Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Perang Membunuh 100 Ribu Bayi Setiap Tahun

Senin 18 Feb 2019 07:40 WIB

Rep: MGROL116/ Red: Ani Nursalikah

Dua orang anak memperoleh penanganan medis setelah terpapar gas beracun di Desa Shifunieh, Ghouta Timur, Suriah.

Dua orang anak memperoleh penanganan medis setelah terpapar gas beracun di Desa Shifunieh, Ghouta Timur, Suriah.

Foto: Mohammed Badra/EPA-EFE
Anak juga merasakan kelaparan hingga penolakan bantuan.

REPUBLIKA.CO.ID, MUENCHEN -- Sedikitnya 100 ribu bayi meninggal setiap tahun karena konflik bersenjata. Save the Children International mengatakan dampak lainnya, mulai dari kelaparan hingga penolakan bantuan.

Dikutip di Malay Mail, di 10 negara yang paling terpukul, diperkirakan 550 ribu bayi meninggal akibat dari pertempuran antara 2013 sampai 2017. Mereka menyerah pada perang dan dampaknya, di antaranya kelaparan, kerusakan rumah sakit dan infrastruktur, kurangnya akses ke perawatan kesehatan dan sanitasi, dan penolakan bantuan.

Kabarnya anak-anak menghadapi ancaman terbunuh atau cacat, direkrut oleh kelompok-kelompok bersenjata, diculik, atau menjadi korban kekerasan seksual. "Hampir satu dari lima anak tinggal di daerah yang terkena dampak konflik, lebih dari setiap saat dalam dua dekade terakhir," kata CEO badan amal Helle Thorning-Schmidt.

Dia mengatakan dalam laporan yang dirilis di Konferensi Keamanan Muenchen, jumlah anak yang terbunuh atau cacat lebih dari tiga kali lipat, dan mereka melihat peningkatan yang mengkhawatirkan dalam penggunaan bantuan sebagai senjata perang. Save the Children mengatakan sebuah penelitian yang dilakukan dari Peace Research Institute Oslo telah menemukan 420 juta anak-anak tinggal di daerah yang terkena dampak konflik pada 2017.

Ini mewakili 18 persen dari semua anak di seluruh dunia dan naik 30 juta dari tahun sebelumnya. Negara-negara yang paling terpukul adalah Afghanistan, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Irak, Mali, Nigeria, Somalia, Sudan Selatan, Suriah, dan Yaman.

Badan itu mengatakan jumlah total kematian akibat efek tidak langsung selama periode lima tahun melonjak menjadi 870 ribu, termasuk anak di bawah usia lima tahun. Ia juga mengeluarkan daftar rekomendasi untuk membantu melindungi anak-anak, dari langkah-langkah seperti berkomitmen hingga usia minimum 18 tahun untuk perekrutan militer hingga menghindari penggunaan senjata peledak di daerah-daerah berpenduduk.

Thorning-Schmidt mengatakan meningkatnya jumlah korban anak sangat mengkhawatirkan. "Sangat mengejutkan pada abad ke-21 kita akan mundur pada prinsip dan standar moral yang begitu sederhana, anak-anak dan warga sipil tidak boleh menjadi sasaran," ujarnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA