beli, saya yakin mereka tetap membeli. Tapi bisa yang berubah adalah penggunaannya. Jika Senin sampai Jumat pakai angkutan massal, nanti akhir pekan pakai mobil bersama-sama keluarga, entah makan bareng atau ke mana pun sesuai kebutuhan," kata Wakil Presiden Komisaris PT Hyundai Mobil Indonesia itu.

Kendati demikian, Jongkie tidak menampik apabila ada calon konsumen yang mengurungkan niatnya memiliki kendaraan pribadi apabila sistem transportasi di Indonesia semakin mapan.

"Memang ada persentasi ke sana, tapi kecil," ucap Jongkie. Ia menambahkan, mobil akan tetap dibeli sesuai kebutuhan.

Jodie O'tania selaku Vice President Corporate Communication BMW Group Indonesia juga menuturkan hal yang sama, yakni kehadiran MRT tidak akan berpengaruh signifikan pada penjualan otomotif. Ia meyakini ada saja konsumen mobil mewah yang menggunakan transportasi massal yang nyaman. Namun mereka akan menggunakan mobil pribadinya saat libur atau akhir pekan guna menunjang gaya hidup.

"Kami bermain di segmen premium dengan karakter konsumen premium yang berbeda. Jika memang mereka pakai transportasi massal, bisa saja saat weekend pakai mobil bersama keluarga. Jadi pengaruhnya (MRT terhadap penjualan otomotif) tidak signifikan," kata Jodie seusai peluncuran BMW X4 di Jakarta.

Peluang

Jongkie mengatakan, rencana kehadiran MRT Jakarta fase I rute Lebak Bulus-Bundaran HI juga bisa dijadikan peluang oleh produsen kendaraan komersial untuk menawarkan produk bus kecil atau sedang, sebagai armada pengumpan dari wilayah permukiman menuju stasiun MRT. Kendati menurut rencana akan terdapat sejumlah halte Transjakarta yang terintegrasi dengan stasiun MRT, namun menurut dia, apabila pengguna MRT banyak dari daerah penyangga, misalnya Tangerang Selatan, armada bus pengumpan akan dibutuhkan guna memudahkan akses para penumpang.

Kemudahan akses tentunya akan menjadi stimulus bagi masyarakat untuk beralih menggunakan transportasi umum. "Itu angkutan umum bus, baik sedang atau kecil, jadi mungkin saja akan ada kebutuhan untuk kendaraan komersial sebagai pengumpan. Dari rumah naik bus ke stasiun MRT," kata Jongkie.

Pembangunan infrastruktur, mulai sistem transportasi hingga pembangunan jalan tol di daerah, turut memberikan stimulus positif bagi industri otomotif. Menurut dia, sistem transportasi massal yang mapan berpotensi mengurangi kemacetan dan menciptakan mobilitas yang cepat kepada warganya, yang tetap bisa menggunakan kendaraan pribadi saat akhir pekan.

Pembangunan infrastruktur jalan tol, katanya, juga membuat pemilik kendaraan tidak ragu menjajal kemampuan kendaraan pribadinya untuk menempuh perjalanan keluar kota bersama keluarga.

"Pastinya mendukung positif pembangunan infrastruktur. Pengguna mobil akan menikmati kenyamanan, kedinamisan, dan performa kendaraan saat melakukan perjalanan jarak jauh," kata dia.

Jongkie mengatakan, tidak hanya kendaran komersial yang menikmati akses jalan tol di luar kota untuk pengiriman barang. Pemilik kendaraan pribadi juga menikmati keleluasaan, efisiensi waktu dan biaya saat mengemudi keluar kota.

"Jika pakai jalan biasa, berapa kali injak rem dan berapa biaya bensin yang dihabiskan? coba hitung. Tol memang berbiaya, tapi kendaraan komersial dan penumpang sama-sama menikmatinya," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA