Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Belum Tayang, Captain Marvel Diserang Komentar Negatif

Rabu 20 Feb 2019 12:40 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Indira Rezkisari

Captain Marvel.

Captain Marvel.

Foto: dok Marvel
Publik mengkritik minimnya sosok perempuan yang digambarkan sebagai pahlawan super.

REPUBLIKA.CO.ID, LOS ANGELES -- Film Captain Marvel baru akan tayang di bioskop pada 8 Maret. Belum tayang namun film sudah mendapatkan komentar negatif dari warganet.

Situs ulasan film oleh penonton, Rotten Tomatoes, saat ini sedang dibanjiri oleh banyak akun yang mengklaim tidak tertarik menonton film solo perdana pahlawan perempuan dari Marvel Studios itu. Akun-akun tersebut berusaha menjatuhkan antusias penyambutan film tersebut dengan mengatakan itu akan menjadi tontonan yang buruk.

"Mengapa Marvel memutuskan untuk melemparkan sesuatu isu rasis yang sangat vokal dan seksis yang ditujukan pada pria kulit putih, aku tidak akan pernah tahu. Jika Robert Downey Jr. mulai mengatakan dia tidak peduli dengan pendapat orang kulit putih berusia 40 tahun dan dia tidak ingin diwawancarai oleh wanita kulit putih karena tidak cukup inklusif, orang akan kehilangan akal sehat," tulis salah satu akun anonim, dikutip dari The Hollywood Reporter, Rabu (20/2).

Komentar tersebut muncul setelah ucapan pemeran utama Captain Marvel, Brie Larson, baru-baru ini. Dia menyatakan perlunya peningkatan keragaman di kalangan kritikus film dan jurnalis.

Pesan-pesan negatif yang beredar sebenarnya bukan ulasan tentang film Captain Marvel. Tidak ada satu pun dari orang-orang itu yang benar-benar melihat film yang belum dirilis  di pasaran.

Tapi, memang sebuah fakta Marvel akhirnya merilis sebuah film dengan seorang perempuan di garis depan. Aktor yang pernah berperan dalam film-filmnya berbicara tentang isu-isu dunia nyata seputar seksisme, rasisme dan kemampuan.

Metode komentar negatif sebelum penayangan ini pun terjadi ketika akan dirilisnya film Black Panther tahun lalu. Kondisi ini pun terus terjadi pada film-film waralaba besar, seperti Star Wars.

Banyak pihak harus bersaing dengan semakin membesarnya suara fanatisme daring dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terjadi karena rumah produksi mulai berubah haluan dengan memberikan porsi beragam dan menggeser keberadaan pahlawan laki-laki berkulit putih.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA